Fri,14 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Hokkien Kuasai Dunia?

Hokkien Kuasai Dunia?

hokkien-kuasai-dunia?
Hokkien Kuasai Dunia?
service

Dengarkan artikel berikut.

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Empat raksasa chip dunia berakar dari satu jalur migrasi kecil di pesisir selatan Tiongkok—tapi rahasianya bukan darah, melainkan sejarah yang dijawab dengan kesabaran generasi demi generasi.


PinterPolitik.com

Di dua kantor pusat yang berjarak ribuan kilometer, dua orang yang berbagi garis darah yang sama sedang bersaing memperebutkan masa depan kecerdasan buatan dunia. Jensen Huang, lahir di Taipei, memimpin Nvidia—perusahaan paling bernilai di planet ini. Lisa Su, lahir di Tainan, memimpin AMD, rival utama Nvidia di pasar chip grafis dan pemrosesan AI.

Keduanya bersepupu. Fakta ini bukan rahasia baru—sudah dikonfirmasi kedua pihak sejak beberapa tahun lalu—tapi belakangan ia dibungkus ulang jadi konten viral yang menyebut empat raksasa chip dunia, Nvidia, AMD, TSMC, dan Intel, semuanya dipimpin eksekutif berakar dari satu sub-etnis Tionghoa yang sama, Hokkien, dari provinsi Fujian di selatan Tiongkok—seolah ada satu jaringan tersembunyi yang sengaja disusun di baliknya.

Framing semacam itu menarik secara algoritma, tapi keliru secara analitis—dan berbahaya secara politik jika dibiarkan tanpa koreksi. Sebab di baliknya tersembunyi pertanyaan yang jauh lebih layak dijawab serius: benarkah ada faktor historis yang menjelaskan kenapa satu jalur migrasi kecil dari pesisir selatan Tiongkok kini menduduki kursi kepemimpinan di industri paling strategis abad ini? Jawabannya ada, tapi ia bukan cerita tentang darah atau jaringan rahasia. Ia cerita tentang geografi, kebijakan negara, dan bagaimana kelompok yang tersingkir dari satu jalur kekuasaan belajar membangun jalur lain.

Bukan Klan, Tapi Sejarah

Ada pepatah lama Tiongkok yang berbunyi min zai haizhong—Fujian ada di tengah laut. Wilayah ini bergunung dan miskin lahan subur, tapi memiliki garis pantai sepanjang lebih dari tiga ribu kilometer dengan ratusan pelabuhan alami. Sejak abad kedelapan, penduduknya, yang kelak dikenal dunia sebagai Hokkien, tidak punya pilihan selain menjadikan laut sebagai ladang.

Jaringan dagang mereka menjangkau dari Korea hingga Jawa, mencapai puncaknya pada masa Dinasti Song ketika Quanzhou menjadi pelabuhan ekspor terpenting Tiongkok. Yang membedakan pedagang Hokkien dari kelompok lain bukan sekadar keberanian mengarungi laut, melainkan cara mereka membangun komunitas “sojourner”—singgah, berdagang, mendirikan kelenteng Mazu sebagai jangkar sosial, lalu menjalin kepercayaan lintas generasi meski tersebar di ratusan pelabuhan asing. Inilah cikal-bakal apa yang generasi sekarang sebut jaringan diaspora.

Jalur migrasi inilah yang kelak bercabang dua, dan percabangan itu penting untuk diluruskan karena narasi viral sering menyederhanakannya jadi satu garis lurus. Satu cabang menetap di Taiwan, menjadi mayoritas penduduk pulau itu setelah gelombang migrasi abad ketujuh belas dan delapan belas—dari sinilah lahir Jensen Huang dan Lisa Su. Cabang lain berlayar lebih jauh ke selatan, menetap di Semenanjung Malaya dan Singapura, membangun komunitas dagang di Penang dan Melaka sejak abad kesembilan belas—dari jalur inilah lahir Lip-Bu Tan, CEO Intel, dan Hock Tan, CEO Broadcom, dua tokoh yang besar di Malaysia dan Singapura, bukan Taiwan. Kedua cabang berbagi akar leluhur yang sama di Fujian selatan, tapi mengalami sejarah kolonial, tekanan politik, dan proses asimilasi yang sangat berbeda selama tiga abad terakhir. Menyatukan keduanya sebagai satu kelompok yang sama tanpa membedakan jalur historisnya adalah bentuk penyederhanaan yang mengorbankan ketelitian demi efek dramatis.

Tapi sejarah lisan pedagang perantau abad pertengahan hanya menjelaskan sebagian kecil dari cerita hari ini. Bagian terbesarnya justru berasal dari sesuatu yang jauh lebih modern dan jauh lebih bisa dijelaskan tanpa menyebut etnis sama sekali: kebijakan negara. TSMC, perusahaan yang secara harfiah mencetak chip untuk hampir seluruh raksasa teknologi dunia, bukan lahir dari inisiatif dagang keluarga. Ia didirikan lewat dorongan negara Taiwan pada awal 1980-an, ketika pemerintah lewat lembaga riset ITRI secara sengaja merekrut Morris Chang—yang datang dari Zhejiang, bukan Fujian, dan karena itu bukan Hokkien sama sekali—untuk membangun industri semikonduktor sebagai proyek strategi nasional.

Pola ini identik dengan yang oleh ilmuwan politik Chalmers Johnson disebut developmental state: negara yang secara sadar memilih satu sektor sebagai taruhan masa depan bangsa, lalu mendanainya secara konsisten selama puluhan tahun tanpa tergoda hasil instan. Korea Selatan melakukannya lewat chaebol, Jepang lewat zaibatsu, Taiwan lewat semikonduktor. Yang menentukan bukan darah siapa yang memimpin perusahaan itu, melainkan keberanian negara memilih dan bertahan pada satu arah industri.

