Jakarta, Arina.id– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa penguasaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan bagi dunia pesantren di tengah pesatnya perkembangan teknologi global.
Hal tersebut disampaikan Gus Yahya saat memberikan arahan dalam Peluncuran Gerakan Pesantren Cakap Artificial Intelligence (AI) yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bekerja sama dengan Microsoft Global, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026).
“Gerakan Cakap AI ini sebetulnya adalah kebutuhan yang tidak mungkin kita elakkan, mengingat bagaimana AI semakin dominan dalam urusan-urusan umat manusia dewasa ini,” ujar Gus Yahya.
Menurutnya, tantangan terbesar dari perkembangan AI bukan hanya terletak pada aspek teknologinya, melainkan pada kesiapan manusia dalam menghadapinya. Ia menilai umat manusia, termasuk dunia pesantren, pada dasarnya masih gagap menyesuaikan diri dengan laju perkembangan teknologi yang melampaui kesadaran kolektif manusia.
“Teknologi berkembang lebih cepat daripada rata-rata kesadaran umat manusia. Ketika AI sudah berkembang begitu luas, manusianya sendiri sebetulnya belum cukup siap untuk menghadapi itu,” katanya.
Menurutnya, teknologi AI memiliki kemampuan belajar dan berkembang secara mandiri dengan kecepatan yang jauh melampaui manusia. Bahkan, ia menyinggung kekhawatiran sejumlah tokoh teknologi dunia, termasuk Elon Musk, yang sempat mengusulkan penundaan penggunaan AI karena potensi risikonya yang besar.
Terlebih belum adanya regulasi yang secara khusus mengatur penggunaan AI, baik di Indonesia maupun di tingkat global.
“Orang sekarang sudah bisa bikin film, movie, tanpa bangsa manusia itu sudah bisa, hanya dengan AI. AI itu bisa menciptakan manusia di dalam film. AI bisa memalsukan wajah siapa pun untuk mengatakan apa pun dengan menirukan suaranya, dan seterusnya. Ini luar biasa. Belum ada hukum yang mengatur itu,” kata Gus Yahya.
Sebagai contoh, Gus Yahya menyebut Vatikan yang telah membentuk lembaga khusus bernama Renaissance Foundation untuk membahas isu-isu etika dalam pengembangan dan penggunaan AI. Namun hingga kini, rumusan etika dan norma operasional AI masih belum jelas.
“Renaissance itu kan tulisannya ren-AI-ssance, jadi ada AI-nya di situ. Ini entitas yang dimaksudkan untuk meng-address masalah-masalah etik di dalam artificial intelligence itu. Nah, rumusan etikanya seperti apa? Belum ada karena belum ada norma yang jelas, yang tertulis, yang bisa dianggap sebagai semacam hukum positif terkait AI ini, kita tidak bisa selain bersandar kepada manusia-manusia penggunanya,” tuturnya.
Dalam konteks tersebut, Gus Yahya menilai keterlibatan dunia pesantren dalam pengembangan literasi AI menjadi sangat strategis. Pesantren tidak hanya perlu memahami teknologi, tetapi juga berperan dalam merumuskan etika penggunaannya.
“Kita asumsikan bahwa di dunia pesantren itu yang pertama diajarkan adalah soal akhlak, soal etika, maka ketika dunia pesantren berinteraksi dengan AI, dengan sendirinya kita harapkan kemudian tumbuh pemikiran-pemikiran, gagasan-gagasan, wawasan-wawasan tentang bagaimana seharusnya etika menuntun orang di dalam menggunakan AI,” kata Gus Yahya.
Gus Yahya berharap nilai-nilai akhlak pesantren dapat menginspirasi lahirnya norma-norma penggunaan AI yang lebih operasional di masa depan.
“Kita bahkan bisa berharap bahwa di kemudian hari ada pemikiran tentang rumusan-rumusan norma yang lebih operasional tentang penggunaan Artificial Intelligence (AI) ini yang diinspirasi oleh akhlak yang diajarkan di dunia pesantren,” harapnya.
Gus Yahya mengapresiasi inisiatif RMI PBNU dan Microsoft Global dalam meluncurkan Gerakan Pesantren Cakap AI, meskipun ia mengakui bahwa langkah tersebut tergolong terlambat jika dibandingkan dengan perkembangan global.
“Kita baru mau mulai, agak telat. Tapi kalau tidak segera mulai, jangan sampai dunia pesantren menjadi makhluk purbakala yang dianggap punah karena tidak mampu menyesuaikan diri,” tegasnya.
Program ini ditargetkan melatih sekitar 40 ribu peserta. Gus Yahya berharap gerakan tersebut tidak berhenti pada angka tersebut, melainkan berkembang secara mandiri melalui partisipasi aktif komunitas pesantren.
Dengan menjadikannya gerakan, 40 ribu orang ini diharapkan akan terus menggalang keseluruhan konstituensi dunia pesantren agar lebih cakap memahami artificial intelligence (AI).
“Mudah-mudahan dengan cara ini masa depan yang kita tidak tahu akan seperti apa itu akan jadi sesuatu yang dunia pesantren sendiri lebih siap menghadapinya, lebih mampu memberikan tanggapan yang konstruktif dan bermakna bagi bukan hanya kehidupan pesantren sendiri tapi juga bagi kemanusiaan selanjutnya,” pungkas Gus Yahya.





Comments are closed.