Dengarkan artikel ini:
Puisi lama Fadli Zon soal karhutla kembali ramai diperbincangkan. Apakah romantisisme memang telah menjadi denyut nadi Partai Gerindra?
“Melalui puisi, kita dapat merekam pengalaman batin, menyampaikan harapan, kegelisahan, bahkan kritik sosial dengan cara yang lebih reflektif dan manusiawi.”
– Fadli Zon, Menteri Kebudayaan (3/6/2026)
Suatu sore, Cupin menemukan sebuah unggahan lama beredar kembali di lini masanya. Unggahan itu memuat “Sajak Sepatu Kotor”, puisi yang dulu ditulis Fadli Zon pada 20 September 2019 untuk mengkritik penanganan kebakaran hutan dan lahan di era pemerintahan sebelumnya.
Puisi itu berbicara tentang sepasang sepatu kotor yang dipamerkan di tengah kobaran api. Bagi Cupin, yang menarik bukan hanya isinya, melainkan bagaimana sebuah sajak bisa hidup kembali bertahun-tahun setelah ditulis.
Fadli Zon memang bukan politikus biasa dalam soal ini. Alumnus Sastra Rusia Universitas Indonesia itu telah lama menjadikan puisi sebagai instrumen berkomunikasi, jauh sebelum ia menjabat sebagai Menteri Kebudayaan.
Kini, di posisi yang berbeda, kegemaran itu justru semakin terlembaga. Ia menetapkan 26 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia, berziarah ke makam Chairil Anwar, dan membacakan sajak untuk Bung Tomo di panggung kenegaraan.
Cupin lantas teringat bahwa kecenderungan estetik ini tidak berdiri sendiri. Di pucuk pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto kerap berbicara tentang kejayaan bangsa, memanggil semangat Generasi ’45, dan membingkai masa depan dalam visi Indonesia Emas 2045.
Ada benang merah yang terasa, meskipun belum sepenuhnya terang bagi Cupin. Seolah-olah puisi dan kejayaan itu adalah dua hal yang berasal dari sumber yang sama.
Maka, dua pertanyaan menggantung di benak Cupin sore itu. Apakah kegemaran Fadli Zon pada puisi dan hasrat Prabowo pada kejayaan hanyalah selera pribadi yang kebetulan bertemu? Ataukah keduanya merupakan tanda dari watak politik yang lebih besar, yang selama ini melekat pada Gerindra?
IG
Romantisisme sebagai Denyut Gerindra
Untuk menjawab rasa penasaran itu, Cupin menelusuri sebuah tradisi pemikiran yang berumur dua abad. Dalam teori politik, kecenderungan memandang bangsa sebagai sesuatu yang berjiwa dikenal dengan istilah romantic nationalism atau nasionalisme romantik.
Gagasan ini lahir di Jerman pada akhir abad ke-18 sebagai jawaban atas rasionalisme yang dianggap terlalu dingin. Filsuf Johann Gottfried von Herder memperkenalkan konsep Volksgeist, yakni roh kolektif yang membuat setiap bangsa memiliki watak yang unik.
Menurut Herder, roh bangsa itu tidak tersimpan di dalam undang-undang, melainkan di dalam bahasa, cerita rakyat, dan puisi. Dari sudut pandang ini, Cupin mulai memahami bahwa menghidupkan sastra bukanlah urusan sepele, melainkan cara merawat nyawa sebuah bangsa.
Filsuf lain, Johann Gottlieb Fichte, menambahkan dimensi waktu pada gagasan tersebut. Dalam pidatonya yang termuat pada Reden an die deutsche Nation, ia menggambarkan bangsa sebagai tubuh hidup yang menyatukan mereka yang telah tiada, yang masih hidup, dan yang belum lahir.
Cupin merasa kerangka Fichte ini menjelaskan banyak hal. Ketika Prabowo menolak anggapan bahwa pemikiran para pendiri bangsa sudah usang, ia sesungguhnya sedang berbicara dalam tata bahasa yang sama, yakni bangsa yang terikat lintas generasi.
Ada pula Friedrich Schiller yang menegaskan bahwa keindahan adalah sekolah bagi jiwa warga negara. Baginya, seni bukan hiasan bagi politik, melainkan sarana membentuk warga yang utuh dan mampu merasakan cita-cita bersama.
Dari ketiga pemikir itu, Cupin menemukan tautan yang tadinya samar. Puisi Fadli Zon bukan pengalih perhatian dari proyek kejayaan Prabowo, melainkan infrastruktur emosional yang menopangnya.
