Sampah organik maupun non organik perkotaan terus meningkat, seperti di Jakarta, produksi sudah sekitar 8.200 ton per hari, dengan Jakarta Timur tercatat sebagai penyumbang terbesar. Peran para pihak penting dan pengelolaan sampah agar tak terbuang jadi masalah. Salah satu, yang Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta, lakukan dengan memanfaatkan sampah organik dan bernilai ekonomi. Yayasan yang menaungi Swara Hijau Farm ini fokus pada pertanian perkotaan, budidaya maggot, serta pengelolaan sampah organik di permukiman. Saat Mongabay ke lokasi, tampak beberapa warga yang menjadi mitra program tengah sibuk. Ada yang menyiangi sisa makanan untuk pakan maggot, mengurus mini peternakan ayam, merawat tanaman hidroponik, hingga memantau perkembangan ikan di kolam budidaya. Endang Mintarja, pemimpin yayasan mengatakan, salah satu kegiatan utama di lokasi ini adalah budidaya maggot, yang berkontribusi mengurangi sampah organik di lingkungan sekitar. Sampah-sampah organik dari rumah tangga untuk maggot ini. Setelah ada prgram makanan bergizi gratis (MBG), sampah juga dari dapur MBG. Setiap hari, sampah maupun sisa makanan dari dapur MBG sekitar 40–60 kilogram. Kebutuhan pakan maggot berkisar 40–50 kilogram per hari. Ketika panen tiba, produksi maggot bisa 50 kilogram. Sebagian besar langsung dia jual ke pembeli (off taker) dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram. “Jadi, kami menyebutnya gendut dan glowing.” Maggot hasil pengolahan sampah warga manfaatkan untuk pakan ayam. Foto: M. Ambari/Mongabay Indonesia. Pakan ternak Sebagian hasil panen dia juga gunakan untuk pakan ternak dan ikan budidaya mereka di Swara Hijau Farm. Setiap hari perlu maggot sekitar 1–2 kilogram. Agar menghasilkan maggot berkualitas, Endang menerapkan teknik fermentasi pada sisa makanan. Proses…This article was originally published on Mongabay
Cuan Maggot dari Sampah Organik di Jakarta
Cuan Maggot dari Sampah Organik di Jakarta





Comments are closed.