Arina.id – Bulan Muharram, yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal dengan sebutan Poso Suro, termasuk salah satu bulan mulia yang dianjurkan untuk diisi dengan berbagai amal kebajikan. Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah menyantuni anak yatim, memperbanyak ibadah, serta melaksanakan puasa sunnah Tasu’a dan Asyura.
Keutamaan berpuasa pada bulan Muharram diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Sementara sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim No. 1163).
Dalam pelaksanaan puasa sunnah Tasu’a maupun Asyura, niat menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, niat merupakan salah satu rukun puasa dan menjadi dasar diterimanya seluruh amal ibadah. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah SAW:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Segala sesuatu itu terletak pada niatnya, dan tiap seseorang itu dinilai dari apa-apa yang dia niati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Puasa Tasu’a merupakan puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Kedua puasa tersebut termasuk puasa sunnah yang diperbolehkan berniat pada pagi hari, selama orang yang hendak berpuasa belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum.
Ketentuan tersebut didasarkan pada hadits yang termuat dalam kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar, nomor 657:
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ
Artinya: “Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, Nabi Muhammad pernah menemuiku pada suatu hari lalu bersabda: Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan? Kami menjawab: Tidak ada. Rasulullah bersabda: Kalau begitu, mulai sekarang aku berpuasa. Pada hari yang lain beliau datang kepada kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah, kami baru saja diberi hadiah berupa hais (makanan yang terbuat dari campuran samin dan tepung). Beliau bersabda: Tunjukkan makanan itu kepadaku, padahal sejak pagi aku telah berniat puasa. Kemudian beliau pun memakannya.” (HR. Muslim No. 1154).
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits tersebut menjadi dalil bagi mayoritas ulama mengenai kebolehan berniat puasa sunnah pada siang hari selama belum memasuki waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir ke arah barat.
Karena itu, para ulama membolehkan seseorang melafalkan niat puasa sunnah Tasu’a maupun Asyura pada pagi hari dengan syarat belum makan, minum, serta belum memasuki waktu zawal.
Adapun bacaan niat puasa sunnah Tasu’a adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَاسوعاء لله تعالى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT.”
Sementara itu, bacaan niat puasa sunnah Asyura ialah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ العاشوراء لله تعالى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil ‘Âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”
Seseorang yang pada malam hari belum sempat berniat, kemudian pada pagi harinya muncul keinginan untuk melaksanakan puasa sunnah Tasu’a atau Asyura, tetap diperbolehkan untuk berniat sejak saat itu. Dengan demikian, bagi siapa saja yang lupa berniat pada malam hari, ia masih diperkenankan berniat pada pagi hari selama belum melakukan makan atau minum serta sebelum matahari tergelincir.
Dengan demikian, puasa Tasu’a dan Asyura merupakan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar di bulan Muharram. Selain menjadi bagian dari syiar tahun baru Hijriah, kedua puasa tersebut juga menjadi sarana untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bis shawab.




Comments are closed.