Usulan itu disampaikan Trump melalui media sosial pada Rabu, kurang dari 24 jam setelah militer AS menyerang sejumlah target di Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya empat orang, termasuk dua anak-anak, dalam sebuah pesta pernikahan di Kota Sirik, Iran selatan.
“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengganti nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP???” tulis Trump. Ia kemudian menambahkan karakter pribadinya.
“Seperti Amerika sendiri, situasinya akan ‘lebih panas’ dari sebelumnya!”
Pernyataan tersebut menjadi episode terbaru dari gaya Trump dalam menggambarkan perang dan perebutan pengaruh di kawasan Teluk. Ketika situasi di lapangan masih jauh dari kata terkendali, Trump justru berbicara seolah kemenangan sudah berada di tangannya, bahkan sampai merasa perlu menaruh namanya sendiri pada salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Trump Klaim Hormuz Sudah Dikuasai
Trump dan pejabat pemerintahannya berulang kali menyatakan bahwa Selat Hormuz telah terbuka dan jutaan barel minyak tetap dapat melintas setiap hari.
Namun, pasar minyak belum sepenuhnya percaya pada klaim tersebut. Harga minyak justru melonjak sekitar 4 persen setelah Iran merespons serangan AS dengan meluncurkan rudal ke sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan.
Iran sendiri tetap menyatakan Selat Hormuz tertutup dan berada di bawah kendalinya.
Pada Rabu, Arab Saudi juga menuduh Iran menyerang sebuah kapal tanker minyak hingga menewaskan dua orang.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), badan pemantau yang berafiliasi dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris, bahkan terus melaporkan insiden serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz hampir setiap hari.
Dengan kata lain, selat itu mungkin bisa diklaim secara politik, tetapi kapal-kapal yang melintas tampaknya belum mendapatkan memo bahwa wilayah tersebut sudah berubah menjadi “Selat Trump”.
Perang Sudah Berlangsung Tujuh Pekan
Ketika Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memulai konflik dengan menyerang Iran dan menewaskan pemimpin tertingginya pada awal tahun ini, Trump sempat menjanjikan perang hanya berlangsung sekitar enam pekan.
Janji tersebut ternyata jauh lebih pendek daripada perang yang sebenarnya.
Konflik yang semula oleh Trump disebut sebagai semacam “ekskursi kecil” kini telah memasuki bulan ketujuh. Meski demikian, Trump tetap mempertahankan narasi kemenangan. Ia berulang kali mengatakan Iran telah dikalahkan secara militer, meskipun Teheran masih memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
Setelah serangan AS pada Selasa, Trump bahkan memperingatkan Iran agar tidak membalas.
Jika Teheran merespons, katanya, Iran akan “dihantam lagi pada tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi”.
Beberapa jam kemudian, Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan AS di Bahrain, Yordania, dan Irak.
Dari Danau Amerika ke Selat Trump
Gagasan mengganti nama Selat Hormuz bukanlah pertama kalinya Trump mencoba mengubah peta dengan kekuatan politik dan ego personal.
Bulan lalu, Trump menyebut Selat Hormuz sebagai “wilayah Amerika”, meskipun selat tersebut merupakan jalur perairan internasional yang secara geografis berada di antara Iran dan Oman.
Pekan lalu, Trump juga secara sepihak mengganti nama Danau Ontario menjadi “Danau Amerika” di tengah perselisihan perdagangan Washington dengan Kanada.
Kini, giliran Selat Hormuz. Jika gagasan tersebut benar-benar menjadi kenyataan, dunia mungkin tidak perlu lagi menyebut “Selat Hormuz”. Cukup “Selat Trump”. Setidaknya, menurut Trump, karena Amerika sudah menguasainya.





Comments are closed.