Thu,9 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. AI Berdampak pada Hampir 80 Juta Pekerja di ASEAN

AI Berdampak pada Hampir 80 Juta Pekerja di ASEAN

ai-berdampak-pada-hampir-80-juta-pekerja-di-asean
AI Berdampak pada Hampir 80 Juta Pekerja di ASEAN
service

Sebuah studi terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan bahwa akal imitasi generatif (GenAI) diperkirakan akan mempengaruhi kehidupan kerja hampir 80 juta orang di kawasan ASEAN. Namun, hanya sebagian kecil yang menekuni pekerjaan dengan tingkat paparan tertinggi GenAI, dan hingga saat ini belum ada bukti terjadinya kehilangan pekerjaan dalam skala besar.

Laporan berjudul “Generative AI and labour markets in ASEAN: Significant exposure, limited disruption, uneven preparedness” mengkaji implikasi GenAI terhadap pekerjaan dan pasar kerja di 11 negara anggota ASEAN. Kajian ini mempertimbangkan tingkat paparan pekerjaan terhadap GenAI serta pola adopsinya yang mulai berkembang.

Berdasarkan estimasi ILO untuk tahun 2025, 22,9 persen dari total pekerja di ASEAN—setara dengan hampir 80 juta pekerja—berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap GenAI di atas tingkat minimal. Namun, hanya 3,3 persen dari angkatan kerja, atau sekitar 11,7 juta pekerja, yang bekerja pada kategori pekerjaan dengan tingkat paparan tertinggi. Sementara sekitar 67 persen pekerja masih berada pada pekerjaan yang tidak teridentifikasi memiliki paparan terhadap GenAI.

Di antara sembilan negara ASEAN yang memiliki ketersediaan data, Singapura mencatat proporsi tertinggi pekerja dengan tingkat paparan terhadap GenAI di atas tingkat minimal, yakni 42,2 persen dari total pekerja. Disusul oleh Filipina (28,1 persen), yang mencerminkan struktur ekonominya yang relatif berorientasi pada sektor jasa dan teknologi informasi; Indonesia (21,7 persen); Vietnam (20,8 persen); dan Thailand (20,6 persen).

Laporan itu juga mencatat jumlah pekerja pada pekerjaan dengan tingkat paparan tinggi terhadap GenAI terus meningkat di kawasan ASEAN. Namun demikian, laporan menegaskan “potensi terjadinya transformasi pasar kerja memang signifikan, tetapi gangguan besar terhadap lapangan kerja belum terlihat.”

Adopsi GenAI di kawasan ini masih berada pada tahap awal dan berlangsung secara tidak merata. Pemanfaatannya saat ini lebih banyak terkonsentrasi pada pekerjaan yang intensif teknologi, sementara penggunaannya di pekerjaan administrasi dan perkantoran—kendati memiliki tingkat paparan yang tinggi—masih relatif terbatas.

Laporan ini juga menunjukkan pekerja muda (usia 15–24 tahun) dan pekerja dewasa memiliki tingkat paparan terhadap GenAI yang relatif serupa. Namun demikian, terdapat kesenjangan gender yang cukup besar.

Perempuan memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat dibandingkan laki-laki untuk bekerja pada pekerjaan dengan tingkat paparan tinggi terhadap GenAI. Ini mencerminkan tingginya konsentrasi perempuan pada pekerjaan administratif, kesekretariatan dan profesi profesional.

Studi ini juga mengidentifikasi adanya kesenjangan kesiapan (preparedness gap) yang cukup lebar di kawasan ini. Singapura menjadi contoh ekosistem AI yang sangat kompetitif secara global berkat kombinasi infrastruktur digital yang maju, ketersediaan talenta yang kuat serta pendekatan pemerintah secara menyeluruh dalam implementasi strategi AI.

Untuk memastikan inovasi AI mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan pekerjaan yang berkualitas serta memberikan manfaat yang inklusif dan merata di seluruh ASEAN, laporan ini menggarisbawahi sejumlah prioritas regional. Prioritas tersebut meliputi tata kelola AI yang berpusat pada manusia, pengembangan keterampilan yang inklusif melalui perluasan program peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling).

Hal ini dengan perhatian khusus bagi perempuan dan kaum muda, dukungan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) guna mengatasi hambatan dalam mengadopsi AI. Selain itu, ada penguatan pertukaran pengetahuan dan koordinasi pengembangan sumber daya manusia di antara negara-negara anggota ASEAN.

“Memanfaatkan manfaat GenAI membutuhkan lebih dari sekadar akses terhadap teknologi,” ujar Christian Viegelahn, Ekonom ILO sekaligus penulis utama laporan tersebut.

Ia menyatakan peningkatan produktivitas bergantung pada investasi dalam modal manusia dan perlindungan sosial. “Pada akhirnya, masa depan pasar kerja akan lebih ditentukan oleh pilihan kebijakan yang membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, serta institusi, dibandingkan hanya oleh tingkat paparan terhadap AI semata,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.