Sun,19 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Indonesia Dorong Diplomasi Hijau Berbasis Agama di Kancah Global

Indonesia Dorong Diplomasi Hijau Berbasis Agama di Kancah Global

indonesia-dorong-diplomasi-hijau-berbasis-agama-di-kancah-global
Indonesia Dorong Diplomasi Hijau Berbasis Agama di Kancah Global
service

Jakarta, NU Online
Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai motor dialog kerukunan dunia dengan mendorong pendekatan baru dalam diplomasi global: diplomasi hijau berbasis agama.

Gagasan ini mengemuka dalam Dialog Kerukunan Lintas Agama (Dialogue on Interreligious Harmony/Hiwar al-Wiam Bainal Adyan) yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Liga Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) di Auditorium KH M Rasjidi, Jakarta, dengan ekoteologi; hubungan antara iman dan tanggung jawab terhadap alam, sebagai fokus utama.

Lebih dari 350 peserta menghadiri forum tersebut. Mulai dari pejabat Kemenag, tokoh lintas agama, akademisi, hingga komunitas keagamaan.

Besarnya animo publik tidak lepas dari meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, terlebih setelah bencana besar yang melanda Sumatra dan Aceh kembali menyadarkan pentingnya keseimbangan ekosistem.

Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa diplomasi Indonesia tidak hanya bertumpu pada politik dan ekonomi. Akan tetapi, juga nilai spiritual yang dapat menjadi fondasi penyelesaian krisis ekologis global. Ia menekankan bahwa keimanan seseorang harus tercermin dalam perlakuannya terhadap lingkungan.

“Tidak mungkin seseorang mengaku beriman secara utuh jika masih merusak lingkungan,” ujar Menag, Sabtu (6/12/2025).

Ia menambahkan bahwa ekoteologi semakin relevan dalam konteks dunia yang tengah menghadapi krisis iklim, deforestasi, dan degradasi lingkungan.

Menurut salah satu Rais Syuriyah PBNU ini, kerukunan umat beragama internasional tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan. Ketika alam rusak, stabilitas sosial, kenyamanan beribadah, dan kehidupan masyarakat terganggu.

“Oleh karena itu, Indonesia menawarkan pendekatan diplomatik yang mengintegrasikan nilai keagamaan dan tanggung jawab ekologis sebagai model kerukunan baru yang dapat diadopsi dunia,” terangnya. 

Terobosan penting
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, Mohammed bin Abdul Karim al-Issa. Ia menilai bahwa forum internasional yang mengangkat tema hubungan antaragama dan Ekologi masih sangat jarang, padahal kerusakan lingkungan merupakan ancaman universal.

“Ketika banjir atau kerusakan ekosistem terjadi, tidak ada satu pun kelompok agama yang terbebas dari dampaknya,” kata Syekh Issa. 

Ia menyebut ekoteologi Indonesia sebagai terobosan penting dalam percakapan global tentang keberlanjutan dan peluang membangun solidaritas lintas agama dalam menghadapi krisis iklim.

Dialog ini juga menghadirkan pemimpin berbagai agama, termasuk Menag periode 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin, Philip Kuntojo Widjaja, Christophorus Tri Harsono, Jacklevyn Frits Manuputty, Ketum Matakin Xueshi (Xs) Budi Santoso Tanuwiibowo, dan I Ketut Budiasa.

Para pembicara memaparkan prinsip ekologis dari tradisi agama mereka, mulai dari konsep amanah menjaga bumi dalam Islam, stewardship dalam Kristen, Tri Hita Karana dalam Hindu, welas asih dalam Buddha, harmoni dalam Khonghucu, hingga kearifan lokal Nusantara seperti memayu hayuning bawana.

Dari diskusi tersebut, mengemuka kesepahaman bahwa kerukunan antarumat beragama perlu diperluas menjadi kerukunan ekologis: relasi harmonis antara manusia dan alam.

Konsep ini, menurut para tokoh, merupakan jembatan penting untuk membangun stabilitas global yang berkelanjutan.

Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin menambahkan, melalui kerja sama strategis antara Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Setjen Kemenag dan Liga Muslim Dunia, Indonesia tidak hanya menunjukkan kapasitasnya sebagai laboratorium kerukunan dunia.

“Akan tetapi, juga sebagai pelopor diplomasi hijau berbasis agama. Pendekatan ini digadang-gadang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam forum internasional serta membuka ruang kolaborasi lintas negara dan lintas iman dalam menjaga bumi,” pungkas Kamaruddin. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.