Banyak orang tua baru menyadari anak mengalami stunting ketika tubuhnya tampak lebih pendek daripada teman sebayanya. Padahal, tanda awal stunting justru dapat terlihat jauh sebelum tinggi badan anak mengalami perlambatan, yakni ketika berat badan tidak mengalami kenaikan sesuai usianya.
Pesan ini disampaikan Profesor Irwanto dalam penyuluhan pencegahan stunting pada rangkaian pengabdian masyarakat kolaboratif Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga di Aula Pendopo Kantor Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro, Selasa, 7 Juli 2026. Lebih dari 100 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, dan kader PKK Kabupaten Bojonegoro.
Dalam pemaparannya, Irwanto menjelaskan anak bertubuh pendek tidak selalu mengalami stunting. Menurutnya, penyebab tubuh pendek bisa dari berbagai faktor, seperti keturunan, kelainan metabolik, penyakit kronis, maupun kelainan kromosom. Adapun stunting merupakan kondisi pendek akibat malnutrisi kronis. “Pendek belum tentu stunting, tetapi stunting sudah pasti pendek,” katanya.
Ia menambahkan proses terjadinya stunting berlangsung secara bertahap. Sebelum tinggi badan anak terpengaruh, pertumbuhan berat badan biasanya lebih dahulu melambat. “Berat badan adalah tanda awal stunting yang sangat jarang orang tua sadari. Pada usia dua hingga empat bulan, jika berat badan tidak naik, itu harus diwaspadai sebagai risiko stunting,” kata Irwanto.
Karena itu, ia mengimbau para orang tua untuk rutin memantau pertumbuhan anak melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan penyimpangan pertumbuhan.
Menurut Irwanto, pencegahan stunting paling efektif berlangsung pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode itu, peran orang tua sangat menentukan melalui pemenuhan gizi dan pemantauan pertumbuhan secara berkala.
“Manfaatkan Buku KIA dengan baik mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia lima tahun. Itu cara paling mudah untuk memantau pertumbuhan anak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga asupan gizi ibu selama kehamilan dan menyusui karena berpengaruh terhadap kualitas ASI dan tumbuh kembang anak. “Jaga makan ibu agar ASI yang dihasilkan berkualitas. Hal itu sangat berkorelasi dengan pertumbuhan badan, perkembangan otak, dan kesehatan anak,” katanya.
Irwanto menegaskan stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, perkembangan emosi, prestasi belajar, hingga produktivitas seseorang saat dewasa.
“Intervensi pemberian gizi pada anak harus dilakukan secara holistik agar pencegahan stunting dapat berjalan maksimal,” katanya.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, FKH Universitas Airlangga bersama Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Vokasi (FV), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), serta Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap masyarakat semakin memahami pentingnya memantau pertumbuhan anak sejak dini. Ini sebagai langkah mencegah stunting dan mewujudkan generasi yang lebih sehat.





Comments are closed.