Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Halaqah Pra Muktamar di Ciganjur Usul Pertegas Batas Peran Kader NU di Pemerintahan

Halaqah Pra Muktamar di Ciganjur Usul Pertegas Batas Peran Kader NU di Pemerintahan

halaqah-pra-muktamar-di-ciganjur-usul-pertegas-batas-peran-kader-nu-di-pemerintahan
Halaqah Pra Muktamar di Ciganjur Usul Pertegas Batas Peran Kader NU di Pemerintahan
service

Jakarta, Arina.id—Pesantren Luhur Ciganjur menggelar Halaqah Pra-Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) bertema “Masa Depan Nahdlatul Ulama: Kepemimpinan Abad Kedua” sebagai bagian dari upaya menghimpun gagasan dan rekomendasi untuk Muktamar NU.

Kegiatan yang digelar sejak pagi itu menghasilkan delapan rekomendasi yang akan diusulkan sebagai bahan pembahasan dalam Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. 

Sementara itu, Ketua Alumni Pesantren Ciganjur, H Syaifullah Amin, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari halaqah bertajuk “Pra-Muktamar: Quo Vadis NU? Apakah NU Masih Milik Umat?” yang digelar di Pesantren Luhur Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Sabtu (4/7/2026). 

“Harapannya nanti hasil rekomendasi dari acara ini bisa disampaikan kepada panitia bidang materi Muktamar. Sebagian panitianya juga hadir di sini, sehingga ada jaminan bahwa materi yang berkembang dalam forum ini akan dibahas di Muktamar,” jelasnya.

Berikut 8 rekomendasi halaqah pra Muktamar di Ciganjur 

Pertama, forum menyatakan NU sebagai kekuatan civil society harus menjaga relasi masyarakat, pemerintahan (penyelenggara negara), dan pasar (swasta) berdasarkan prinsip tawasuth (seimbang) dan I’tidal (adil) demi tercapainya mabadi khaira ummah (umat terbaik).

Kedua, NU harus berkontribusi secara bermakna dan berdampak bagi perbaikan kebijakan, program, dan tata kelola urusan publik agar tercipta kemaslahatan bersama (assiyasah al-‘aliyah assamiyah).

Ketiga, PBNU harus menyusun code of conduct bagi kader-kadernnya yang aktif di dalam pemerintahan dan lembaga negara demi terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Keempat, NU harus memperkuat perannya sebagai organisasi sosial keagamaan (jam’iyah diniyah ijtima’iyah) berdasarkan prinsip-prinsip maqashid syariah.

Kelima, meneguhkan kembali Khittah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan yang berorientasi pada pendampingan, pemberdayaan, advokasi, dan penguatan masyarakat serta penyelesaian konflik yang dialami rakyat sebagai lokomotif transformasi sosial melalui optimalisasi fungsi lembaga-lembaga NU.

Keenam, mengarusutamakan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai paradigma dalam merespons persoalan sosial, ekonomi, kebangsaan, dan kebijakan publik, termasuk melalui pengembangan fikih muamalah, fikih sosial, dan siyasah, untuk mengembangkan pemberdayaan masyarakat berbasis kemandirian ekonomi digital, di samping penguatan kapasitas sosial dan politik, melalui penguatan ekosistem ekonomi Nahdliyin yang berkelanjutan.

Ketujuh, mewujudkan NU yang inklusif atas penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas dengan mengimplementasikan Fikih Penyandang Disabilitas, memperluas akses layanan, serta memastikan keterlibatan penyandang disabilitas dalam seluruh jenjang organisasi dan badan otonom.

Kedelapan, menciptakan sistem kaderisasi NU yang tidak hanya menanamkan wawasan ke-NUan dan keagamaan, tetapi juga membekali kader dengan kemampuan membaca realitas sosial, ekonomi, politik, dan kebijakan publik, termasuk melalui penyempurnaan pola kaderisasi yang adaptif, serta menyempurnakan tata kelola dan peraturan organisasi agar lebih responsif terhadap perkembangan zaman, memperkuat akuntabilitas organisasi, serta mendukung efektivitas pelayanan kepada masyarakat dengan memperkuat infrastruktur organisasi dan membangun ruang partisipasi yang sehat dan berkesadaran kritis bagi kader dan warga Nahdliyin sebagai wadah dialog, kritik, inovasi, serta pengembangan gagasan dalam bingkai tradisi intelektual NU sehingga mampu melahirkan kepemimpinan yang sesuai dengan cita-cita qanun asasi.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.