Di atas rumput, Argentina bertaruh nasib. Peristiwa terpenting sedang digelar di Amerika Serikat. Jutaan orang melihat Argentina sedang tersiksa saat bola menentukan menang atau kalah selama 90 menit. Siksaan bertambah panjang saat menit-menit lanjutan memastikan Argentina kalah. Gol itu meruntuhkan pengharapan agar Argentina tercatat dalam sejarah dan Messi adalah pujaan sepanjang masa. Kita turut menjadi saksi, Argentina di atas rumput menanggung malu dan kalah, 20 Juli 2026. Piala Dunia bukan milik Argentina. Kita pun melihat Messi duduk lesu di atas rumput bakal dijual dengan harga mahal untuk para pengenang Piala Dunia.
Kita mesti rela Argentina kalah. Selama puluhan hari, kita berpikiran Argentina itu sepak bola. Di lembaran sejarah dunia, Argentina memang berkuasa dalam sepak bola meski mendapat saingan-saingan berat. Kini, kita tak perlu tersiksa setelah kalah. Argentina tetap negara bergelimang cerita.
Pada tatapan berbeda, Argentina tak sekadar sepak bola. Argentina itu sastra. Kita pun lekas mengingat satu nama “berkuasa” dalam kesusastraan di Amerika Latin dan dunia: Jorge Luis Borges. Kita mendingan melihat kertas-kertas mencantumkan cerita-cerita Borges ketimbang selalu mengingat hamparan rumput hijau berkisah kalah. Argentina tak cuma Messi. Argentina itu Borges (1899-1986).
Pada suatu hari, ia menggubah puisi meski segera berganti tekun dalam penulisan cerita dan esai. Pada masa 1920-an, Borges mengenang gairah bersastra. Ia membutuhkan “atmosfer sastra” melalui persahabatan dan perbincangan sastra. Kesadaran tentang sastra bukan dunia-sendiri. Misi bersastra berarti keinsafan untuk kebutuhan “jagat raya”. Borges pun memiliki dunia melalui beragam bacaan merujuk pelbagai peradaban. Ia melanjutkan dengan mencipta dunia melalui cerita-cerita memukau.
Di Indonesia, kita terhubung Argentina atau Amerika Latin melalui penerjemahan tulisan-tulisan Borges dalam bahasa Indonesia. Buku memikat berjudul Labirin Impian (1999). Cerita-cerita Borges diterjemahkan Hasif Amini. Di hadapan buku, kita mengesahkan Argentina itu negara sastra, melampaui anggapan sepak bola. Nirwan Dewanto menempatkan Borges sebagai “juru cerita piawai”. Pujian diberikan:
Prosa Borges adalah sejenis permainan sangat terkendali dan tahu diri, berlawanan dengan banyak penulis ‘eksperimental’, yang gemar jungkir-bali, bergelap-gelap, dan merajalela mabuk kata-kata.
Kita membaca cerita berjudul Perpustakaan Babel. Pembaca mungkin tergoda mengintip biografi Borges pernah bekerja di perpustakaan. Ia melahap buku-buku. Lelaki bernafsu buku itu menderita saat mengalami kebutaan. Para pembaca tulisan-tulisan Borges mengerti nasib tragis pengarang. Ia pernah mendapatkan keberlimpahan buku meski saat menua mengalami kebutaan.
Kutipan dari cerita:
Aku berkelana mencari sebuah buku, barangkali sebuah katalog induk tentang pelbagai katalog; kini, setelah mataku nyaris tak mampu lagi melihat apa yang kutulis, aku bersiap mati beberapa jengkal dari ruang segi-enam di mana dulu aku dilahirkan. Sesudah aku mati, segera siap tangan-tangan salih yang akan melemparkanku dari tepi tangga itu; kuburanku adalah udara tanpa dasar: tubuhku akan terus menyuruk dan membusuk serta mengurai hilang dalam angin kejatuhanku, yang tiada terhingga. Kutegaskan bahwa Perpustakaan tak ada batasnya.
