Mubadalah.id – Setelah lama tidak menulis dan melalui kontemplasi yang panjang, hari ini aku memberanikan menuliskan pengalaman bagaimana rasanya tak lagi punya ruang aman. Dalam sebulan terakhir, aku butuh mencerna dan mengalami fase denial setelah mengetahui dan merasakan sendiri rasanya menjadi korban penguntitan digital.
Seseorang yang pernah aku kenal ternyata melakukan penyamaran menjadi seorang faker demi terus dapat berkomunikasi denganku. Aku telah kehilangan ruang aman, dan semoga tulisan ini menjadi penyembuh luka-luka dari beban mental yang menumpuk. Juga menjadi ruang aman terakhir yang bisa aku percaya.
Obsesi Berlebihan
Kami dekat dan menjalin hubungan tahun 2024. Kami berhubungan baik sekali. Selama 6 bulan dalam fase pendekatan, aku merasa bahwa hubungan ini bisa kulanjutkan. Aku yang lebih dulu menyukainya. Namun, dalam prosesnya ternyata aku mendapatkan pengalaman yang tak menyenangkan. Dia belum selesai dengan masalalunya dan menginginkan pernikahan dengan mantannya.
Ketika dalam masa pendekatan dan komitmen, aku rasa itu sebuah hubungan yang tak pernah mubadalah. Aku menjadi pilihan kedua seseorang (second choice) yang pernah aku tuliskan dalam tulisan berjudul “Women as The Second Choice” di Mubadalah. Dengan mudah, dia tak memandangku sebagai subyek utuh perempuan dan menempatkanku pada pilihan kedua dalam hubungan. Tak mubadalah sama sekali.
Setelah bercerita dan berkonsultasi dengan kak N, seorang penulis feminis di Puan Menulis, beliau memintaku untuk segera mengakhiri hubungan karena kondisi patriarki yang aku alami. Aku memutuskan hubungan dan mengakhiri komitmen hubungan tersebut. Sejak saat itu, aku memblokir semua akses komunikasi media sosial. Dan tak lagi pernah mengetahui kabarnya.
Aku tak menyangka, bahwa ia terobsesi denganku dan akan menyebabkan pengalaman-pengalaman tak menyenangkan pada tahun-tahun berikutnya. Pemutusan hubungan yang aku lakukan untuk menyelamatkan diriku sendiri, ternyata tak mudah ia terima. Dia bersikeras melakukan apapun agar komunikasi kami kembali. Namun, sekali tidak aku tetap pada pendirian tidak.
Menghubungi Teman Terdekatku
Setelah Peace Camp 2025 (bulan Mei) di Jogja, seorang sahabat dekatku menceritakan hal yang sangat tidak menyenangkan. Seseorang di masa laluku, menghubungi sahabat dekatku. Sejujurnya, aku risih dan tidak nyaman ketika aku mengetahui bahwa banyak rekan-rekan kerja sosialku yang mantanku follow di Instagram.
Terlebih, sahabat terdekatku, Frater R menceritakan bahwa mantanku menghubungi Frater R dan menceritakan permasalahan ini. Awalnya aku tak keberatan. Kemudian, yang menjadi keberatan ketika Frater R tidak nyaman karena mantanku meminta mengirimkan hadiah apresiasi sidang skripsiku melalui Frater R.
Tentu Frater R menolak, karena hal tersebut bertentangan dengan prinsip kejujuran. Sebagai seorang yang sedang mengikuti pendidikan keagamaan di sebuah seminari, prinsip kejujuran harus terus diutamakan. Meskipun niatnya baik untuk mengirimkan hadiah sidang, tetapi cara tersebut sangatlah salah.
Satu, melangkahi boundariesku karena aku tidak bersedia lagi menjalin hubungan apapun dengannya (melangkahi privasi). Kedua, frater R tidak nyaman jika dalam masa pendidikannya harus melakukan sebuah “kebohongan”. Jujur, ini obsesi yang sangat membuatku capek.
Menghubungi dengan Nomor Palsu
Bulan September tahun 2025, dia mengirimkan pesan ke nomor WhatsApp keduaku. Mengirimkan pesan lomba kewirausahaan dari sebuah event. Aku terkejut, karena nomor itu adalah nomor WhatsApp pribadi yang saat itu hanya teman dekat dan keluarga yang mengetahui. Setelah aku tanyakan dapat nomor pribadiku dari mana, ia menjawab, “Kalau nomor ini pribadi buatmu dan hanya orang terdekat yang memiliki akses ini, berarti aku adalah seseorang yang pernah dekat denganmu”
Setelah ku konfirmasi kembali, apakah dia seseorang yang ada di masa laluku, dia membenarkannya. Saat itu, ia meminta maaf dan mengajakku membangun hubungan kembali. Tentu, aku tetap pada pendirianku. Aku menolaknya karena aku sudah memutuskan lepas dari hubungan yang tidak sehat.
