Jakarta, Arina.id – Fenomena laut susu (milky seas), yaitu cahaya yang memancar di permukaan samudra pada malam hari, kembali menarik perhatian ilmuwan setelah berhasil dipantau menggunakan satelit milik NASA.
Meski diketahui disebabkan oleh bakteri bioluminesensi, penyebab bakteri tersebut berkumpul dalam jumlah sangat besar hingga menghasilkan cahaya yang dapat terlihat dari luar angkasa masih menjadi misteri.
Profesor atmosfer dari Colorado State University, Steven Miller, mengidentifikasi sedikitnya 12 peristiwa laut susu berdasarkan data satelit periode 2012 hingga 2021. Salah satu fenomena terbesar terjadi pada 2019 dengan luas yang diperkirakan setara wilayah Islandia dan bertahan selama 40 malam berturut-turut.
Fenomena langka ini menghasilkan cahaya yang merata di permukaan laut lepas dan dapat mencakup area hingga puluhan ribu kilometer persegi. Menurut Miller, penelitian terhadap fenomena tersebut tidak hanya penting untuk memahami ekosistem laut, tetapi juga berpotensi membuka wawasan mengenai kemungkinan adanya bentuk kehidupan lain di alam semesta.
“Di mana posisi fenomena ini dalam alam? Apa yang bisa diajarkan tentang kehidupan di lautan?” kata Miller dalam pernyataan resmi NASA dikutip Sabtu (18/7/2026)
Ia menjelaskan bahwa bakteri penghasil cahaya atau bioluminesensi merupakan salah satu bentuk kehidupan paling sederhana. Karena itu, mempelajari mekanisme kemunculan laut susu dinilai dapat memberikan petunjuk penting dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.
Selama lebih dari empat abad, keberadaan laut susu hanya diketahui melalui laporan para pelaut. Salah satu catatan terkenal berasal dari Kapten kapal Moozuffer yang pada 1849 menyaksikan Laut Arab tampak seperti hamparan salju tanpa batas akibat cahaya yang menyelimuti permukaannya.
Kini, perkembangan teknologi memungkinkan fenomena tersebut dipantau secara langsung dari luar angkasa. Pengamatan dilakukan menggunakan sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) yang terpasang pada satelit milik NASA dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Misteri Konsentrasi Bakteri
Ilmuwan telah mengidentifikasi keberadaan bakteri Vibrio harveyi di Laut Arab sejak 1985 sebagai organisme yang memicu fenomena laut susu. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti mengapa bakteri tersebut mampu berkumpul dalam konsentrasi sangat besar sehingga menghasilkan pendaran yang dapat dideteksi satelit.
Mahasiswa doktoral Colorado State University, Justin Hudson, mengatakan fenomena laut susu berpotensi menjadi indikator kondisi lingkungan perairan. Berdasarkan hasil penelitiannya, sebagian besar kejadian laut susu ditemukan di kawasan Laut Arab dan Asia Tenggara.
Para peneliti menduga kemunculan fenomena tersebut berkaitan dengan fluktuasi iklim global, termasuk pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang memengaruhi kondisi perairan.
Hudson menambahkan, pemetaan laut susu juga dapat membantu ilmuwan memahami peran bakteri dalam menjaga keseimbangan ekosistem Bumi.
“Fenomena ini bisa menjadi tanda ekosistem yang sangat sehat, atau justru sebaliknya. Sampai sekarang kami belum mengetahuinya,” ujar Hudson.




Comments are closed.