Ayu sedang membuat adonan kue tradisional seperti biasa untuk dia jual, siang itu. Namun, panggilan dari grup pesan singkat bertajuk ‘Kartini Torobulu’ itu tak bisa menunggu. “Apapun pekerjaannya, sebisa mungkin kalau tidak bisa diselesaikan, ditahan dulu, ke lokasi lagi. Setiap ada pergerakan (aktivitas perusahaan). Itu kami diinfokan lewat grup itu,” katanya ditemui Mongabay, akhir tahun lalu. Ayunia Muis, lahir dan tumbuh di Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Sehari-harinya, perempuan 30 tahun ini berjualan kue tradisional seperti bolu, nona manis, gorengan dan lain sebagainya. Dia sekaligus mengurus tambak peninggalan ayahnya. Sejak tambang nikel masuk, Torobulu, kini berubah wajah. Tak seperti kenangan Ayu di masa lalu. Bahkan kejayaan Torobulu sebagai penghasil rumput laut dan perikanan berkualitas tinggi, sudah hilang karena ambisi korporasi membangun ekosistem industri yang dilabeli sebagai energi hijau. Dulu, Desa Torobulu, pernah dikenal dengan sebutan ‘Desa Dollar’. Dengan dominan masyarakat sebagai nelayan, hasil laut yang melimpah menjadi sumber penghidupan masyarakat di sana. “Tapi itu dulu, jauh sebelum tambang menggerogoti sebagian Torobulu,” kenang Ayu. Pesisir pantai yang dulu indah dengan hamparan pasir putih dan arena bermain anak-anak ketika air laut surut, berubah menjadi coklat dan cenderung kemerahan akibat sedimentasi. Serta mengandung senyawa beracun. Air laut yang mulanya tampak jernih dan bening, menjadi keruh. Air Dasar laut yang dulu bisa dilihat dari atas, kini tak lagi kelihatan. “Katanya, ketika ada perusahaan yang masuk ke suatu daerah itu mensejahterakan, tetapi kami yang terdampak, betul-betul hampir tidak bisa merasakan kesejahteraan itu.” Hasilin dan Andi Firmasyah, usai persidangan dengan vonis bebas untuk…This article was originally published on Mongabay
Ketika Solusi Hadapi Krisis Bumi Malah Berisiko
Ketika Solusi Hadapi Krisis Bumi Malah Berisiko





Comments are closed.