Jakarta, NU Online
Rr Rhetno Arobiatul Jauzak (Rere), penerima beasiswa Dana Abadi Pesantren yang mengikuti program Microcredential di American Islamic College, Amerika Serikat, meluncurkan buku hasil risetnya tentang Muslim Chaplaincy di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Peluncuran buku tersebut ditandai dengan penandatanganan mock-up oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, didampingi Nyai Hj Ida Fatimah, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Husein Muhammad, Kombes Pol Zainuri Anwar, dan Direktur Pesantren Kementerian Agama H Basnang Said.
Nasaruddin Umar mengapresiasi terbitnya buku tersebut sebagai bukti keberhasilan program Dana Abadi Pesantren yang memberikan kesempatan kepada santri untuk menempuh studi di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat.
“Bibit yang pernah kita tanam sudah mulai kita panen 100 persen,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal.
Chaplain asal Indonesia yang bertugas di Australia, Pudak Nayati, menjelaskan bahwa profesi chaplain atau kapelan (rohaniwan) pada hakikatnya adalah menjadi pendamping yang mampu mendengarkan dengan penuh rahmah.
“Itulah sebenarnya tujuan dari seorang chaplain. Di dalam bukunya Mba Rere menyebutkan rahmah. Inilah yang diterapkan seorang chaplain, yakni menjalankan fungsi rahmah,” ujarnya.
Menurut Pudak, untuk mewujudkan layanan yang berlandaskan rahmah, seorang chaplain perlu bekerja sama dengan dokter, perawat, hingga pekerja sosial demi kepentingan pasien.
Ia menambahkan, seorang chaplain juga harus mendengarkan setiap pasien dengan tulus karena mereka membutuhkan sosok yang bersedia menjadi tempat berbagi.
“Mendengar secara tulus akan memberikan ketenangan hati kepada orang lain. Pada saat merasakan ketenangan itu, kita bisa memasukkan hal yang berkaitan dengan Allah,” katanya.
Sementara itu, Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bagus Riyono, menilai buku karya Rere membuka perspektif baru mengenai layanan pendampingan. Menurutnya, prinsip rahmah sangat relevan diterapkan dalam proses pendampingan psikologis.
“Bersedia mendengarkan lebih banyak, mencoba berempati. Klien merasa nyaman dan lebih terbantu mengelola emosi,” ujarnya.
Guru Besar Psikologi UGM itu menjelaskan bahwa psikologi pada dasarnya merupakan ilmu tentang jiwa. Karena itu, kehadiran pendamping atau chaplain diharapkan mampu membangun komunikasi dari hati ke hati.
Pandangan senada disampaikan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Husein Muhammad. Ia menjelaskan bahwa rahmah memiliki tiga makna utama.
Pertama, rahmah berarti kepekaan hati atau empati. “Kau adalah aku yang lain. Apa yang kau miliki, aku miliki,” kata Kiai Husein.
Kedua, rahmah berarti saling bersikap lemah lembut. “Tidak boleh ada kekerasan,” imbuhnya.
Ketiga, rahmah juga bermakna saling memaafkan, baik dalam relasi suami istri maupun dalam hubungan antarsesama manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pesantren Kementerian Agama H Basnang Said mengatakan bahwa lahirnya buku karya Rere merupakan salah satu hasil dari Program Dana Abadi Pesantren yang memberikan beasiswa studi singkat selama dua bulan di Amerika Serikat.
“Akhirnya kemudian, berkat Dana Abadi Pesantren, banyak santri kita yang bisa menginjakkan kakinya di bumi Paman Sam,” katanya.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf melalui Staf Khusus Ishaq Zubaedi Raqib menyampaikan bahwa gagasan dalam buku tersebut sejalan dengan implementasi Peraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2025 tentang Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI).
Menurutnya, manusia memiliki kebutuhan biologis, psikologis, sosiologis, dan spiritual. Karena itu, konsep rahmah yang diangkat dalam buku tersebut bukan sekadar nilai moral, melainkan dapat menjadi pendekatan profesional berbasis kearifan Nusantara dalam penyelenggaraan layanan kesejahteraan sosial.
“Tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga mampu menguatkan jiwa yang sedang mengalami disorientasi dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.




Comments are closed.