Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Tambang Emas Ilegal Pohuwato Picu Bencana

Ketika Tambang Emas Ilegal Pohuwato Picu Bencana

ketika-tambang-emas-ilegal-pohuwato-picu-bencana
Ketika Tambang Emas Ilegal Pohuwato Picu Bencana
service

Pagi itu, air Sungai Popayato tak lagi bening. Warnanya berubah coklat keruh, seperti kopi susu. Di tepian sungai, Samin Ahmad  berdiri dengan wajah muram, menatap tajam aliran air yang dulunya menjadi sumber kehidupan keluarganya itu. “Dulu kami minum dari sini,” katanya pelan. “Sekarang, ikan saja sudah hilang.” Sungai Popayato mengalir membelah Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Ia seolah menjadi saksi bisu perubahan lanskap maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di hulu dalam beberapa tahun terakhir. Samin mengaku sudah lama tak menggunakan sungai dengan panjang 40,6 kilometer itu untuk air minum. Namun, dia dan keluarganya terpaksa masih memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci, meskipun dampak buruknya mulai mereka rasakan. “Setelah mandi, kulit saya dan anak-anak sering menjadi merah dan gatal. Kami tidak memiliki pilihan lain,” katanya saat ditemui di tepian sungai. Saat itu, dia tengah mandi dan mencuci pakaian meskipun kondisi air sungai tampak sangat keruh. Untuk menyiasatinya, Samin kerap menggali lubang-lubang kecil di pinggiran sungai—semacam sumur resapan yang memanfaatkan filtrasi alami tanah. Airnya sedikit lebih jernih, namun belum tentu aman secara higienis. Samin, terpaksa mencuci pakaian di Sungai Popoyato meski kondisinya keruh. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia. Sudah empat tahun mereka hidup dalam kondisi ini. Sejak aktivitas peti di hulu marak menggunakan alat berat, kondisi sungai berubah drastis. Air yang dulu jernih, kini berubah keruh, penuh endapan lumpur, apalagi saat musim hujan tiba. “Ini bukan cuma soal air, ini soal hidup. Kami harus beli air untuk minum dan masak, habiskan lebih dari Rp500.000 sebulan. Tapi tetap saja harus mandi dan cuci di sungai yang…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.