Wed,10 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

bgn-and-the-‘nurturing’-nanik
BGN and the ‘Nurturing’ Nanik
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Prabowo menunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit? 


PinterPolitik.com

“Caring requires that one start from the standpoint of the one needing care or attention. It requires that we meet the other morally, adopt that person’s, or group’s, perspective and look at the world in their terms.” – Joan Tronto, Moral Boundaries: A Political Argument for an Ethic of Care (1993)

Cupin sedang menyeruput kopi ketika pengumuman dari Istana Merdeka itu muncul di layar gawainya. Selasa malam, 2 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Dadan Hindayana dari kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dan menunjuk Nanik Sudaryati Deyang sebagai penggantinya.

Cupin mengamati diksi pengumuman itu yang begitu santun, penuh penghormatan atas dedikasi pejabat sebelumnya. Namun ia tahu, di balik bahasa yang halus selalu ada angka yang tidak bisa diperhalus.

Angka itu memang ada. Hingga 10 Mei 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 445 kejadian dugaan keracunan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan total 37.673 korban di 210 kabupaten dan kota.

Yang membuat Cupin mengernyit, kurvanya tidak melandai. Menurut perhitungan Federasi Serikat Guru Indonesia, rata-rata korban bulanan pada 2026 justru lebih tinggi sekitar 42 persen dibanding tahun sebelumnya.

Maka bagi Cupin, ini bukan sekadar pergiliran jabatan biasa. Ini adalah respons atas krisis legitimasi program paling personal yang pernah dimiliki seorang presiden, program yang menyentuh tubuh anak-anak secara harfiah setiap minggu.

Dan pilihan Prabowo jatuh pada seorang perempuan. Cupin lalu teringat sebuah bingkai yang manis dan menggoda, sebuah narasi yang ia sebut dalam hati sebagai the nurturing Nanik, tangan keibuan yang dipanggil untuk membenahi dapur yang sedang sakit.

Tetapi Cupin bukan tipe yang mudah puas dengan narasi manis. Ia menyandarkan punggungnya, menatap layar, dan dua pertanyaan menggantung di benaknya.

Benarkah kehadiran seorang perempuan di pucuk lembaga sekrusial BGN membawa sesuatu yang baru? Lalu, jika memang ada perspektif baru yang dibawa, seperti apa wujud perspektif itu di dunia pemerintahan yang selama ini sangat maskulin?

Perempuan dan Periuk Negara

Cupin menyadari bahwa pertanyaannya bukanlah hal baru dalam khazanah pemikiran politik. Filsuf politik Amerika, Joan Tronto, lewat bukunya Moral Boundaries dan kemudian Caring Democracy, justru menempatkan soal merawat di jantung persoalan.

Tronto berargumen bahwa selama ini masyarakat menaruh urusan merawat di ranah privat, domestik, dan feminin. Sementara urusan keadilan dan produktivitas ditempatkan di ranah publik, politik, dan maskulin.

Bagi Cupin, di sinilah letak kebaruannya. Tronto menyebut pembagian itu sebagai sebuah batas moral yang keliru, karena merawat sesungguhnya adalah aktivitas politik paling mendasar yang menyangkut kelangsungan hidup warga paling rentan.

Artinya, kehadiran perempuan di pucuk lembaga seperti BGN bisa membawa apa yang oleh para akademisi feminis disebut sebagai ethics of care, etika kepedulian. Sebuah cara pandang yang menjadikan keselamatan dan kesejahteraan tubuh anak sebagai ukuran utama keberhasilan, bukan sekadar angka porsi yang tersalurkan.

Cupin lalu teringat tulisan ilmuwan politik Carol Gilligan yang berjudul In a Different Voice. Gilligan menunjukkan bahwa perempuan kerap menalar persoalan moral dengan suara yang berbeda, lebih menekankan relasi, tanggung jawab, dan konteks ketimbang aturan abstrak.

Dunia, kata Cupin dalam hati, sebenarnya sudah punya banyak contoh. Di Brasil, program Bolsa Família membuat keputusan desain yang berani dengan mengalirkan transfer dana langsung ke rekening ibu, bukan kepala keluarga laki-laki.

Keputusan itu bukan sekadar romantisme keibuan. Itu berbasis bukti, karena temuan menunjukkan sumber daya yang dikelola perempuan lebih banyak mengalir ke gizi dan pendidikan anak.

Di India, program Midday Meal Scheme dan POSHAN Abhiyaan bertumpu pada jutaan Anganwadi Workers yang hampir seluruhnya perempuan. Mereka mengunjungi rumah, mengedukasi ibu hamil, dan memantau gizi balita di lapisan akar rumput.

