Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Berhenti Merokok Percepat Penyembuhan Perlemakan Hati

Berhenti Merokok Percepat Penyembuhan Perlemakan Hati

berhenti-merokok-percepat-penyembuhan-perlemakan-hati
Berhenti Merokok Percepat Penyembuhan Perlemakan Hati
service

Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Rino Alvani Gani menegaskan kebiasaan merokok bisa memperparah perlemakan hati hingga menimbulkan kanker hati. Menurut dia, nikotin dalam rokok berpotensi memicu sel tubuh menimbun lemak lebih banyak di hati.

Radikal bebas ataupun zat berbahaya dalam rokok juga mengakibatkan tubuh sulit mengatur gula darah. Sehingga memperparah perlemakan hati dan peradangan yang dapat menyebabkan kerusakan hati permanen (sirosis).

“Jadi hentikan kebiasaan merokok untuk mempercepat penyembuhan perlemakan hati . Bila tingkat kerusakan hati masih ringan masih bisa disembuhkan,” kata Rino saat temu media sekaligus diskusi edukatif pada  Global Fatty Liver Day 2026 yang digelar Kementerian Kesehatan bersama Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.

Terjadi perlemakan hati ketika terdapat penumpukan lemak berlebih di hati. Pada kondisi terkait gangguan metabolik, penyakit ini dikenal sebagai Disfungsi Metabolik Terkait Penyakit Hati Steatotic atau Metabolic Dysfunction Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) yaitu penyakit hati terkait gangguan metabolik. Menurut Rino, MASLD umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini.

Konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini pun menjelaskan pada tahap awal kondisi MASLD berupa gumpalan lemak di hati. Namun, jika faktor risikonya tidak dikelola dengan tepat, sebagian pasien dapat mengalami MASH ( Metabolic Disfunction Associated SteatoHepatitis ). Yaitu kondisi yang lebih parah karena melibatkan peradangan serta kerusakan sel hati akibat penumpukan lemak berlebih. Dia menambahkan, dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko sirosis hingga kanker hati.

“MASLD juga perlu dilihat sebagai bagian dari risiko kardiometabolik yang lebih luas karena penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan MASLD. Deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko secara menyeluruh menjadi sangat penting,” ucap Rino

Rino menyarankan, selain menghentikan kebiasaan merokok, individu yang hidup dengan obesitas dan diabetes perlu berhati-hati dengan melakukan penilaian risiko serta deteksi dini kesehatan hati. Di Indonesia, tata laksana perlemakan hati perlu dilakukan berdasarkan penilaian dokter. Pengelolaan faktor risiko, termasuk berat badan dan gangguan metabolik, menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan risiko perkembangan penyakit.

“Obesitas merupakan salah satu pendorong utama kondisi ini karena dapat menyebabkan gangguan metabolik dan penumpukan lemak di berbagai organ, termasuk hati. Obesitas harus menjadi perhatian agar tidak menyebabkan atau memperberat MASLD,” ujar Rino.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia di atas 18 tahun mencapai 23,4%, sedangkan obesitas sentral pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 36,8%. Hasil ini menunjukkan pentingnya perhatian bersama terhadap obesitas sebagai salah satu faktor hulu dari berbagai penyakit kronis, termasuk perlemakan hati.

Pada saat yang sama, dokter Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular dari Kementerian Kesehatan, kembali mengingatkan penyakit hati berlemak perlu mendapat perhatian lebih karena sering berkembang gejala diam-diam tanpa penyebab yang jelas. Salah satu pemicu utamanya adalah obesitas yang menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia.

Ia menyebut risiko terjadinya perlemakan hati dan berbagai penyakit kronis lainnya semakin tinggi seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia. Bahkan obesitas dikenal sebagai ‘ibu dari segala penyakit kronis‘ karena memicu berbagai komplikasi kesehatan.

“Kami mengajak masyarakat lebih waspada terhadap faktor-faktor risiko yang dimiliki dan melakukan deteksi dini guna menjaga kesehatan hati. Bertindak sekarang sebelum kondisi berkembang lebih jauh,” tutur Siti Nadia.

Ia menambahkan, Kementerian Kesehatan pada tahun 2025 telah melakukan deteksi dini atau screening risiko penyakit hati mencapai 179000 orang meliputi orang dewasa di atas umur 18 tahun dan lanjut usia di atas umur 60 tahun. Hasilnya, 55% di antaranya mengalami gangguan hati. Siti memperkirakan pada tahun 2026 kemungkinan orang mengalami gangguan hati bisa meningkat.

“Mengantisipasi kemungkinan peningkatan jumlah orang yang mengalami gangguan jantung pada tahun 2026, Kementerian Kesehatan menargetkan empat target skrining utama penyebab penyakit hati, yaitu obesitas, diabetes, hipertensi, dan peningkatan lemak pada hati,” kata Siti.

Sementara itu, konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes, Dicky Levenus Tahapary, menekankan obesitas yang ikut berperan memicu MASLD perlu dipahami sebagai kondisi medis kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif. Dokter spesialis penyakit dalam dari RSCM ini mengungkapkan, kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memacu resistensi insulin, peradangan, serta gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk hati, jantung, hingga pembuluh darah.

“Penanganan obesitas bukan hanya menurunkan angka berat badan tetapi juga mendukung kualitas penurunan berat badan dan kesehatan metabolik jangka panjang sehingga perlu dilakukan terapi farmakologi sesuai kondisi pasien sekaligus bukti klinis yang relevan,” ungkap Dicky.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.