Pembaca tergoda dalam imajinasi bermekaran. Fantastis!
Borges membuat para pembaca di Indonesia terpesona. Cerita-cerita terjemahan terus bermunculan dalam lembaran koran dan majalah. Buku-buku pun terbit, menghadirkan Borges sebagai pengarang dunia. Pada saat orang-orang membaca cerita, ingatan atas Maradona dan Messi tampil di atas rumput sebagai “penguasa” dari Argentina. Jutaan orang di Indonesia mengakrabi Maradona dan Messi ketimbang Borges. Sepak bola mencipta kegilaan tanpa akhir tapi penikmat cerita-cerita gubahan Borges tetap bertahan dan bertumbuh.
Pada 2016, kita disuguhi buku berisi cerita-cerita buatan Borges berjudul Parabel Cervantes dan Don Quixote. Cerita-cerita diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Lutfi Mardiansyah. Borges datang lagi meski pesona sepak bola Argentina makin membesar. Kita boleh bergantian melihat hamparan rumputan dan kertas bertebaran kata.
Di cerita berjudul Kitab Pasir, pembaca seperti mula-mula terlibat percakapan sebelum larut dalam cerita. Borges berkisah:
Sejumlah titik tak terhingga menciptakan garis; sejumlah garis tak terhingga menciptakan bidang; sejumlah bidang tak terhingga menciptakan volume; sejumlah volume tak terhingga menciptakan hiper-volume, tidak, bukan seperti itu – hal ini, more geometrico, jelas bukan cara terbaik untuk memulai kisahku. Untuk mengatakan bahwa kisah ini benar-benar nyata berarti mulai sekarang aku harus bersepakat dengan setiap kaidah dari setiap kisah fantasi; aku sendiri, bagaimanapun, adalah sosok nyata.
Pembaca perlahan terbiasa menikmati kejutan-kejutan Borges di setiap cerita. Ia terlalu gampang membuat pembaca terlena.
Pada tahun-tahun kamera mengarah pada Messi dan sepak bola, usaha memuliakan Borges di Indonesia terus terjadi. Para peminat dan penikmat terus bertambah, memberi bujukan agar bermunculan buku-buku edisi terjemahan. Di pasar buku, Labirin Impian mulai berharga mahal. Pemicu tentu pikat Borges tak pernah luntur. Di Indonesia, Borges itu pujaan tanpa keramaian dan tepuk tangan, seperti Messi. Argentina itu sastra, tak cuma sepak bola.
Borges hadir lagi pada 2017. Lutfi Mardiansyah tetap berperan sebagai penerjemah dalam terbitan buku Borges berjudul Pendekar Tongkat Sakti dari Argentina. Kita memilih kutipan dari cerita berjudul “Pedro Salvadores”. Borges tampil sebagai pencerita selalu menang dalam menabur perhatian. Pembaca dijamin ketagihan, berharap selalu berada dalam arus cerita. Borges menulis:
Aku ingin menuliskan, barangkali untuk pertama kalinya, salah satu kejadian paling aneh dan paling menyedihkan dalam sejarah negeriku. Cara terbaik untuk melakukannya, menurut hematku, adalah mengesampingkan bagianku sendiri di dalam menceritakan kisah kecil ini, dan menekan seluruh tambahan berupa penggambaran-penggambaran indah serta dugaan-dugaan spekulatif.
Borges tak mau biasa-biasa saja. Cerita menjerat pembaca.
Kini, kita memilih merampungkan sedih setelah Argentina kalah dalam Piala Dunia (2026). Perhatian pada Messi tak perlu berlebihan. Ia tetap tokoh besar di dunia. Menit-menit meninggalkan peristiwa sedih, kita mendingan memasuki cerita-cerita gubahan Borges. Argentina pun sastra. Argentina itu Borges. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah





Comments are closed.