Faktor kedua yang sering luput adalah efek seleksi migrasi. Orang-orang yang berhasil menembus MIT, Stanford, atau Yale pada dekade 1960 hingga 1980-an bukan sampel acak dari populasi Hokkien-Taiwan atau Hokkien-Malaysia. Mereka adalah hasil saringan berlapis—keluarga dengan akses modal, koneksi, dan keberuntungan tertentu yang memungkinkan anaknya kuliah lintas benua di masa ketika hal itu sangat mahal dan sangat jarang. Melihat kesuksesan Jensen Huang, Lisa Su, C.C. Wei, dan Lip-Bu Tan lalu menyimpulkan “orang Hokkien memang unggul” adalah kekeliruan logika klasik yang oleh para filsuf ilmu disebut fallacy of composition—mengambil ciri segelintir individu istimewa dan menempelkannya ke seluruh kelompok etnis asal mereka.

Yang tersisa, dan inilah yang paling bisa dipertanggungjawabkan secara sosiologis, adalah pola konversi modal yang dijelaskan sosiolog Pierre Bourdieu: ketika satu kelompok tersingkir dari jalur modal politik, energinya secara struktural berpindah ke modal ekonomi dan modal kultural—dalam hal ini pendidikan teknis. Diaspora Hokkien di Taiwan pasca-1949 hidup di bawah rezim pendatang Kuomintang yang menutup jalur politik bagi penduduk lokal; diaspora Hokkien-Malaysia hidup sebagai minoritas dalam sistem yang membatasi akses mereka ke birokrasi negara.

Ekonom Amy Chua menyebut fenomena serupa di banyak negara sebagai market-dominant minorities—kelompok etnis minoritas yang menguasai sektor ekonomi kunci justru karena jalur kekuasaan politik konvensional tertutup bagi mereka. Pola ini bukan eksklusif Hokkien. Ia juga berlaku pada diaspora India di Silicon Valley hari ini, diaspora Yahudi-Amerika di sektor keuangan generasi sebelumnya, dan—yang paling relevan bagi pembaca Indonesia—diaspora Tionghoa di tanah air sendiri pasca-1965, ketika larangan berpolitik dan berbirokrasi mendorong energi komunitas ini nyaris seluruhnya ke sektor swasta.

Pelajaran, Bukan Warisan Darah

Ironisnya, justru di titik inilah narasi viral tadi seharusnya berhenti menjadi bahan lelucon media sosial dan mulai menjadi bahan refleksi kebijakan. Pertanyaan yang lebih produktif bukan “kenapa orang Hokkien menguasai chip dunia”, melainkan “kenapa Indonesia, dengan diaspora Tionghoa yang historisnya juga kuat di perdagangan, tidak pernah punya TSMC versi sendiri”. Jawabannya bukan soal darah, melainkan soal negara:

Taiwan memilih satu sektor pada awal 1980-an dan bertahan di sana selama empat dekade penuh, melewati tiga pergantian rezim politik tanpa mengubah arah kebijakan industrinya. Indonesia punya pengalaman yang mirip sekaligus berbeda lewat kebijakan hilirisasi nikel satu dekade terakhir—satu-satunya contoh kontemporer ketika negara ini benar-benar memilih satu komoditas strategis dan memaksakan pengolahannya di dalam negeri. Bedanya, hilirisasi nikel baru menyentuh tahap pengolahan bahan mentah, belum menembus lapisan riset dan desain berteknologi tinggi seperti yang dicapai Taiwan lewat semikonduktor. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kesabaran kebijakan industri bukan sesuatu yang asing bagi Indonesia—hanya belum pernah diarahkan sejauh dan sedalam yang dilakukan Taiwan pada sektor yang menuntut riset generasi demi generasi.

Ada baiknya kita berhenti sejenak pada gambar Jensen Huang dan Lisa Su, dua sepupu yang kini memimpin dua perusahaan saingan di titik paling menentukan revolusi kecerdasan buatan. Bukan koinsidensi biologis itu yang layak dikenang, melainkan apa yang ada di baliknya: ribuan keluarga lain dari jalur migrasi yang sama, yang mengirim anak-anaknya kuliah teknik dengan taruhan seluruh tabungan keluarga, sebagian besar tidak pernah menjadi CEO perusahaan triliunan dolar, dan sejarah tidak mencatat nama mereka. Yang kita saksikan hari ini hanyalah puncak gunung es dari populasi besar yang mengonversi eksklusi politik menjadi disiplin pendidikan, generasi demi generasi, tanpa jaminan hasil.

Filsuf ekonomi Joseph Schumpeter pernah menulis bahwa sejarah kapitalisme adalah sejarah “penghancuran kreatif”—tatanan lama yang runtuh digantikan yang baru, bukan oleh takdir satu golongan, melainkan oleh siapa yang berani mengambil risiko paling lama saat yang lain menyerah lebih dulu.

Cerita Hokkien di industri chip, jika dibaca jujur, adalah cerita tentang kesabaran struktural semacam itu: bukan warisan darah yang mengalir dari satu jaringan rahasia, melainkan warisan sejarah eksklusi yang dijawab dengan investasi jangka sangat panjang pada satu hal yang selalu terbuka bagi siapa saja tanpa memandang etnis—ilmu pengetahuan. Pertanyaan yang seharusnya kita bawa pulang bukan “siapa yang menguasai dunia”, tapi “kesabaran macam apa yang bersedia kita bangun, sebagai bangsa, untuk generasi yang bahkan tidak akan sempat kita saksikan hasilnya”. (D74)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.