



Karhutla, keracunan MBG, erupsi Anak Krakatau, kekeringan El Nino — 2025–2026 datang dengan gelombang krisis. Tapi di saat rakyat paling butuh ditenangkan, sebagian respons pejabat justru terasa… salah nada.
Dari “asap enggak ada KTP” sampai konten “anak jadi Ultraman” di tengah gelombang keracunan — publik menyebutnya satu kata: tone-deaf.
Tapi ini bukan sekadar soal salah ngomong. Ilmu komunikasi krisis (SCCT dari W. Timothy Coombs) menjelaskan: publik menilai NADA lebih dulu dari TINDAKAN. Dan celah empati ini ternyata patologi lintas benua, dari Marie Antoinette sampai Badai Katrina.
Kabar baiknya? Ini masalah yang bisa diperbaiki. Empati bukan kelemahan — ia kompetensi tata kelola. 
Geser untuk memahami fenomenanya. 
Menurut kalian, kenapa pola ini terus berulang? Tulis di kolom komentar. 
#pinterpolitik #jaganegeri #MBG #Karhutla #empati





Comments are closed.