Tidak ada jaminan bahwa di masa depan, ia benar-benar akan berubah. Saat itu, aku hanya bilang bahwa nikahilah mantanmu sesuai dengan permintaanmu saat kita menjalin hubungan dulu. Aku tidak akan mengganggu jalanmu untuk menikahi mantanmu. Aku memutuskan menghentikan komunikasi lagi dengannya.
Lagi-lagi Tak Memandangku Sebagai Perempuan Subyek Utuh
Tahun 2024 dan 2025 telah selesai. Awal tahun 2026, aku mengikuti workshop Nyadran Perdamaian 2026 yang diselenggarakan oleh AMAN Indonesia. Salah seorang aktivis dan dosen di UIN Solo (yang juga teman baikku dalam ranah kerja-kerja sosial) menceritakan sebuah hal yang tak mengenakkan.
Aktivis: “Lala, tau mantanmu?”
Aku: “Maaf kak, aku udah nggatau kabarnya. Aku udah memutuskan hubungan dan ngga pernah tau lagi gimana kabar dia”
Aktivis : “Kata Kak B (teman kami berdua), mantanmu bilang kalau mantanmu suka sama aku karena mirip Lala”
Deg. Lagi-lagi aku tak dipandang sebagai perempuan utuh. Dengan mudahnya ia melakukan hal-hal yang sangat kami tentang dalam dunia isu gender dan perempuan. Yang lebih kaget lagi, mantanku mengucapkan itu pada tahun 2025. Setelah ia minta maaf, mengajak balikan, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bayangkan, di saat ia meminta maaf, justru yang ia lakukan malah menyukai teman dekatku karena mirip aku.
Dalam sudut pandang feminis, menyukai seseorang karena dianggap “mirip” dengan orang lain itu sebenarnya salah. Karena perempuan jadi tidak dilihat sebagai dirinya sendiri, dengan segala keunikan dan perasaannya, tapi hanya dianggap sebagai “pengganti” dari orang lain yang tidak bisa ia miliki. Ini menyakitkan, karena artinya perempuan itu tidak benar-benar dilihat dan dihargai sebagai manusia yang utuh, melainkan hanya sebagai bayangan dari seseorang yang lain.
Pada perspektif Mubadalah pada hubungan yang setara, masing-masing orang saling memandang satu sama lain sebagai subyek, bukan objek. Ketika seseorang menyukai temanku karena “mirip aku”, sebenarnya ia sedang mengulang pola yang sama seperti dulu ia perlakukan padaku. Dulu aku juga jadi pilihan kedua, bayang-bayang dari mantannya. Sekarang, giliran temanku yang mengalami hal serupa, jadi “pengganti” dariku. Polanya terus berulang.
Fake Account dan Penguntitan (1)
Puncaknya, ia membuat akun palsu dengan menyamar menjadi seseorang berinisial AH pada bulan Februari 2026. Ia mengikuti webinar yang aku hadiri sebagai narasumber di Rumah KitaB. Setelah beberapa hari dari webinar tersebut, ia bergabung di grup Eco-Peace.
Setelah lebaran, ia mengucapkan minal aidin wal faizin. Saat itu aku membalas pesannya. Kami mengobrol beberapa saat. Aku tanyakan, darimana ia bisa bergabung di grup Eco-Peace. Ia menjawab, bargabung dari event Eco-Peace tahun 2025. Padahal, aku noticed bahwa ia baru masuk grup Eco-Peace dari tahun 2026. Selama itu, ia terus mencoba menghubungiku.
Bagaimana bisa, seseorang yang menyamar menjadi orang lain kemudian mengulik kehidupan privasiku. Pernah dalam suatu pagi, ia mengirimkan sebuah pesan panjang lebar tentang “memaafkan dan menerima mantan kembali”. Ia bilang, “coba saja maafkan mantanmu dan menerima kembali. Barangkali, nantinya Allah akan menjadikan mantanku sebagai penolong di masa depan”.
