Jakarta, Arina.id— Juara bertahan Argentina harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyingkirkan debutan Cape Verde pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Dalam pertandingan dramatis yang berlangsung hingga babak perpanjangan waktu, Albiceleste akhirnya menang 3-2 dan memastikan satu tempat di babak 16 besar, setelah Cape Verde memberikan perlawanan yang jauh lebih sengit daripada perkiraan banyak pihak.
Laga ini menjadi bukti bahwa status favorit tidak selalu menjamin kemenangan mudah. Cape Verde, negara dengan populasi sekitar 600 ribu jiwa ini baru pertama kali tampil di Piala Dunia, nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah turnamen. Tim Afrika itu tampil disiplin, berani menekan ketika memiliki ruang, dan dua kali mampu menyamakan kedudukan sebelum akhirnya menyerah akibat gol penentu Cristian Romero pada babak tambahan.
Sebelum pertandingan, pelatih Argentina, Lionel Scaloni, sudah memperingatkan bahwa Cape Verde bukan lawan yang bisa diremehkan. Ia menyebut tim asuhan Bubista memiliki organisasi pertahanan yang sangat baik serta serangan balik yang berbahaya. Prediksi tersebut terbukti sepenuhnya di lapangan.
Argentina memulai pertandingan dengan menguasai bola dan mendominasi tempo permainan. Lionel Messi kembali dipercaya tampil sebagai starter sekaligus mencatat sejarah baru sebagai pemain dengan penampilan terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Di bawah arahan Scaloni yang menjalani laga ke-100 bersama tim nasional Argentina, sang kapten kembali menjadi pusat permainan Albiceleste.
Dominasi Argentina akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-28. Messi memecah kebuntuan melalui penyelesaian khasnya yang membawa juara dunia unggul 1-0. Gol tersebut semakin menegaskan peran vital sang kapten yang sepanjang turnamen menjadi sumber utama produktivitas lini depan Argentina.
Namun Cape Verde sama sekali tidak kehilangan keberanian. Tim berjuluk Blue Sharks tetap mempertahankan disiplin bertahan sambil menunggu kesempatan melakukan transisi cepat. Strategi itu membuahkan hasil pada babak kedua ketika Deroy Duarte berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Gol tersebut mengejutkan Argentina sekaligus membuat pertandingan berubah menjadi jauh lebih terbuka.
Hingga waktu normal berakhir, kedua tim gagal mencetak gol tambahan sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.
Argentina kembali unggul lebih dahulu melalui Lisandro Martínez pada awal extra time. Namun sekali lagi Cape Verde menunjukkan mental luar biasa. Sidny Lopes Cabral mencetak gol spektakuler yang kembali membuat skor imbang 2-2 dan membangkitkan harapan lahirnya sensasi terbesar di Piala Dunia 2026.
Ketika pertandingan tampak mengarah ke adu penalti, Argentina akhirnya menemukan jalan keluar. Bek tengah Cristian Romero menyundul bola menjadi gol kemenangan pada menit-menit akhir babak tambahan. Cape Verde masih berusaha mencari gol penyeimbang, tetapi Emiliano Martínez bersama lini belakang Argentina mampu mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang berbunyi.
Secara statistik, Argentina tampil lebih dominan dalam penguasaan bola dan intensitas serangan. Messi tidak hanya mencetak gol pembuka, tetapi juga menyumbang satu assist yang kembali menunjukkan pengaruh besarnya terhadap permainan Argentina. Meski demikian, Cape Verde tampil sangat efisien. Mereka mampu mengubah peluang terbatas menjadi dua gol dan memaksa Argentina memainkan pertandingan selama 120 menit.
Laga ini juga memperlihatkan sisi lain Argentina. Selama fase grup, Albiceleste melaju nyaris tanpa hambatan dengan tiga kemenangan beruntun atas Aljazair, Austria, dan Yordania. Namun memasuki fase gugur, tekanan pertandingan sistem gugur membuat permainan mereka jauh lebih sulit berkembang. Reuters sebelumnya telah menyoroti ketergantungan Argentina terhadap Messi yang telah mencetak enam gol sebelum laga ini, sementara Scaloni menegaskan bahwa timnya tetap memiliki banyak sumber ancaman selain sang kapten. Pertandingan melawan Cape Verde memperlihatkan bahwa Argentina memang masih mampu menang, tetapi harus bekerja jauh lebih keras ketika lawan mampu mematahkan ritme permainan mereka.
Bagi Cape Verde, kekalahan ini tetap menjadi penutup yang membanggakan. Tim debutan tersebut menorehkan sejarah sebagai negara dengan populasi terkecil yang pernah mencapai fase gugur Piala Dunia. Mereka lolos dari fase grup tanpa sekalipun kalah setelah menahan imbang Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi. Perjalanan mereka berakhir di tangan juara bertahan, tetapi penampilan melawan Argentina memperlihatkan bahwa mereka layak diperhitungkan sebagai salah satu kisah terbesar Piala Dunia 2026.
Kemenangan ini mengantar Argentina melaju ke babak 16 besar, tetapi juga menyisakan pekerjaan rumah bagi Scaloni. Pertandingan selama 120 menit di tengah cuaca panas menguras energi para pemain inti. Reuters mencatat kondisi fisik tim menjadi salah satu perhatian utama menjelang duel berikutnya melawan Mesir. Jika ingin mempertahankan gelar juara dunia, Argentina harus menemukan kembali efektivitas permainan mereka, sebab lawan-lawan di fase berikutnya dipastikan akan memberikan tantangan yang lebih berat lagi.




Comments are closed.