Arina.id – Agustus, bulan resepsi kemerdekaan nasional yang dirayakan oleh seluruh lapis masyarakat Indonesia dengan berbagai acara. Di antaranya upacara bendera, tasyakuran dan istighatsah, berbagai macam perlombaan, dan parade karnaval budaya mulai dari tingkat desa hingga kabupaten/kota. Masyarakat menampilkan berbagai macam simbol-simbol adat, dan busana khas suku-suku yang ada di Nusantara dalam parade karnaval yang penuh akan makna keragaman sebagai satu bangsa.
Drama kemerdekaan juga banyak ditampilkan, berperan menjadi serdadu Belanda dan Jepang dengan membawa senapan mainan. Sebagian lainnya menjadi pribumi yang tertindas oleh kekejaman penjajah, sembari diiringi oleh alunan musik Gugur Bunga dengan biola maestro mendiang Idris Sardi. Karnaval yang digelar sarat akan makna penderitaan dan usaha keras para pendahulu yang berjuang mempertahankan negara dari para penjajah yang mungkin sudah terlupakan oleh generasi sekarang.
Ada yang menampilkan drama peperangan antar pejuang dengan serdadu penjajah, lengkap dengan senjata api dan bambu runcing. Para wanita yang menjadi relawan medis, sambil berjalan dalam parade yang disaksikan oleh banyak pasang mata, sembari diiringi oleh suara tembakan dan ledakan. Semua itu sarat akan makna perjuangan para pahlawan yang merebut bumi pertiwi dari cengkraman penjajah dengan usaha, doa, dan darah.
Namun kini, parade budaya dan drama kemerdekaan seperti itu sudah sangat jarang ditemukan di berbagai daerah. Karnaval agustusan berubah menjadi perlombaan joget antar warga yang diisi oleh wanita-wanita dengan busana dan gerakan yang tidak mencerminkan kemerdekaan sama sekali. Terlebih acara HUT RI diiringi oleh musik EDM (electronic dance music) dengan volume yang tidak wajar.
Karnaval era kini juga banyak yang menampilkan tontonan yang tidak edukatif. Seorang pria berdandan dan memakai busana wanita dan begitu juga sebaliknya. Para peserta karnaval pun menunjukkan gestur yang kurang pantas untuk ditonton oleh anak-anak dan menormalisasi dandanan yang menunjukkan sikap LGBT. Padahal pemerintah dan MUI sedang memerangi budaya LGBT dan memasukkannya dalam ancaman agama dan negara.
Karnaval dan Sound Horeg
Tidak hanya itu, karnaval era kini lebih sering diisi dengan parade Sound Horeg dengan volume yang membuat dada sesak dan tubuh bergetar, diiringi oleh jogetan penari wanita dan musik dari seorang DJ (disk jokey). Seakan kampung lokasi acara menjadi diskotik dan tempat hiburan malam yang terbuka untuk umum dan semua umur. Tentunya hal ini sama sekali tidak memuat konten-konten kemerdekaan, apalagi penghayatan akan resepsi kemerdekaan nasional.
Fenomena kemunculan sound horeg sebenarnya ditengarai dari kreativitas para tukang sound system untuk merakit pengeras suara dengan kualitas bass yang jernih dan tahan akan volume super keras dan musik-musik dengan bit tinggi. Akan tetapi, eksistensi sound horeg tidak bisa terlepas dari arogansi masyarakat yang saling beradu volume suara saat parade karnaval, terutama di momentum agustusan.
Hingga para penyedia jasa sound system memandang arogansi ini sebagai pangsa pasar baru yang mulai diminati oleh masyarakat. Fenomena ini lambat laun menjadi sebuah kenormalan dan menjadi budaya baru dan tontonan baru yang menjelma sebagai diskotik masuk kampung sebagaimana orkes melayu dan konser musik lainnya.
Arogansi itu terlihat ketika setiap kelompok dari warga masing-masing menyewa sound horeg. Setiap sound memutar lagu yang berbeda-beda, dan saling mengeraskan volume yang dihadapkan satu sama lain, seperti perang suara yang dimenangkan oleh sound yang paling keras.
Akal sehat seseorang pasti mempertanyakan apa yang dinikmati dari arogansi seperti itu? Musik apa yang bisa didengarkan dan dinikmati sedangkan semua sound memutar musik yang berbeda? Seakan layak untuk dikatakan sebagai polusi suara yang penuh arogansi dan egoisitas.