Pada saat yang bersamaan, ia membawa narasi kegamaan dan konteks Rasulullah yang aku tidak ingat lagi bagaimana detailnya. Saat itu, aku memang sedang membahas mantanku, tapi aku hanya mengatakan sebatas bahwa “mantanku orang baik”. Jujur, aku sangat kesal ketika ia mengatur hidupku apalagi membawa narasi-narasi keagamaan.
Kemudian, aku mengeluh di akun Whatsapp keduaku atas permasalahan itu. Pada saat yang bersamaan, ia mengirimkan permintaan maaf. Sungguh aneh, karena di saat jam bersamaan aku mengeluh, ia minta maaf. Kejadian ini bukan sekali duakali. Tapi berkali-kali.
Misalnya, saat aku membuat story WhatsApp (di WhatsApp kedua) tentang temanku yang mengapresiasi karena aku sudah mengaktifkan instagram kembali. Di saat yang bersamaan, ia mengirimkan pesan di WhatsApp pertamaku, meminta agar aku menerima permintaan pertemanan di Instagram.
Fake Account dan Penguntitan (2)
Beberapa hari lalu, ketika aku sedang dikunjungi sahabat dari Kota Bandung, aku membuat story di WhatsApp kedua dengan caption mengajak siapa saja bertemu sebelum minggu ketiga bulan Juli. Pada waktu yang sama, ia mengirimkan pesan bahwa sampai kapan aku akan ada di Malang? (menanyakan sampai minggu keberapa aku masih di Malang).
Aku meerasa janggal dan aneh. Setelah beberapa jam berkontemplasi, aku baru tersadar. Ada kemiripan tata bahasa, cara penulisan (typing), kemiripan interaksi cara mantanku merespon pesanku dan cara AH merespon pesanku.
Aku tersadar, ternyata AH adalah orang yang sama dengan mantanku. Malam itu, aku menangis di kamar semalaman. Menyalahkan diri sendiri kenapa tidak becus mengenali seseorang dengan cepat dan mengapa bisa sampai kebobolan ia mengetahui seluruh privasi kehidupanku yang aku bagikan di WhatsApp kedua.
Berdampak pada Kerja-kerja Sosialku (yang Katanya Lebih Mubadalah)
Dampak-dampak atas beban mental yang aku tanggung selama ini ternyata berdampak pada kerja sosialku. Seorang teman menanyakan aku apakah aku mengenal mantanku. Aku jawab ya bahwa kami memang pernah menjalin hubungan. Ia bertanya, mengapa aku tak memaafkannya?
Aku bingung. Pertama, aku tak pernah menceritakan permasalahan mantanku ke temanku yang satu ini. Jadi, ia tau masalah ini darimana? Kedua, aku kesal saat dia bilang, “Lah, dia orangnya qawwam, mubadalah banget, dan progresif. Dia juga difollow instagramnya oleh Mubadalah. Sedangkan kamu bukannya ngga di follow ya sama Mubadalah? Ya, berarti kan dia lebih diakui? tulisannya di Mubadalah juga selalu mengakui kesalahan. Kenapa kamu ngga ngasih kesempatan? Coba deh, kamu nulis di Mubadalah udah lama kan? tapi dia yang difollow sama Mubadalah?”
Setelah mendengar hal itu, aku semakin lemas. Bukan karena aku iri karena tak difollow oleh Mubadalah. Tapi, aku menyadari bahwa beberapa orang mengetahui masalah ini. Sedangkan, aku tak punya kuasa untuk menjelaskan satu-persatu apa permasalahan yang terjadi padaku dan mantanku pada semua orang yang tau masalah ini. Karena, aku tidak ingin terlihat sebagai seorang perempuan yang hanya bisa menjelek-jelekkan seseorang. Atau membuat masalahku sebagai konsumsi publik.
Aku berusaha menjaga namanya, agar ia tak terkenal sebagai seseorang yang telah menjadi penguntit dan tak pernah melihatku sebagai perempuan utuh. Diam sambil menanggung beban mental bahwa ternyata aku dilihat sebagai seseorang yang tidak memberikan kesempatan, tidak mau memaafkan, menyia-nyiakan seseorang yang katanya “Mubadalah” padahal diam-diam dibelakangku ia begitu mudah tak memandangku sebagai perempuan dengan subyek utuh juga menjadi penguntit.
Aku tak lagi melanjutkan kerja-kerja sosialku. Aku berhenti dan menghilang dari dunia media kepenulisan juga kerja-kerja sosial. Untuk kesekian kalinya, aku menutup untuk menenangkan diri sendiri.
