Pagi itu, air Sungai Popayato tak lagi bening. Warnanya berubah coklat keruh, seperti kopi susu. Di tepian sungai, Samin Ahmad berdiri dengan wajah muram, menatap tajam aliran air yang dulunya menjadi sumber kehidupan keluarganya itu. “Dulu kami minum dari sini,” katanya pelan. “Sekarang, ikan saja sudah hilang.” Sungai Popayato mengalir membelah Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Ia seolah menjadi saksi bisu perubahan lanskap maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di hulu dalam beberapa tahun terakhir. Samin mengaku sudah lama tak menggunakan sungai dengan panjang 40,6 kilometer itu untuk air minum. Namun, dia dan keluarganya terpaksa masih memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci, meskipun dampak buruknya mulai mereka rasakan. “Setelah mandi, kulit saya dan anak-anak sering menjadi merah dan gatal. Kami tidak memiliki pilihan lain,” katanya saat ditemui di tepian sungai. Saat itu, dia tengah mandi dan mencuci pakaian meskipun kondisi air sungai tampak sangat keruh. Untuk menyiasatinya, Samin kerap menggali lubang-lubang kecil di pinggiran sungai—semacam sumur resapan yang memanfaatkan filtrasi alami tanah. Airnya sedikit lebih jernih, namun belum tentu aman secara higienis. Samin, terpaksa mencuci pakaian di Sungai Popoyato meski kondisinya keruh. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia. Sudah empat tahun mereka hidup dalam kondisi ini. Sejak aktivitas peti di hulu marak menggunakan alat berat, kondisi sungai berubah drastis. Air yang dulu jernih, kini berubah keruh, penuh endapan lumpur, apalagi saat musim hujan tiba. “Ini bukan cuma soal air, ini soal hidup. Kami harus beli air untuk minum dan masak, habiskan lebih dari Rp500.000 sebulan. Tapi tetap saja harus mandi dan cuci di sungai yang…This article was originally published on Mongabay
Ketika Tambang Emas Ilegal Pohuwato Picu Bencana
Ketika Tambang Emas Ilegal Pohuwato Picu Bencana




Comments are closed.