Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Diammu Tak Pernah Netral, Mari Belajar Bersuara di Tengah Ketidakadilan

Diammu Tak Pernah Netral, Mari Belajar Bersuara di Tengah Ketidakadilan

diammu-tak-pernah-netral,-mari-belajar-bersuara-di-tengah-ketidakadilan
Diammu Tak Pernah Netral, Mari Belajar Bersuara di Tengah Ketidakadilan
service

Mubadalah.id – Suatu hari saya terlibat dalam sebuah obrolan dengan beberapa orang yang saya kenal cukup dekat. Awalnya obrolan itu berlangsung biasa saja, bahkan cenderung santai. Tapi pelan-pelan arah pembicaraan berubah. Dari yang awalnya ringan, mulai masuk ke wilayah yang tidak nyaman.

Di antara kami yang hadir, tak ada yang benar-benar menghentikan saat seseorang bicara hal sensitif tersebut. Lainnya memilih diam meski saling lirik sebagai kode, seolah membiarkan saja, sampai kemudian adik perempuan saya tiba-tiba berkata:

“Kayaknya obrolannya sampai di sini aja deh, karena udah nggak sehat.”

Kalimat itu terucapkan dengan pelan, cepat, sederhana, tapi cukup untuk menghentikan sesuatu yang memang sudah tidak layak dilanjutkan. Tanpa suara tinggi dan tidak pula dengan  perdebatan panjang.

Tahu Kapan Harus Bicara

Waktu itu saya merasa takjub. Ternyata menghentikan sesuatu yang tidak pantas itu bisa kita lakukan dengan cara yang tetap tenang, tapi jelas. Sejak hari itu saya mulai sadar, tahu kapan harus bicara dan kapan harus menghentikan sesuatu adalah bagian dari kebijaksanaan. Dan itu bukan cuma berlaku di ruang obrolan langsung, tapi juga di ruang-ruang digital yang kita huni setiap hari.

Pengalaman itu mengingatkan saya pada kejadian tahun 2016. Saat berada di resepsi pernikahan teman, seorang kawan menghubungi saya. Ia bertanya apakah saya mengenal laki-laki yang mengaku sebagai kepala jurusan kami, sembari mengirimkan foto sosok yang sama sekali tidak saya kenali.

Laki-laki tersebut ternyata membangun persona meyakinkan di Facebook dengan memakai seragam ASN dan berfoto di ruang pascasarjana kampus kami seolah-olah ia benar-benar pengajar di sana. Ia bahkan menjalin relasi romantis dengan salah satu teman dari kawan saya itu, yang berujung pada kerugian materi berupa kendaraan bermotor yang dibawa kabur.

Perasaan saya campur aduk. Antara marah dan khawatir, saya merasa ini tidak boleh kita biarkan. Saya langsung membuat postingan peringatan agar tidak ada korban berikutnya, terutama perempuan. Saya pun melaporkan hal ini ke pihak kampus untuk menindaklanjuti pelaku yang bisa jadi memakan korban lebih banyak.

Keberanian untuk Bersuara

Tapi ternyata, bersuara tidak selalu kita terima dengan baik. Ada yang membantu menyebarkan postingan yang saya buat, tapi ada juga yang menanggapi dengan santai,

“Ngapain sih repot-repot, toh kamu nggak dirugikan.”

Bahkan, salah satu reaksi yang tidak pernah saya sangka adalah ada pula yang lebih keras menanggapi postingan saya, dan ia adalah seorang perempuan. Saya dituduh membunuh karakter seseorang. Dinilai telah mempermalukan‘pelaku’ di ruang publik karena menampilkan tangkapan layar profil Facebook pelaku. Saya diancam bisa terlaporkan dengan pelanggaran UU ITE.

Meski akhirnya saya menghapus postingan terkait setelah cukup ramai dan akun pelaku hilang tiba-tiba, setelah kejadian itu, saya sempat diam beberapa waktu bahkan mempertanyakan berulang-ulang, apakah saya berlebihan?

Saat itu, ketika memilih untuk segera memposting pelaku dan apa yang sudah dilakukannya, yang ada di pikiran saya adalah bahwa sudah ada yang dirugikan, kalau ini dibiarkan, bisa jadi akan ada korban berikutnya.

Belakangan saya paham, apa yang saya lakukan ternyata punya pijakan dari salah satu kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

 دَرْءُ الْمَفاَسِدِ مُق َّ دَمٌ عَلىَ جَلْبِ الْمَصَالحِِ

Menolak kemudaratan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.

