Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin

Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin

kalau-masih-seksis-dan-misoginis-jangan-menjadi-pemimpin
Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin
service

Mubadalah.id –Menjadi pemimpin berarti memahami bahwa setiap kata memiliki dampak. Seorang kepala daerah tidak hanya kita nilai dari kebijakan yang ia hasilkan, tetapi juga dari cara ia berbicara dan menyampaikan nilai-nilai kepada masyarakat. Karena itu, ketika seorang pemimpin justru menghadirkan narasi yang merendahkan perempuan, persoalannya tidak lagi berhenti pada kebebasan berekspresi, melainkan menyangkut etika kepemimpinan.

Melansir dari Diajeng.id, lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab kita sapa Om Zein, menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan.

Lagu tersebut dianggap mengandung narasi seksis dan misoginis karena menjadikan tubuh serta pengalaman biologis perempuan sebagai bahan olok-olok. Ketika narasi seperti itu justru lahir dari seorang kepala daerah, publik berhak mempertanyakan bagaimana perspektif gender seorang pemimpin yang seharusnya melindungi seluruh warganya tanpa diskriminasi.

Sejak bait pertamanya, lagu tersebut menghadirkan lirik yang merendahkan perempuan. Pengalaman biologis seperti menstruasi, kehamilan, keguguran, hingga penggunaan bra ia jadikan bahan humor. Padahal, pengalaman tersebut bukanlah sesuatu yang pantas kita tertawakan.

Menstruasi, kehamilan dan keguguran bukan sekadar pengalaman fisik, tetapi juga menyimpan  kondisi emosional dan psikologis yang tidak ringan. Ketika semua itu tereduksi menjadi candaan, yang sedang ia pertontonkan bukan kreativitas. Akan tetapi cara pandang yang menganggap tubuh perempuan layak menjadi objek ejekan.

Menyoal Sensitifitas Gender Seorang Pemimpin

Yang lebih mengkhawatirkan bukan sekadar isi lagu tersebut, melainkan siapa yang menyampaikannya. Seorang kepala daerah memegang kekuasaan yang menentukan arah kebijakan, pelayanan publik, dan perlindungan terhadap seluruh warga tanpa membedakan jenis kelamin.

Ketika seorang pemimpin memilih menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan hiburan, publik patut bertanya. Bagaimana sensitivitas gendernya ketika harus merumuskan kebijakan mengenai kesehatan reproduksi, perlindungan perempuan, kekerasan seksual, atau kesejahteraan ibu dan anak?

Ucapan seorang pemimpin tidak pernah berdiri sendiri. Ia membentuk budaya politik. Dalam kajian gender, bahasa merupakan salah satu instrumen reproduksi patriarki. Candaan seksis sering kali dianggap ringan, padahal melalui candaan itulah stereotip mengenai perempuan terus terproduksi dan dinormalisasi.

Perempuan dipandang emosional karena menstruasi, dinilai dari tubuhnya, atau menganggapnya lemah karena fungsi reproduksinya. Ketika narasi seperti ini terucapkan oleh figur publik, masyarakat memperoleh pesan bahwa merendahkan perempuan adalah sesuatu yang wajar.

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, banyak pemimpin menuai kritik karena pernyataan yang seksis dan misoginis. Ada yang mengomentari penampilan fisik perempuan, meremehkan korban kekerasan seksual, atau melanggengkan stereotip bahwa perempuan lebih pantas berada di ranah domestik daripada ruang pengambilan keputusan.

Seksisme dan Kepemimpinan

Persoalan-persoalan tersebut menunjukkan bahwa seksisme dalam kepemimpinan bukanlah persoalan individu semata, tetapi bagian dari budaya politik patriarkal yang terus tereproduksi melalui bahasa dan simbol kekuasaan.

Dalam perspektif misogini, persoalannya bahkan lebih dalam daripada sekadar penghinaan. Misogini merupakan cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai kelompok yang layak diejek, terkontrol, atau direndahkan ketika mereka tidak sesuai dengan standar patriarkal.

Ketika tubuh perempuan, menstruasi, atau keguguran menjadi bahan humor, pengalaman biologis yang seharusnya kita hormati justru berubah menjadi objek hiburan. Akibatnya, pengalaman perempuan kehilangan martabatnya di ruang publik.

Kebudayaan Menjadi Ruang Memuliakan Manusia

Karena itu, kritik yang tersampaikan berbagai kalangan, termasuk anggota DPR RI Atalia Praratya, tidak dapat kita pahami sebagai reaksi yang berlebihan. Kritik tersebut mengingatkan bahwa budaya Sunda terbangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi yang menjunjung saling menghormati dan memuliakan sesama.

Nilai-nilai tersebut jelas bertolak belakang dengan praktik menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan tertawaan. Kebudayaan seharusnya menjadi ruang untuk memuliakan manusia, bukan membenarkan ujaran yang merendahkan perempuan.

Pemimpin tidak kita tuntut untuk selalu sempurna. Namun mereka kita tuntut memiliki empati, menghormati martabat setiap warga negara, dan memahami bahwa kekuasaan harus kita gunakan untuk melindungi kelompok yang rentan. Bukan menambah beban mereka melalui candaan yang seksis.

Sebab, ketika seorang pemimpin masih menganggap seksisme sebagai hiburan, yang kita pertanyakan bukan hanya selera humornya. Akan tetapi juga kelayakannya memimpin masyarakat yang semakin menuntut kesetaraan, penghormatan terhadap perempuan, dan perlindungan hak asasi manusia. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.