Kembalikan Karnaval seperti Zaman Dulu
Sound horeg, penari, penampilan pria berdandan seperti wanita, dan parade drama yang tidak ada hubungannya dengan tema dan topik kemerdekaan dan budaya lokal adalah bentuk tindakan yang bisa mencederai sakralitas resepsi kemerdekaan. Karnaval seharusnya diisi dengan hal-hal yang edukatif yang bisa memberikan pembelajaran kepada masyarakat terkait nasionalisme dan makna kemerdekaan dan perjuangan.
Budaya karnaval era kini tidak lepas dari perdebatan, terutama dari sudut pandang keislaman. Sound Horeg pernah menjadi perbincangan nasional pasca KH. Muhibbul Aman Aly, pengasuh PP. Raudlatul Ulum Besuk Kejayan Pasuruan, mengeluarkan fatwa keharaman sound horeg di tahun lalu dan kemudian mendapatkan dukungan dari MUI Provinsi Jawa Timur dengan fatwa No. 1 Tahun 2025.
Polemik pria berdandan seperti wanita dalam karnaval juga menjadi hal yang diperbincangkan di media sosial, terutama terkait keharamannya. Ahmad Karomi, LTN PWNU Jatim, dalam arina.id mencatat sebuah tulisan yang berjudul Laki-laki Berdandan Perempuan Saat Karnaval, Bagaimana Hukumnya? Ia secara jelas mengharamkan praktik ini dengan berlandaskan hadits riwayat Imam Bukhari no. 5546 dari Ibnu Abbas berikut:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ.
Artinya: “Rasulullah melaknat orang-orang yang menyerupai, pria menyerupai wanita, wanita menyerupai pria.”
Terkait keharaman jogetan penari wanita dengan iringan musik EDM bersuara bervolume super keras tidak perlu dalil Qur’an ataupun Hadits bagi masyarakat Muslim yang berakal sehat. Terlebih ketika para penarinya menggunakan pakaian yang kurang pantas, seperti terlalu tebuka, atau tertutup tatapi terlalu ketat, dengan jogetan yang mengundang syahwat para pria.
Perempuan yang seharusnya menjaga diri dan kehormatannya dari pandangan pria-pria liar di luaran rumah. Ia seharusnya tidak bersuara lembut gemulai dengan pria lain selain suaminya. Ia seharusnya tidak mempertontonkan lekuk tubuh indahnya kecuali hanya kepada suaminya. Dia justru melakukannya tanpa tekanan dan rasa berdosa.
Al-Qur’an mencatat bagaimana seharusnya sikap seorang wanita kepada pria lain yang dicerminkan dari dawuh yang ditujukan keapada istri-istri Rasulullah dalam surat al-Ahzab ayat 32 berikut:
يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ
Artinya: “Wahai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu merendahkan suara (dengan lemah lembut yang dibuat-buat) sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”
Melihat fenomena karnaval yang tidak lepas dari polemik-polemik ini, seharusnya masyarakat dan juga aparat kepolisian dan pemeritah baik pusat maupun daerah hingga pemerintah desa harus mengambil sikap tegas untuk membatasi dan mengatur jalannya karnaval kemerdekaan yang relevan, edukatif, kreatif, dan penuh makna, serta tidak menimbulkan polemik yang pelik.
Disadari atau tidak, diakui atau tidak, budaya sound horeg sudah mulai mengakar kepada masyarakat. Mereka mulai menganggap “diskotik kampung” ini sebagai hiburan yang normal untuk dinikmati oleh seluruh lapis masyarakat dan tidak ada batasan usia. Mereka rela menggalang dana iuran antar warga setiap bulan untuk menyewa jasa tersebut meskipun dengan nominal yang tidak murah.
Banyaknya efek negatif seperti kerusakan fisik, bangunan, dan rumah warga seakan tidak menjadi pertimbangan untuk menyudahi budaya buruk ini. Terlebih kerusakan mental, spiritualitas, dan akhlak masyarakat, terutama anak-anak di bawah umur yang dipertontonkan jogetan seronok para dancer wanita dan juga minuman keras sebagai pendamping menikmati musik super keras oleh para pemuda.
Jika terus dibiarkan dan tidak ditata dengan regulasi yang baik dan benar, tidak mustahil jika budaya ini akan mengancam generasi penerus bangsa. Jangan harap akan muncul generasi emas 2045 jika generasi muda era kini tidak memahami arti perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. HUT kemerdekaan seharusnya menjadi momen refleksi sikap nasionalisme di setiap bulan Agustus. Kembalikan karnaval kemerdekaan tanpa jogetan, dan tanpa sound horeg!





Comments are closed.