Mubadalah.id – Nyai Nur Ishmah Ulinnuha atau yang kerap disapa Bu Is adalah salah satu ulama perempuan asal Kudus yang sangat masyhur dengan menjaga sanad Qira’at Sab’ah.
Nyai Nur Ishmah adalah putri kelima dari pasangan ulama besar KH. Abdullah Zen Salam dan Nyai Aisyah. Ia lahir di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah. Kajen adalah sebuah desa kecil yang ada di Jawa Tengah dan dijuluki kampung santri. Julukan ini bukan tanpa makna, sebab di desa ini memang terdapat banyak sekali pondok pesantren.
Tidak heran lagi, di Desa Kajen banyak kiai dan nyai yang cerdas-cerdas, salah satunya KH. Abdullah Zen Salam atau biasa dikenal dengan Mbah Dullah. Kecerdasan ini juga diturunkan pada putra-putrinya, termasuk pada Nyai Nur Ishmah.
Jika dilihat dari silsilah keturunannya, Nyai Nur Ishmah juga merupakan keturunan kedepalan dari Syekh Ahmad Mutamakkin, wali penyebar agama Islam pertama di Kajen. Maka pantas saja, jika ia juga terus berjuang menyebarkan ajaran Islam lewat berbagai ruang pembelajaran.
Menempuh Pendidikan di Kudus
Sejak kecil, Nyai Nur Ishmah mempelajari Al-Qur’an secara langsung kepada KH. Abdullah Zen Salam. Selanjutnya, ia memperdalam keilmuan tersebut di bawah asuhan KH. Muhammad Arwani Amin Said, atau yang akrab disapa Mbah Arwani, seorang ulama Al-Qur’an berpengaruh di Kudus sekaligus pendiri Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an.
Ketekunan dan kecintaan Nyai Nur Ishmah terhadap Al-Qur’an membuat Mbah Arwani terkesan. Dari situlah, ia kemudian menikah dengan KH. Ulinnuha Arwani, akrab disapa Gus Ulin yaitu putra pertama Mbah Arwani yang akan menjadi penerus di Pesantren Yanbu’ul Qur’an. Meski telah menjadi menantu Mbah Arwani, Nyai Nur Ishmah tetap istiqamah menuntut ilmu.
Bahkan, ia juga tercatat sebagai santri terakhir Mbah Arwani yang berhasil mengkhatamkan Qira’ah Sab’ah, yaitu tujuh riwayat bacaan Al-Qur’an yang membutuhkan penguasaan hafalan secara mendalam. Kemampuan tersebut tergolong langka dan tidak banyak orang-orang kuasai, termasuk di kalangan para penghafal Al-Qur’an.
Setelah menikah, Nyai Nur Ishmah dan Gus Ulin melanjutkan mengasuh Pesantren Yanbu’ul Quran.
Banyak santri dari berbagai daerah di Indonesia yang datang dan belajar pada Nyai Nur Ishmah dan Gus Ulin.
Nasihat-nasihat Nyai Nur Ishmah
Nyai Nur Ishmah wafat pada 18 september 2020 dan dimakamkan di kompleks Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus, yang mana makamnya itu berdampingan dengan guru sekaligus mertuanya Mbah Arwani.
Melansir dari Alif.id, ada beberapa nasihat yang selalu Nyai Nur Ishmah sampaikan pada para penghafal Al-Qur’an, di antaranya:
Pertama, hafalan Al-Qur’an adalah anugerah dari Allah yang tidak mudah banyak orang dapatkan. Seseorang dalam menghafal 30 juz, bukanlah karena ia cerdas menghafal, bukan pula karena alimnya guru, tetapi karena Allah. Karena itu, sebagai anugerah, hafalan Al-Qur’an merupakan nikmat dari Allah.
Cara bersyukur atas nikmat tersebut bisa ia lakukan melalui muroja’ah, menjaga hafalan secara terus-menerus sepanjang hayat. Muroja’ah yang ia lakukan dengan telaten dan konstan dan menyeluruh, bukan pada bagian hafalan yang kurang lancar saja.
Kedua, setelah khatam menghafal Al-Qur’an, hendaklah berterimakasih pada orang tua. Sebab, tanpa doa, dukungan, dan perjuangan mereka, hampir mustahil hafalan dapat ia selesaikan dengan baik. Rasa terima kasih itu dapat anda wujudkan dengan tetap berbakti dan menaati orang tua semasa hidupnya, serta senantiasa mendoakan mereka ketika telah wafat.
Ketiga, selain berterimakasih pada orang tua, penghafal Al-Qur’an juga harus berterima kasih kepada guru, yaitu dengan melakukan hal-hal baik, taat dan mendoakan kebaikan guru karena telah memberikan waktu dan perhatian untuk membimbing penghafal sampai selesai hafalannya.
Akhlak yang Baik
Keempat, seorang penghafal Al-Qur’an harus memiliki akhlak yang baik. Setelah berhasil menghafal Al-Qur’an hingga khatam, ia tidak boleh memiliki sifat sombong, riya’ (pamer), maupun ujub (membanggakan diri).
Kelima, seorang penghafal Al-Qur’an harus konsisten menjaga hafalannya. Sebab, manusia pada dasarnya memiliki sifat mudah lupa, sedangkan hafalan Al-Qur’an harus terus ia pelihara.
Nyai Nur Ishmah mengutip hadis Nabi yang mengibaratkan hafalan Al-Qur’an seperti unta yang harus terus ia ikat agar tidak lepas. Jika ikatannya longgar, unta tersebut akan mudah pergi.
Keenam, terdapat nilai istimewa bagi orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an. Mengutip hadis Nabi, Nyai Nur Ishmah menjelaskan bahwa di dunia Al-Qur’an menjadi cahaya bagi kehidupan, sedangkan di akhirat menjadi simpanan amal dan investasi pahala. Ia juga menjelaskan bahwa doa setelah khatam Al-Qur’an termasuk doa yang mustajab.
Dari perjalanan Nyai Nur Ishmah kitab isa belajar bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya sebagai perilaku ibadah, tetapi lebih dari itu, proses menghafal Al-Qur’an menjadi proses seseorang untuk berperilaku baik, memperlakukan orang tua, guru dan sesama dengan penuh hormat, dan juga menjaga diri agar tidak merasa sombong. []





Comments are closed.