Namun Cupin mencatat satu paradoks penting dari India. Para ahli di sana justru menyerukan lebih banyak perempuan di lapis kepemimpinan dan pengambilan keputusan, bukan hanya di lapis pelaksana yang kerap kurang dihargai.

Negara-negara Nordik menempuh jalan lain lagi. Mereka menjadikan pengasuhan dan gizi anak sebagai tanggung jawab publik yang dibiayai pajak dan dikelola secara profesional, persis seperti yang diidamkan Tronto dalam gagasannya tentang caring democracy.

Dari sini Cupin memahami bahwa penunjukan Nanik di puncak BGN bisa menjadi koreksi atas paradoks ala India tadi. Seorang perempuan tidak hanya hadir di dapur, tetapi juga di kursi tempat keputusan besar diambil.

Tetapi Cupin juga ingat peringatan Tronto soal jebakan yang ia namai privileged irresponsibility. Yakni ketika kerja merawat diserahkan ke kelompok tertentu, dan ketika sesuatu gagal, beban moralnya pun ikut jatuh ke pundak mereka.

Dua pertanyaan baru kini menggantung di benak Cupin. Bagaimana caranya agar perspektif kepedulian itu benar-benar terisi, dan bukan sekadar simbol?

Lalu, secara konkret, bagaimana sosok Nanik S. Deyang bisa mengisi perspektif baru itu di tengah krisis MBG dan BGN?

The Nurturing Nanik di MBG?

Cupin mulai menelaah latar Nanik lebih saksama. Sosok ini dikenal dengan rekam jejak panjang di dunia jurnalistik dan komunikasi publik, serta sempat menangani fungsi komunikasi dan investigasi di BGN sebelum penunjukannya.

Bagi Cupin, ini memberi sinyal menarik. Prabowo tampaknya tidak sekadar mencari ahli gizi, melainkan seseorang yang memahami bahwa krisis MBG sebagian besar adalah krisis kepercayaan publik, bukan semata krisis dapur.

Namun Cupin tahu akar persoalan MBG lebih dalam dari sekadar persepsi. Penelitian yang terbit di laman “The Conversation” Indonesia menyimpulkan bahwa keracunan massal itu bersumber dari desain kelembagaan yang terlalu tersentralisasi, bukan kelalaian individu.

Dinas kesehatan daerah kerap kurang dilibatkan dalam perencanaan dan pemantauan. Sementara kewajiban Sertifikat Laik Higiene Sanitasi baru ditetapkan pada September 2025, sembilan bulan setelah ribuan korban berjatuhan.

Di titik inilah Cupin melihat ethics of care bisa berpadu dengan soal kapasitas negara. Ia teringat buku ilmuwan politik James C. Scott yang berjudul Seeing Like a State, yang memperingatkan bahaya ambisi keseragaman dari pusat yang mengabaikan realitas lokal.

Scott memperkenalkan istilah mētis, yaitu pengetahuan praktis yang dimiliki orang-orang di lapangan. Dalam konteks MBG, mētis itu ada pada ibu-ibu dapur, petugas puskesmas daerah, dan kepala sekolah yang setiap hari menyentuh persoalan secara langsung.

Maka, menurut Cupin, di sinilah perspektif kepedulian Nanik bisa menemukan wujud konkretnya. Etika merawat pada dasarnya adalah etika mendengarkan mereka yang paling dekat dengan tubuh yang dirawat.

Nanik berpeluang mengubah cara BGN bekerja, dari mesin terpusat yang dikendalikan Jakarta menjadi sistem yang mengembalikan suara lapisan terbawah. Pelibatan dinas kesehatan daerah dan profesionalisasi tenaga dapur bisa menjadi tolok ukur sesungguhnya.

Latar komunikasinya pun bisa menjadi nilai tambah, asalkan dipakai untuk membangun transparansi, bukan sekadar memoles citra. Sebab seperti pelajaran dari Nordik, cara terbaik menghargai kerja merawat adalah menjadikannya profesi yang diawasi serius, bukan naluri yang sekadar diasumsikan.

Penunjukan Nanik S. Deyang oleh Presiden Prabowo pada akhirnya dapat dibaca sebagai langkah penuh harapan, sebuah pengakuan di level tertinggi negara bahwa mengurus gizi anak adalah pekerjaan serius yang layak dipimpin dengan kepekaan terhadap yang rentan. Keberhasilannya kelak akan ditentukan oleh sejauh mana perspektif kepedulian itu diterjemahkan menjadi perbaikan sistem yang nyata, dan Cupin pun menutup gawainya dengan satu keyakinan sederhana, bahwa the nurturing Nanik akan bermakna sejati bila keibuan dalam bernegara dipahami bukan sekadar sebagai kelembutan, melainkan sebagai keberanian membangun kembali dapur bangsa dengan mendengarkan mereka yang selama ini hanya disuruh memasak. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.