Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Raja Bogak dan Panglima Putih, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

Legenda Raja Bogak dan Panglima Putih, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

legenda-raja-bogak-dan-panglima-putih,-cerita-rakyat-dari-sumatera-utara
Legenda Raja Bogak dan Panglima Putih, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
service

24 Juni 2026 15.00 WIB • 2 menit

Legenda Raja Bogak dan Panglima Putih, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara | Magnific AI


Legenda Raja Bogak dan Panglima Putih menjadi salah satu cerita rakyat yang berkembang di daerah Sumatera Utara. Legenda ini bercerita tentang seorang syahbandar kaya raya dengan panglima yang selalu menjaga daerahnya dari ancaman luar.

Berikut kisah lengkap dari legenda Raja Bogak dan Panglima Putih tersebut.

Legenda Raja Bogak dan Panglima Putih, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

Dikutip dari buku Antologi Cerita Rakyat Batu Bara, pada zaman dahulu ada seorang syahbandar yang sangat kaya raya. Syahbandar tersebut bernama Duane, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Raja Bogak.

Raja Bogak dikenal memiliki harta yang sangat melimpah. Bahkan dirinya menjadi orang terkaya yang ada di daerahnya.

Tidak heran Raja Bogak menjadi orang yang cukup terpandang di sana. Namun kedudukan ini tidak membuat Raja Bogak pongah.

Dirinya tetap peduli dengan masyarakat yang ada di sekitarnya. Bahkan dia juga menjaga keamanan yang ada di daerah tersebut dari berbagai macam bahaya yang datang.

Raja Bogak memiliki seorang panglima yang selalu membantunya setiap hari. Panglima tersebut bernama Panglima Putih.

Sama seperti Raja Bogak, Panglima Putih juga merupakan orang terpandang di masyarakat. Tidak ada seorang pun yang meragukan kemampuan bertarung yang dimiliki oleh Panglima Putih.

Pada suatu hari, terlihat kapal asing yang bersandar ke daerah tersebut. Ternyata kapal ini merupakan para perompak yang datang dari Negeri Cina.

Dulu ada sebuah aturan yang berlaku di daerah tersebut. Jika ada seorang perompak yang datang ke sana, maka dia mesti bertarung dengan penduduk setempat.

Pertarungan ini nantinya akan digelar di gelanggang. Jika perompak tersebut berhasil menang, maka dia bisa memiliki semua harta yang ada di sana.

Namun sebaliknya, jika perompak tersebut kalah, maka dia tidak mendapatkan apa-apa dan mesti angkat kaki dari sana. Aturan ini juga berlaku ketika perompak dari Negeri Cina ini datang.

Pemimpin perompak tersebut kemudian dibawa ke gelanggang yang ada di sana. Raja Bogak kemudian mengutus Panglima Putih sebagai perwakilan masyarakat yang ada di sana.

Para penduduk kemudian berkumpul memadati gelanggang. Mereka menyaksikan pertarungan yang akan menentukan nasib daerah tersebut.

Pertarungan antara pemimpin perompak dan Panglima Putih akhirnya pecah. Pertarungan antara keduanya berlangsung dengan sengit.

Namun kemampuan Panglima Putih memang di atas rata-rata. Tidak ada satupun serangan dari perompak tersebut yang berakibat fatal pada dirinya.

Bahkan Panglima Putih bisa dengan tenang menemukan celah yang bisa dia manfaatkan. Dalam satu kesempatan, Panglima Putih berhasil menangkap kaki pemimpin perompak tersebut.

Dengan sigap Panglima Putih langsung menginjak kaki pemimpin perompak tersebut. Di sisi lain, dia menarik kaki yang satunya lagi hingga badan pemimpin perompak tersebut terbelah menjadi dua bagian.

Satu bagian kaki ini dilempar oleh Panglima Putih ke arah Pulau Pandan. Sementara itu, satu kaki lainnya dilempar ke kubah yang ada di pinggir laut.

Jarak kedua tempat ini cukup jauh dari arena pertarungan. Jarak gelanggang dengan Pulau Pandan adalah 7 km.

Sementara itu jarak gelanggang dengan kubah di pinggir laut adalah 13 km. Konon hingga saat ini masih ada jejak kaki dari perompak yang dibuang oleh Panglima Putih di kedua tempat tersebut.

Berkat kemenangan Panglima Putih ini, akhirnya para perompak tersebut mesti angkat kaki dari sana. Nama Raja Bogak dan Panglima Putih pun makin harum berkat jasanya tersebut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.