Mencegah kerugian yang lebih besar terasa lebih penting, meskipun risikonya adalah dianggap tidak menyenangkan. Namun, keberanian untuk bersuara tidak melulu soal menghadapi kejahatan besar atau penipuan publik. Terkadang, ia justru diuji dalam ruang-ruang kecil yang paling privat, dalam bentuk etika dan empati yang paling mendasar.

Sebab, media sosial bukan sekadar etalase digital, ia pun merupakan ruang hubungan antarmanusia. Pengalaman yang saya rasakan saat kehilangan Ibu menjadi pengingat pahit tentang betapa tipisnya batas antara efisiensi teknologi dan hilangnya rasa kemanusiaan.

Media Sosial Bukan Ruang Kosong

Beberapa waktu lalu, saya mendapati kontak Ibu saya dikeluarkan begitu saja dari sebuah grup setelah beliau wafat. Tanpa pemberitahuan, tanpa pengantar. Seolah-olah beliau tidak pernah ada di ruang itu. Padahal sejak awal, kami sudah menyampaikan bahwa meskipun beliau sudah wafat, ponsel beliau berada di bawah kendali kami, anak-anaknya.

Mungkin bagi sebagian orang itu hal sepele. Tapi bagi saya tidak. Ada rasa sulit saya jelaskan ketika seseorang yang sudah tiada diperlakukan seolah tidak perlu diberi ruang penghormatan sekecil apa pun. Padahal, mengeluarkan kontak bisa kita lakukan dengan cara yang lebih manusiawi; minimal dengan mengabari terlebih dahulu.

Pengalaman yang lebih berat tentu saja saat foto kecelakaan Ibu saya beredar. Bahkan setelah beliau wafat, foto itu terus terbagikan tanpa jeda, tanpa empati. Seolah itu hanya sekadar konten. Sebagai keluarga, melihat itu rasanya seperti luka yang terus terbuka ulang di ruang publik.

Saya menyadari bahwa media sosial bukan ruang kosong. Ia penuh dengan manusia yang memiliki perasaan dan cerita yang mungkin tidak kita tahu. Hari ini, ada begitu banyak ketidakadilan terbagikan dengan amat ringan, termasuk kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Kita sering kali hanya lewat begitu saja, merasa menjadi silent reader sudah cukup.

Padahal dalam situasi seperti itu, diam tidak selalu netral. Ketika kita tahu ada yang tidak beres lalu memilih tidak bersikap, sering kali kita sedang membiarkan ketidakadilan itu terus berlangsung. Terlebih di era yang penuh konflik dan diskriminasi, keberpihakan menjadi jauh lebih penting.

Bukan berarti kita tidak boleh memposting hal personal. Namun, penting untuk berefleksi kembali, apakah ruang yang kita miliki–sekecil apa pun itu–juga kita gunakan untuk menunjukkan kepedulian? Kita mungkin tidak punya akses ke ruang formal, tapi kita punya keberpihakan. Satu postingan yang tepat bisa menunjukkan bahwa kita tidak menutup mata.

Anjuran Menahan Diri

Dari semua pengalaman ini, saya belajar bahwa kebijaksanaan di media sosial bukan soal diam atau bicara semata, tapi tahu kapan harus melakukan keduanya. Sejalan dengan itu, Rasulullah sejak ribuan tahun silam telah menegaskan:

 مَنْ كَانَ یؤُْمِنُ باِ َّ  ِ وَالْیوَْمِ الآخِرِ فلَْیقَلُْ خَیْرًا أوَْ لیِصَْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.

Hadis ini bukan semata anjuran menahan diri, tapi ajakan untuk berpikir ulang. Apakah yang kita sampaikan telah berupaya menghapus ketidakadilan? Apakah kita mampu menghadirkan narasi yang berpihak pada kebaikan?

Kita sering menganggap diam sebagai jalan tengah atau posisi aman agar tidak terlibat konflik. Padahal, dalam sebuah ketidakadilan, netralitas adalah mitos. Seperti yang pernah dikatakan oleh Uskup Agung Desmond Tutu, jika kita memilih netral dalam situasi penindasan, sesungguhnya kita telah memilih memihak si penindas.

Diamnya kita tidak berdiri di tengah. Ia justru menjadi karpet merah bagi ketidakadilan untuk terus melenggang tanpa hambatan. Ketika kita memiliki akses untuk meluruskan namun memilih membungkam, saat itulah diam kita berubah menjadi bentuk persetujuan yang hening.

Dunia maya yang tanpa batas sering kali melahirkan manusia yang merasa terlalu bebas. Padahal, kedewasaan sejati justru terlihat dari bagaimana kita bersikap, baik di dunia nyata yang terlihat jelas maupun di dunia maya yang tak kasat mata. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.