Hujan mengguyur Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sejak pagi. Sri Setiowati, kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) ini tersenyum lebar lantaran tanaman sayur di halaman rumahnya tumbuh bagus. Ada cabai rawit keriting, sawi, terong, brokoli, sampai selada. Tertanam di wadah plastik bekas air galon, ragam sayuran itu tertata rapi. Sri yang akrab disapai Ibu Gati ini tak sendirian merawat tanaman sayuran itu, tetapi bersama 30-an warga yang tergabung dalam kelompok tani perempuan. Mereka menyebutnya Kebun Gizi, yang berguna bagi menambah gizi ibu hamil dan balita untuk mencegah dan mengatasi stunting atau tengkes. “Kami didampingi penyuluh pertanian. Saya lebih semangat menanam dan berkebun,” katanya. Kebun gizi itu terbangun berkat bantuan Dinas Pertanian Rp30 juta. Dia menyediakan tanah seluas 2.000 meter persegi untuk demplot dan green house untuk pembibitan. Tanaman dalam green house, katanya, lebih sehat, tak tersentuh serangga dan penyakit. “Habis Rp9 juta, untuk mendirikan green house,” katanya. Saat panen, ibu hamil dan balita mendapat paket sayuran gratis dari kebun gizi. Mereka memeriksa kesehatan sekaligus mendapat asupan nutrisi untuk tumbuh kembang janin dan balita. Ini untuk mencegah tengkes di Desa Sananrejo. “Setiap ibu hamil dan balita dapat satu kilogram,” katanya. Sebagai kader kesehatan, Gati berharap paket sayuran dan ikan lele diolah dan menjadi asupan gizi bagi ibu hamil dan balita. Sekaligus menjadi pendamping paket pemberian makanan tambahan (PMT) dari Dinas Kesehatan. Selebihnya, sayur mayur dia jual ke pedagang dan membelikan kembali uang hasil penjualan itu untuk membeli bibit. Untuk sayur dengan kualitas buruk, dia jadikan pakan ternak. Air bekas…This article was originally published on Mongabay
Cerita Kebun Gizi Kelompok Perempuan Tani dari Malang
Cerita Kebun Gizi Kelompok Perempuan Tani dari Malang





Comments are closed.