Mon,9 March 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Ketua DPR: Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Teguran Keras Negara Soal Pemenuhan Hak Anak

Ketua DPR: Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Teguran Keras Negara Soal Pemenuhan Hak Anak

ketua-dpr:-tragedi-siswa-sd-di-ntt-jadi-teguran-keras-negara-soal-pemenuhan-hak-anak
Ketua DPR: Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Teguran Keras Negara Soal Pemenuhan Hak Anak
service

Jakarta, NU Online 

[Peringatan: artikel ini mengandung deskripsi tentang bunuh diri yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan atau trauma. Utamakan selalu keamanan dan kenyamanan membaca anda.]

Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan pentingnya perhatian negara terhadap pemenuhan kebutuhan dasar anak, khususnya dalam aspek pendidikan dan kesehatan mental. Hal ini menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Peristiwa tersebut menjadi sorotan nasional setelah terungkap bahwa korban mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis untuk keperluan sekolah. Bagi Puan, kasus ini mencerminkan masih adanya celah serius dalam sistem perlindungan anak dan kebijakan pendidikan nasional.

Puan menilai, kejadian tersebut merupakan peringatan keras bahwa negara belum sepenuhnya hadir dalam menjamin kebutuhan dasar anak-anak, terutama mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ia menekankan bahwa kebijakan pendidikan tidak boleh berhenti pada penyediaan sekolah gratis semata.

Menurutnya, kebutuhan penunjang pendidikan seperti buku, alat tulis, dan perlengkapan belajar lainnya harus menjadi bagian integral dari tanggung jawab negara agar tidak ada anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan ekonomi.

“Program-program pendidikan, terutama beasiswa dan bantuan pendidikan, harus bisa mengatasi persoalan ini,” kata Puan dikutip NU Online melalui keterangan resminya, Kamis (5/2/2026).

Puan juga menyoroti peran satuan pendidikan dalam memahami kondisi sosial peserta didik. Ia mendorong sekolah agar tidak bersikap pasif, melainkan aktif memetakan latar belakang ekonomi dan kebutuhan anak didik sejak dini.

“Sekolah harus bisa memetakan latar belakang anak didiknya dan memastikan setiap kebutuhan pendidikan dapat diberikan,” sambungnya.

Selain persoalan akses pendidikan, Puan turut menekankan pentingnya perhatian serius terhadap kesehatan mental dan kondisi psikologis anak. Ia menilai, tragedi di Ngada tidak dapat dilepaskan dari tekanan psikologis yang dialami anak akibat persoalan ekonomi keluarga.

“Kasus di NTT ini menjadi satu contoh lagi betapa psikologi anak dapat berpengaruh terhadap karakter dan keputusan mereka. Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian,” tuturnya.

Puan berharap peristiwa tragis ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pendidikan nasional yang lebih berpihak pada anak.

“Peristiwa ini harus menjadi titik balik untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang ramah anak dan mampu menjaga kesehatan anak didik secara menyeluruh, termasuk kesehatan mental dan psikologi,” tukasnya.

Sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya. Korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47).

Dalam surat tersebut, sebagaimana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, korban menuliskan:

“Surat buat Mama

Mama saya pergi dulu

Mama relakan saya pergi

Jangan menangis ya Mama

Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya

Selamat tinggal Mama.”

Diketahui, korban selama ini tinggal bersama neneknya. Sementara sang ibu, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak, termasuk korban.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.