Gen Z sering kali menganggap pamali hanyalah doktrin kuno orang tua. Mereka ingin hidup sesuai masanya, sejalan dengan logikanya.
Mubadalah.id – Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional sesuai dengan Keppres No. 316 Tahun 1959. Tanggal 2 Mei merupakan hari lahir Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantara.
Beliau merupakan tokoh yang mendirikan Taman Siswa untuk memberikan kesempatan pendidikan bagi rakyat Indonesia dan melawan diskriminasi pendidikan yang dilakukan oleh kolonial Belanda. Beliau mencetuskan filosofi pendidikan: “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” (di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan).
Ada filosofi lain dari Ki Hajar Dewantara yang tidak kalah penting yang sering disebut dengan prinsip Tringa: ngerti, ngrasa, nglakoni. Ia menjelaskan bahwa ilmu itu penting, tapi adab lebih utama. “Melalui ngerti, ngrasa, lan ngelakoni (meningkatkan pengetahuan, menghayati, dan melakukan), budi pekerti yang dibentuk akan hadir adab.” Begitu quote dari Ki Hajar Dewatara.
AI
Di era teknologi kecerdasan buatan (AI) sekarang ini, kehadiran adab menjadi sangat penting. Kita seringkali melihat berita bahwa dewasa ini tidak sedikit siswa yang berani melawan gurunya. Misalnya pada bulan lalu, sekelompok siswa SMAN 1 Purwakarta di dalam kelas mengolok-olok seorang guru perempuan bahkan sampai mengacungkan jari Tengah.
Dulu orang tua kita mengajarkan untuk menghormati guru, bahkan ketika di luar sekolah pun sehingga dulu masih banyak anak-anak yang menyapa menyalami gurunya ketika bertemu di luar sekolah. Kita dilarang untuk tidak menghormati guru:
“Jangan melawan guru, pamali, nanti ilmunya tidak manfaat,” begitu orang tua mengajarkan. Ia meminta anak-anaknya untuk tidak melakukan hal di luar nilai adab dan kesopanan.
Ketika seorang anak sudah mendengarkan kata pamali dari orang tuanya seperti “jangan makan di depan pintu, pamali, nanti susah dapat jodoh.” Maka langsung patuh tanpa bertanya kenapa. Namun, pada kaum Gen Z yang informasi bergerak lebih cepat dari nurani, sering kali melihat mereka merasa paling cerdas dan mengabaikan kata pamali yang disampaikan oran tua.
Kaum Gen Z sering kali merasa bangga bahwa semua ajaran harus logis, merasa paling mengerti padahal pengalaman hidup mereka belum seberapa. Gen Z yang logis dan skeptis cenderung melihat warisan masa lalu seperti pamali hanyalah bangkai intelektual.
Pamali sebagai Kontrol Sosial
Gen Z merasa segala sesuatu harus bisa diterima logika dan dijelaskan secara ilmiah, mereka menganggap pamali hanyalah takhayul yang layak dibuang ke tempat sampah peradaban. Mereka bangga bersifat kritis tanpa mereka sadari bahwa itu hanyalah ego-sentrisme. Semua harus sejalan dengan keinginan logika mereka tanpa peduli dengan orang lain.
Maka ketika orang tua mengatakan pamali untuk makan di pintu, itu sedang mengajarkan untuk tidak mengganggu kenyamanan orang lain karena pintu adalah akses masuk keluar untuk orang lain.
Gen Z tidak menghayati dulu apa yang dinasihati orang tuanya. Kita harus belajar untuk tidak lansung menolak semua ajaran karena merasa tidak masuk akal. Sebaliknya gunakan akal kita untuk menghayati apa yang orang tuanya ajarkan.
Pamali untuk makan di pintu karena nanti sulit jodoh bisa kita pahami kalau kita mau menerima ajaran itu secara terbuka. Menghalangi akses publik dengan makan di depan pintu menunjukan rendahnya social awareness. Jangan hancurkan kontrol sosian berupa pamali demi kenyamanan pribadi.
Dengan mengatakan pamali makan di depan pintu, orang tua sedang melatih kepekaan anaknya untuk tidak enak sendiri dan peduli dengan kebutuhan orang di sekitarnya. Jika anak tumbuh dengan social awareness yang rendah. Maka akan sedikit orang yang menghormatinya dan kemudian akan menjadikan ia sulit untuk mendapatkan jodoh.
