Jakarta, Arina.id—Apa yang terjadi jika alien tersesat di sebuah kampung di Madura? Pertanyaan yang terdengar mustahil itu justru menjadi pintu masuk Bayu Eko Moektito alias Bayu Skak untuk menghadirkan Film Foufo.
Melalui kisah seekor alien, Bayu tidak sekadar menyuguhkan tontonan science fiction dengan dukungan teknologi computer-generated imagery (CGI). Ia mengajak penonton menyelami kehidupan masyarakat Madura beserta budaya, bahasa, dan nilai-nilai yang mereka junjung.
Di tengah dominasi film horor dalam karya-karyanya, Bayu kali ini memilih keluar dari zona nyaman. Ia menghadirkan film bergenre science fiction yang berpijak pada budaya lokal dan menggunakan bahasa Madura sebagai bagian penting dari cerita.
“Jadi ini adalah upaya untuk mencoba sesuatu yang baru dan keluar dari zona nyaman. Tahun 2024 kemarin kami berhasil dengan horor komedi. Kami tidak mau terus berada di zona nyaman” ujar Bayu ditemui Arina.id usai pemutaran film di Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).
Keberanian itu tidak berhenti pada pilihan genre. Hampir seluruh dialog dalam film menggunakan bahasa Madura, sementara kisahnya dibangun dari hasil riset mengenai kehidupan masyarakat setempat.
Selama sekitar tiga bulan, Bayu bersama tim mengembangkan cerita sekaligus menggali nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Madura. Dari riset tersebut, mereka menemukan satu benang merah yang kemudian menjadi napas film: penghormatan kepada orang tua.
“Orang Madura itu selalu menomorsatukan orang tua. Setelah itu guru atau kiai, baru kemudian pemerintah. Nilai-nilai itulah yang kami jadikan dasar dalam membangun cerita film ini,” katanya.
Nilai tersebut terasa kuat melalui tokoh Muslim, seorang pengepul barang rongsokan yang hidup serba pas-pasan di Kampung Rombeng. Di balik kerasnya kehidupan, ia hanya memiliki satu impian besar, memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci.
Segalanya berubah ketika sebuah UFO jatuh di dekat kampungnya. Dari reruntuhan pesawat luar angkasa itu, Muslim menemukan seekor alien kecil yang terluka. Alih-alih menyerahkannya kepada pihak berwenang, ia memilih merawat makhluk asing itu dan memberinya nama Foufo.
Persahabatan yang tumbuh di antara keduanya menjadi jantung cerita. Namun, ketika energi Foufo semakin menipis dan ia harus kembali ke kapal induknya untuk bertahan hidup, Muslim dihadapkan pada pilihan yang sulit. Menggunakan kemampuan Foufo demi mewujudkan impian sang ibu berhaji, atau mengorbankan impian tersebut demi menyelamatkan sahabat yang datang dari planet lain.
Konflik itu membawa penonton pada perenungan tentang makna keluarga, keikhlasan, dan pengorbanan. Di balik kisah alien, Foufo sesungguhnya berbicara tentang kemanusiaan.
Foufo juga tidak hanya menawarkan kisah persahabatan manusia dan alien. Film ini juga berupaya mematahkan berbagai stigma yang selama ini melekat pada etnis Madura.
Bagi pemeran Inayah Wulandari, kekuatan film ini juga terletak pada cara Madura ditampilkan. Bukan melalui stereotip yang selama ini sering muncul di layar kaca, melainkan lewat keseharian masyarakatnya yang apa adanya.
“Menurutku yang menarik dari film ini itu konsepnya. Budaya Madura ditampilkan secara pop. Kita tidak menemukan stigma yang biasanya muncul seperti logat yang selalu keras dan kasar. Yang ditampilkan justru bahasa Madura yang riil,” ujarnya.
Suasana kekeluargaan juga terasa selama proses produksi. Sebagian besar pemain dan kru berasal dari Jawa Timur sehingga lokasi syuting terasa seperti rumah sendiri.
“Begitu datang ke lokasi syuting rasanya seperti pulang kampung karena semuanya menggunakan bahasa Jawa,” katanya sambil tersenyum.
Film ini pun mendapat apresiasi dari mantan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin. Menurutnya, Foufo berhasil menyisipkan kritik sosial melalui humor yang cerdas.
Salah satu adegan yang berkesan baginya adalah dialog mengenai gaji guru yang hanya Rp300 ribu. Bagi Lukman, lelucon itu bukan sekadar pemancing tawa, tetapi juga satir terhadap realitas sosial.
“Joke seperti itu sangat menghibur, tetapi juga mengandung satir. Itu bentuk kritik sosial yang khas Madura,” ujarnya.
Suraji, mengaku tersentuh setelah menonton film Foufo garapan Bayu Skak. Hal pertama yang terlintas di benaknya setelah menonton adalah sosok ibunya. Baginya, ibu merupakan pusat kehidupan masyarakat Madura.
“Aku langsung ingat ibuku,” katanya.
Menurut Suraji, kekuatan film Foufo terletak pada skenario yang mampu menghadirkan nilai-nilai khas masyarakat Madura secara lugas.
“Pesannya sangat tegas. Value-nya sangat kita banget. Orang Madura itu ibu segala-galanya. Yang kedua, kesederhanaan, kejujuran. Kita nggak perlu pencitraan. Hidup yang penuh tantangan dan keterbatasan itu dijalani dengan lugas.”
Selain mengangkat sisi budaya, Suraji menilai Foufo juga menyampaikan pesan bahwa ibadah haji hanya diwajibkan bagi umat Islam yang mampu, sehingga tidak perlu dipaksakan demi mengikuti tuntutan sosial.
“Kita beragama harus juga pakai nalar. Agama itu tidak membebani. Perintah haji itu kalau yang mampu. Kalau nggak mampu ya nggak usah dipaksain.”
Bagi Suraji, nilai utama yang ditawarkan film tersebut justru terletak pada semangat saling menolong dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Film ini menghadirkan nilai agama karena masyarakat Madura memang agamis. Tapi saya melihat sisi lain, yaitu kemanusiaan yang utuh dalam film ini,” tandasnya.




Comments are closed.