Jakarta, Arina.id — Kerugian ekonomi akibat bencana alam di seluruh dunia diperkirakan mencapai US$100 miliar atau sekitar Rp1.600 triliun sepanjang semester pertama 2026.
Data tersebut disampaikan perusahaan reasuransi Swiss Re dalam laporan terbarunya pada Selasa (11/8/2026). Meski nilainya sangat besar, kerugian tersebut turun cukup tajam dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai US$152 miliar.
Swiss Re mencatat kerugian pada semester pertama 2026 juga sekitar 10 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata kerugian dalam 10 tahun terakhir untuk periode yang sama.
Penurunan tersebut terjadi meskipun sejumlah bencana besar melanda berbagai wilayah, termasuk badai hebat di Amerika Serikat dan gempa bumi mematikan yang mengguncang Venezuela pada Juni 2026.
Namun, Swiss Re mengingatkan penurunan kerugian pada paruh pertama tahun ini tidak berarti risiko bencana telah berkurang.
“Paruh pertama tahun yang lebih rendah biayanya bukan berarti risikonya telah hilang,” kata Balz Grollimund, Direktur Catastrophe Perils Swiss Re.
Menurutnya, satu badai besar, gempa bumi, atau kebakaran hutan dapat dengan cepat mengubah gambaran kerugian bencana secara global.
Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan di Eropaz
Swiss Re juga menyoroti gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak Juni 2026. Kondisi tersebut memicu musim kebakaran hutan lebih awal, terutama di Prancis dan Spanyol.
Kebakaran yang terjadi telah menghancurkan ribuan rumah, tempat usaha, serta sejumlah infrastruktur.
Swiss Re menyebut risiko kebakaran hutan sejauh ini masih menyumbang porsi relatif kecil terhadap kerugian yang ditanggung perusahaan asuransi di Eropa. Namun, kebakaran hutan menjadi salah satu ancaman cuaca yang pertumbuhannya paling cepat di dunia.
Data Swiss Re menunjukkan kerugian akibat kebakaran hutan yang ditanggung asuransi di Eropa meningkat rata-rata 8 hingga 11 persen per tahun sejak 1970, setelah memperhitungkan inflasi dan sejumlah faktor lainnya.
El Nino Berpotensi Tingkatkan Risiko Bencana
Ke depan, Swiss Re memperingatkan pola iklim El Nino yang mulai terbentuk pada Juni dan diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir tahun dapat meningkatkan biaya akibat bencana yang berkaitan dengan cuaca.
Menurut Swiss Re, El Nino berpotensi memengaruhi aktivitas siklon tropis di kawasan Pasifik Tengah dan Timur. Fenomena tersebut juga dapat mengubah risiko banjir, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah lainnya.
Swiss Re menegaskan sejumlah faktor jangka panjang yang mendorong peningkatan kerugian akibat bencana masih tetap ada.
Faktor tersebut antara lain semakin banyaknya aset dan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana serta meningkatnya biaya pembangunan kembali setelah bencana terjadi.
Karena itu, meskipun kerugian ekonomi akibat bencana alam pada semester pertama 2026 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, risiko bencana global masih menjadi perhatian serius.




Comments are closed.