Instrumen Kontrol Sosial
Pamali merupakan instrumen kontrol sosial, ia bukan hanya larangan kuno untuk menakuti anak kecil. Pamali adalah bentuk model pendidikan karakter untuk anak-anaknya. Etika berasal dari budaya, tradisi, pengalaman panjang, dan empati dalam berinteraksi sosial.
Ada banyak ajara etika yang tidak tertulis. Hindari menggunakan dalih critical thinking untuk berprilaku egois dan mengabaikan ajaran etika hanya karena tidak ada sumber ilmiahnya. Menolak ajaran pamali untuk makan di depan pintu bukanlah tindakan saintifik, melainkan kegagalan kita dalam memahami filosofisnya.
Sebab, hanya dengan mementingkan logika, merasa paling ilmiah, seringkali kita kehilangan rasa hormat dan sopan santun. Tanpa rasa hormat dan sopan santun, kecerdasan hanyalah alat menjadi manusia yang menyebalkan di ruang publik.
Sebuah Ironi Bebas Doktrin
Gen Z sering kali menganggap pamali hanyalah doktrin kuno orang tua. Mereka ingin hidup sesuai masanya, sejalan dengan logikanya. Nilai kesabaran dan harmoni komunal dari ajaran pamali semakin memudar di kaum Gen Z karena kecepatan teknologi. Gen Z merasa bebas dari doktrin kuno, namun tanpa sadar mereka masuk ke dalam doktrin baru yang lebih manipulatif.
Sungguh ironi ketika kaum Gen Z menolak ajaran pamali hanya karena menganggapnya kuno dan tidak berdasar. Sebab saat ini mereka justru hidup dari algoritma dan tren media sosial. Di mana sifat critical thinking Gen Z ketika selalu mengikuti tren TikTok hanya karena haus validasi media sosial.
Bagi sebagian anak, budaya pamali hanyalah cerita mistis orang tua tanpa dasar. Bahkan budaya pamali mereka anggap sebagai doktrin kuno yang tak perlu ia hiraukan. Namun tren media sosial seperti kompetisi yang harus ia ikuti. Banyak tren media sosial yang tidak sesuai logika bahkan membahayakan mereka ikuti tanpa kritik.
Siswa Sekolah Dasar di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tewas pada Minggu (3/5/2026) akibat melakukan freestyle ala gim Free Fire (FF). Korban dilaporkan meniru aksi sujud freestyle, yakni gerakan sujud dalam shalat yang dimodifikasi menyerupai akrobatik, dengan posisi kaki terangkat tinggi sementara kepala dan tangan menjadi tumpuan. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit karena mengalami patah leher.
Orang tua kita mengajarkan untuk berdoa sebelum makan, jangan banyak bicara ketika makan, ambil secukupnya jangan berlebihan, pamali jika tidak habis nanti nasinya menangis. Karena menganggapnya sebagai doktrin kuno, kaum Gen Z mengabaikannya. Namun di sisi lain mereka kaum Gen Z justru mengikuti tren mukbang yang viral di media sosial.
Tren Mukbang
Padahal tren mukbang picu gangguan pencernaan, obesitas, hingga kematian. Bahkan ahli gizi imbau konten makan ekstrem pellu kita kritisi demi jaga pola makan sehat. Ada beberapa kasus kematian akibat mengikuti tren mukbang.
Di Turki, seorang TikToker yang terkenal dengan konten mukbang meninggal dunia karena komplikasi yang akibat obesitas. seorang kreator konten asal Tiongkok juga meninggal saat mukbang. Dokter menyatakan perempuan bernama Pan Xiaoting itu meninggal karena makan berlebihan. Kemudian kaum Gen Z yang merasa paling logis ikut-ikutan tren mukbang.
Pada akhirnya, jangan terjebak dengan kebanggaan critical thinking yang dipoles istilah akademis. Pamali adalah kontrol untuk menjadi manusia sosial. Pamali sebagai panduan agar tidak menjadi individu yang egois tanpa memahami rasa hormat dan sopan santun.
Jangan karena pamali dianggap kuno sehingga enggan menghayati substansi ajaran etika di baliknya. Prinsip Tringa yaitu mengetahui, menghayati, dan melaksanakan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara sebaiknya diterapkan kepada budaya pamali oleh Gen Z. Itu bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan menjaga nilai adab di era modern di ruang logika yang kering dan dingin. []





Comments are closed.