Arina.id – Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat istimewa yang hanya terjadi pada bulan Ramadhan. Umat Islam yang berkesempatan meraih malam tersebut dianggap sangat beruntung, karena pahala ibadah yang dilakukan pada malam itu nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan, atau setara dengan sekitar 83 tahun lebih.
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Hal ini juga dicontohkan langsung oleh beliau yang meningkatkan ibadah secara maksimal pada periode tersebut. Dalam sebuah hadits disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
Artinya: “Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau pada waktu lainnya.” (HR. Muslim)
Kesempatan untuk mendapatkan Lailatul Qadar terbuka bagi seluruh umat Islam. Menurut ulama besar Yahya ibn Sharaf al-Nawawi, pada setiap bulan Ramadhan terdapat banyak orang yang memperoleh keberkahan malam tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan anugerah khusus yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW, dan tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu.
Di sisi lain, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak diketahui secara jelas. Kerahasiaan ini sering menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam mengenai apakah ada tanda-tanda tertentu bagi seseorang yang memperoleh malam mulia tersebut.
Menjawab pertanyaan ini, M. Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa salah satu tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadar adalah terjadinya perubahan besar dalam dirinya.
Seseorang yang sebelumnya mungkin masih sering melakukan kesalahan atau pelanggaran, baik kecil maupun besar, akan merasakan munculnya kesadaran mendalam setelah mendapatkan malam tersebut. Ia mulai menyadari dosa dan kelemahannya di hadapan Allah.
Kesadaran tersebut mendorongnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah serta menyesali kesalahan yang pernah dilakukan. Rasa penyesalan dan kesadaran spiritual inilah yang kemudian mengubah perilaku seseorang secara signifikan, bahkan hingga berbalik arah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan.
Apabila perubahan seperti ini terjadi dalam diri seseorang, maka hal tersebut bisa menjadi indikasi bahwa ia telah meraih keberkahan Lailatul Qadar.
Lebih lanjut, M. Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa kesadaran spiritual semacam ini memang bisa muncul kapan saja. Namun, peluangnya menjadi jauh lebih besar pada malam-malam Ramadhan, terutama pada sepuluh malam terakhir, terlebih bagi mereka yang sejak awal bulan telah berusaha membersihkan dan mendidik jiwanya melalui ibadah.
Kesadaran tersebut dapat menjadi titik awal atau “fondasi pertama” dalam kehidupan seseorang untuk terus menapaki jalan kebaikan sepanjang hidupnya.
Oleh karena itu, pada sisa hari-hari terakhir bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah serta memperbaiki diri, baik secara lahir maupun batin. Dengan usaha tersebut, diharapkan seseorang dapat meraih keberkahan Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. Wallahu a‘lam.





Comments are closed.