Kejayaan, bagaimanapun, membutuhkan warga yang mampu merasakannya terlebih dahulu. Sajak Chairil Anwar, kenangan kejayaan Majapahit, dan warisan Generasi ’45 menjadi bahan bakar bagi imajinasi kolektif itu.
Cupin pun menyadari bahwa pola ini bukan keganjilan lokal. Presiden Léopold Sédar Senghor di Senegal adalah penyair yang menjadikan Négritude sebagai politik, sementara Presiden Xi Jinping di Tiongkok merajut legitimasi lewat gagasan peremajaan agung bangsanya.
Indonesia, dalam pengamatan Cupin, menempati posisi yang khas di antara keduanya. Ia memadukan nada restoratif yang memuliakan masa lalu dengan semangat emansipatoris yang menyembuhkan luka bangsa pascakolonial.
Namun, satu hal tetap membedakan Indonesia dari model lain. Di sini, romantisisme itu bekerja dalam kerangka demokrasi, sehingga kebanggaan harus terus dimenangkan kembali, bukan sekadar diwariskan.
Sampai di titik ini, Cupin kembali dihadapkan pada dua pertanyaan. Jika romantisisme memang menjadi denyut Gerindra, apa sesungguhnya fungsi politik yang dijalankannya? Lalu, adakah risiko yang perlu diwaspadai dari cara memerintah yang bersandar pada perasaan dan imajinasi?
IG
Antara Sajak dan Kenyataan, Menakar Romantisisme
Cupin mendapati bahwa romantisisme nasional menjalankan sejumlah fungsi yang nyata. Di negara dengan ratusan kelompok etnis, narasi kejayaan bersama menjadi perekat yang menembus sekat identitas, sebagaimana dahulu Bung Karno memanggil Sriwijaya dan Majapahit.
Fungsi lainnya berkaitan dengan kesabaran kolektif. Janji kejayaan masa depan memberi makna pada kerja keras hari ini, sehingga pengorbanan dapat dibaca sebagai investasi bagi generasi mendatang.
Meski begitu, Cupin memahami bahwa setiap kekuatan menyimpan tantangannya sendiri. Sosiolog Benedict Anderson dalam bukunya Imagined Communities mengingatkan bahwa bangsa adalah komunitas terbayang yang perlu terus dirawat melalui narasi.
Justru karena bersifat terbayang, imajinasi kolektif itu memerlukan penyeimbang agar tetap berpijak pada kenyataan. Di sinilah letak tantangan romantisisme, yakni bagaimana menjaga agar keindahan narasi tidak mengaburkan pekerjaan konkret yang menantinya.
Cupin merenung bahwa sajak dan data sejatinya berbicara dalam dua bahasa yang berbeda. Sajak menggerakkan hati, sedangkan data mengukur pencapaian, dan sebuah pemerintahan yang matang membutuhkan keduanya secara berimbang.
Filsuf Friedrich Schiller sekalipun tidak pernah menempatkan keindahan sebagai pengganti nalar. Ia justru membayangkan sintesis, yakni perpaduan antara rasa dan rasionalitas yang saling melengkapi.
Maka dari itu, tantangan sesungguhnya bukanlah memilih antara romantisisme dan realisme. Tantangannya adalah menautkan keduanya, agar visi kejayaan yang megah dapat diterjemahkan menjadi program yang terukur dan dirasakan rakyat.
Cupin menyadari bahwa pekerjaan menjembatani sajak dan kenyataan itu memang tidak sederhana. Ia menuntut disiplin, ketekunan, dan kejujuran dalam membaca capaian, tanpa harus kehilangan daya imajinasi yang menyalakan semangat.
Pada akhirnya, Cupin menutup renungannya dengan sebuah kesadaran yang lebih jernih. Romantisisme Gerindra, dengan puisi dan kejayaannya, adalah upaya untuk membuat sebuah bangsa merasa layak menjadi besar, dan keyakinan itu sendiri merupakan modal yang berharga.
Sejarah akan menilai sejauh mana imajinasi kejayaan ini menjelma menjadi kesejahteraan yang nyata bagi rakyat. Untuk saat ini, yang bisa dikatakan Cupin adalah bahwa memahami tata bahasa sajak dan kejayaan merupakan kunci untuk membaca arah bangsa menuju 2045, sebuah perjalanan yang layak dikawal dengan harapan sekaligus kepala yang dingin. (A43)





Comments are closed.