Berstatus sebagai destinasi wisata global, Bali justru hadapi persoalan serius lantaran laju abrasi pantai merupakan yang tercepat di dunia. Di Pantai Kuta misal, area pantai yang sebelumnya banyak wisatawan manfaatkan untuk tempat bersantai kini makin mundur ke belakang. Terlihat karung-karung berisi pasir yang tertata sedemikian rupa untuk menahan timbunan pasir baru yang terus tergerus karena diterjang gelombang. Jalan setapak dari beton hancur, payung-payung pantai berdesakan karena ruangnya berkurang. Alih-alih, air laut bahkan beberapa kali tumpah ke jalan raya. Situasi itu kontras dengan setahun lalu. Ketika itu, kawasan pantai masih terlihat cukup landai. Bahkan, pengunjung juga masih bisa berlarian di sempadan yang berjarak sekitar 5-10 meter dari bibir laut. Ribuan orang masih bisa duduk nyaman menunggu matahari tenggelam. Namun beberapa bulan terakhir ini situasinya berkebalikan. Saat air pasang, pengunjung nyaris tidak bisa jalan di area berpasir karena serbuan air laut dan jalan setapak hilang. “Ini gara-gara reklamasi perluasan bandara,” celetuk seorang penjaja pijat dan penjual minuman di Pantai Kuta. Pada 2019, pengelola Bandara I Gusti Ngurah Rai yang berdampingan dengan Pantai Kuta memang melakukan reklamasi untuk memperluas apron dan runway. Area yang mencakup 100 hektar itu bertujuan untuk meningkatkan kapasitas bandara dan memudahkan pesawat berbadan besar mendarat. Runway yang semula 3000 meter diperpanjang menjadi 3.400 meter. Tanggul batu dan karung pasir menghadang ombak di Pantai Kuta. Foto Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia. Penelitian sebelumnya memang Bali sebagai pulau dengan laju penyusutan tercepat di dunia akibat abrasi. Hanya dalam kurun lima tahun (2016-2021), garis pantai di Bali menyusut dari 668,64 kilometer menjadi 662,59…This article was originally published on Mongabay
Bagaimana Selamatkan Pantai Bali dari Abrasi?
Bagaimana Selamatkan Pantai Bali dari Abrasi?





Comments are closed.