Organisasi Hijau Muda Baik (HMB) menyelenggarakan pelatihan peningkatan kapasitas anak muda bertema “Merekam Kekayaan Pangan Lokal untuk Keberlanjutan Masa Depan” pada Selasa, 14 Juli 2026. Kegiatan yang didukung Yayasan KEHATI ini bertempat di Budi Daya Honest Farm & More, Pisangan, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber ahli untuk membekali anak muda dari wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi dengan pengetahuan mendalam tentang isu pangan nusantara dan keanekaragaman hayati.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkini dari Susenas Modul Konsumsi, pola konsumsi pangan nasional masih didominasi beras. Pada Maret 2025 tercatat pengeluaran konsumsi penduduk masih terus bergantung pada beras sebagai pangan pokok utama. Sementara konsumsi pangan lokal seperti umbi-umbian, jagung, dan sagu, cenderung menurun di banyak wilayah Indonesia.
Hal ini menjadi urgensi dibutuhkannya pelatihan-pelatihan yang mampu mengkampanyekan serta mendorong diversifikasi pangan sesuai potensi dan budaya di wilayah masing-masing. Sehingga tidak hanya bergantung pada beras atau gandum sebagai pokok utama.
Puji Sumedi, Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI menjelaskan Indonesia merupakan mega-biodiversity country yang memiliki ribuan spesies tanaman pangan, buah, sayur, dan rempah. Ini bisa menjadi modal penting untuk berdaulat pangan menuju Indonesia Emas 2045.
Sayangnya, kata dia, pangan lokal yang sebenarnya kaya nutrisi dan gizi seperti umbi-umbian, sagu tidak mampu dijaga masyarakatnya karena sering dianggap kuno dan norak jika mengkonsumsinya. “Hal ini dipengaruhi faktor budaya dari luar yang mendoktrin produk-produk makanan ‘junkfood’ dan ‘fastfood’ lebih baik dengan harga yang justru lebih mahal daripada makanan dari pangan lokal,” katanya.
Ahmad Arif, Co-founder Nusantara Food Biodiversity, menyatakan Data Pangan Nusantara menyoroti pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia yang makin homogen ke beras dan terigu. Ini menyebabkan ketergantungan terhadap impor gandum.
Ia menekankan pentingnya kembali ke pangan lokal yang sebenarnya lebih murah, segar, dan bernutrisi. “Selain itu, dapat menciptakan kemandirian pangan Indonesia sampai ke daerah-daerah, ucap dia.
Rama Tantra, Ketua Hijau Muda Baik menyatakan dari materi-materi yang dipaparkan narasumber ini membuka mata kita bahwa pangan lokal bukan hanya soal makanan. Tapi juga identitas budaya, kesehatan, dan kemandirian bangsa.
“Maka penting sekali informasi ini disebarluaskan ke publik agar bangga dengan pangan lokal kita di daerah masing-masing dan tidak mudah terpengaruh terhadap budaya atau makanan dari luar Indonesia,” kata dia.
Selain sesi pemaparan materi dan diskusi, pelatihan ini juga belajar langsung di kebun sederhana milik Max Gelinek perihal praktik baik “Budidaya Pangan dan Ekosistem Lingkungan” yang dia lakukan. Max menjelaskan langsung bagaimana sistem perkebunan hingga proses menghasilkan produk bernilai tinggi dari hasil kebunnya.
“Selain itu juga menjelaskan praktik budi daya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Thoriq, peserta dari Depok, menyampaikan, dari pelatihan ini ia jadi belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam dan perlu dijaga, serta didokumentasikan sebagai bagian dari keanekaragaman hayati.
Ia berharap agar pelatihan seperti ini dapat dilakukan di daerah lain, sekaligus praktiknya. “Sehingga banyak generasi muda yang peduli terhadap pangan lokal serta bisa berkontribusi dalam pelestarian, promosi, dan pemanfaatannya sebagai bagian dari ketahanan pangan Indonesia,” kata dia.
Seri akhir pelatihan ini adalah mempelajari cara menggunakan platform Nusantara Food Biodiversity untuk mendokumentasikan, berbagi informasi, dan mendukung pelestarian pangan lokal melalui pemanfaatan teknologi.
Sedikitnya, ada 16 peserta dalam pelatihan ini. Mereka antusias mengikuti setiap paparan dan diskusi interaktif sejak awal hingga akhir. Pelatihan ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kemampuan generasi muda dalam mendokumentasikan serta mempromosikan kekayaan pangan lokal Indonesia sebagai bagian dari upaya ketahanan dan kedaulatan pangan berkelanjutan, dan pelestarian biodiversitas.
Rama mengajak peserta pelatihan mulai berkomitmen terhadap diri masing-masing untuk bisa menjadi pahlawan pangan nusantara atau Heroes Nusantara Food. “Ini untuk kedaulatan pangan di masa depan.” tutur dia.





Comments are closed.