Aku Tak Lagi Punya Ruang Aman
Saat ini, aku menonaktifkan seluruh media sosial baik instagram, linkedin, dan kedua WhatsAppku. Aku juga menghapus akun twitter setelah aku tahu ia stalking berlebihan di sana. Saat ini, aku takmenggunakan media sosial apapun. menarik diri dari kehidupan sambil memikul beban mental dan perasaan bersalah karena tidak becus melindungi diri sendiri.
Aku berhenti berkarya di instagram setelah mempertimbangkan bahwa ternyata aku hanya dilihat dari permasalahanku dengan mantanku oleh beberapa teman yang aku sendiri tak pernah menceritakan itu kepada mereka.
Selanjutnya, kredibiliatsku sebagai seorang penulis hanya dilihat aku difollow siapa dan siapa. Bukan susbtansi hasil aku menulis. Instagram di mataku, tak pernah lagi menjadi ruang aman. Saat ini, aku sedang berkonsultasi untuk mencari bantuan dan mendapatkan pertolongan profesional atas pengalaman traumatis setelah menjadi korban penguntitan digital.
Setelah mengalami semua pengalaman, sebagai seorang penulis perempuan yang aktif dalam isu gender dan perempuan. Aku ingin menjelaskan mengapa penguntitan yang aku alami berkaitan erat dengan isu gender.
Dalam penelitian berjudul “Commentary: Stalking Risk Profile” di The Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law, menyebutkan bahwa perempuan lebih sering menjadi korban penguntitan, terutama oleh mantan pasangan (ex-partner).
Sementara itu, laki-laki lebih sering menjadi pelaku dalam kasus yang berkaitan dengan obsesi (dalam hubungan romansa). Penyebabnya, berkaitan dengan pola kekuasaan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan. Penguntitan setelah putus sering muncul karena adanya rasa “kepemilikan” yang berlebihan atas pasangan (Dan itulah yang aku rasakan sejak tahun 2024-2026 ini).
Empat Hal yang ingin Aku Tekankan
Penguntitan sendiri dapat menjadi kelanjutan dari kekerasan berbasis gender (gender-based violence) terutama jika ada dalam media digital akan menyebabkan kekerasan siber (cyberstalking). Dari pengalamanku, aku ingin menekankan beberapa hal yang perlu aku tekankan:
Pertama, budaya yang menganggap wajar perilaku menguntit. Kadang perilaku tersebut dibungkus seolah “romantis”, seakan mengejar cinta yang telah kita tolak merupakan perjuangan yang pantas dihargai. Padahal, cara pandang tersebut membuat sifat mengancam dari penguntitan menjadi “samar-samar tak terlihat”.
Kedua, meskipun tidak melibatkan pelecehan seksual atau kekerasan seksual secara langsung, membuat identitas palsu untuk menghubungi mantan pasangan yang sudah memutuskan kotak merupakan bentuk pelanggaran batas dan merupakan bentuk manipulasi yang motifnya bukan lagi soal “romantis” melainkan soal monitoring (kontrol) atau ketidakrelaan menerima penolakan.
Ketiga, perilaku penguntitan tidak mensyaratkan unsur seksual, namun cukup ada pola perilaku berulang yang membuat korban merasa tidak aman, teraganggu, cemas karena terus-terusan dipantau.
Keempat, penggunaan identitas palsu justru menambah lapisan pelanggaran. Korban kehilangan kemampuan untuk memberi informed consent soal siapa yang sedang berkomunikasi dengannya.
Refleksi
Dari sisi gender, karena pelakunya laki-laki dan aku sebagai korban perempuan, pengalaman ini sejalan dengan pola yang telah aku jelaskan sebelumnya. Dorongan untuk tetap memiliki akses dan informasi meski hubungan sudah berakhir.
Padahal, hal tersebut merupakan bentuk penolakan untuk menghormati batas yang sudah aku tetapkan. Dan aku, sebagai perempuan yang berusaha menjaga ruang amanku sendiri, berhak untuk didengar tanpa harus terus menerus dituntut memaafkan dan memberi kesempatan pada seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar melihatku sebagai perempuan yang utuh.
Masih banyak hal yang tak dapat aku tuliskan satu-persatu di sini. Namun, garis besar penguntitan yang aku alami merupakan perasaan yang valid. Aku berharap, semoga kedepannya tak ada lagi kasus serupa seperti yang aku alami.
Aku hanya menyayangkan saja, seseorang yang punya latar belakang hukum justru malah melakukan penguntitan. Yang mana hal tersebut sangat tidak sesuai dan melanggar batas-batas privasi kehidupan korban penguntitan. []





Comments are closed.