Suara azan subuh sayup terdengar bercampur deburan ombak pesisir Kokoq Pedeq, Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (15/4/26). Sofian dan Alihanafi bergegas memasang sepatu karet dengan senter di kepala. Segera setelah memanasi mesin motor pagi itu, mereka berangkat untuk mengangkat kodong, perangkap kepiting yang mereka pasang sore sebelumnya. Sesampainya di lokasi, bayangan ekosistem mangrove terlihat seperti tembok yang mengelilingi muara Pantai Keramat. Satu per satu tali nilon yang terikat di dahan pohon mereka tarik, diikuti kodong yang muncul ke permukaan. Beberapa terisi kepiting bakau berbagai ukuran dan jenis. “Lumayan pagi ini, bisa dapat banyak,” kata Sofian sambil angkat kepiting jantan berukuran besar. Capitnya bergerak liar, sesekali menjepit kawat perangkap. Pekerjaan itu mereka lakukan hampir setiap hari. Selepas subuh, ketika sebagian warga masih tertidur atau baru bersiap ke sawah, dua nelayan ini sudah menelusuri lumpur muara untuk menangkap komoditas bernama latin Scylla serrata itu. Sekali angkat, jika sedang beruntung, mereka bisa membawa pulang 4-6 kilogram. “Pernah sampai 18 kilogram dalam dua hari. Dulu kan sebelum sering ditangkap besar-besar ketenggenya,” cerita Alihanafi. Bagi masyarakat pesisir Sugian dan desa-desa sekitar, kepiting bakau bukan sekadar tangkapan sampingan tetapi jadi sumber penghasilan penting ketika kondisi laut buruk atau sulit dapat ikan. Harga jualnya lebih tinggi dibanding jenis ikan tangkapan harian. Untuk yang premium, harga di pengepul bisa mencapai Rp300.000 per kilogram. Permintaan datang dari restoran seafood di Lombok, hotel-hotel di kawasan wisata, hingga pasar luar daerah seperti Surabaya dan Batam. Kepiting berukuran besar paling dicari. Kawasan mangrove di P Sugian,…This article was originally published on Mongabay
Nasib Kepiting Bakau Lombok di Tengah Himpitan Tambak
Nasib Kepiting Bakau Lombok di Tengah Himpitan Tambak





Comments are closed.