Mubadalah.id – Pernahkah kita merasa reaksi seseorang tampak tidak sebanding dengan persoalan yang sedang ia hadapi? Ada yang langsung marah ketika mendapat kritik kecil. Lalu, ada yang memilih menghindar setelah terjadi perbedaan pendapat. Ada pula yang begitu takut ditinggalkan hingga terus-menerus mencari kepastian dari orang yang ia cintai.
Sekilas, respons seperti itu terlihat berlebihan. Tidak jarang orang kemudian diberi cap “terlalu baper”, “tidak dewasa”, atau “drama”. Padahal, di balik reaksi tersebut bisa jadi ada pengalaman yang belum benar-benar selesai.
Belakangan, kondisi ini sering kita kaitkan dengan istilah inner child. Sederhananya, inner child adalah bagian dari diri yang menyimpan pengalaman, kenangan, dan emosi semasa kecil. Pengalaman itu tidak selalu buruk, tetapi ada kalanya meninggalkan luka yang ikut memengaruhi cara seseorang merespons keadaan ketika telah dewasa.
Reaksi yang Sering Berasal dari Luka Lama
Setiap orang membawa cerita hidup yang berbeda. Ada yang tumbuh di lingkungan penuh kehangatan, ada pula yang lebih akrab dengan bentakan, tuntutan, atau pengabaian. Pengalaman-pengalaman itu perlahan membentuk cara seseorang memahami diri dan orang lain.
Misalnya, seseorang yang sejak kecil sering merasa tidak didengar bisa menjadi sangat sensitif ketika pendapatnya terabaikan. Ada pula yang terbiasa mendapatkan kasih sayang secara tidak konsisten sehingga selalu dihantui rasa takut kehilangan. Akibatnya, persoalan kecil dalam hubungan dapat terasa jauh lebih besar daripada yang sebenarnya.
Bukan berarti setiap kemarahan atau kesedihan pasti disebabkan oleh inner child. Namun, memahami bahwa pengalaman masa lalu dapat memengaruhi respons hari ini membuat kita lebih berhati-hati sebelum menghakimi diri sendiri maupun orang lain.
Menjadi Dewasa Bukan Berarti Semua Luka Selesai
Usia yang bertambah tidak selalu sejalan dengan pulihnya luka batin. Banyak orang mampu menjalani pekerjaan, membangun rumah tangga, bahkan mengasuh anak, tetapi masih kesulitan mengelola emosinya.
Hal ini terlihat ketika seseorang mudah tersinggung oleh kritik, merasa tidak pernah cukup baik meski telah berusaha keras, atau terus membutuhkan pengakuan dari orang lain agar merasa berharga. Reaksi seperti ini sering terpahami sebagai sifat buruk. Padahal bisa jadi merupakan cara seseorang bertahan dari pengalaman yang pernah melukainya.
Menyadari hal tersebut bukan berarti membenarkan setiap perilaku yang menyakiti orang lain. Luka masa lalu dapat membantu kita memahami penyebab suatu reaksi, tetapi bukan alasan untuk terus melukai orang di sekitar. Justru dari kesadaran itulah seseorang dapat mulai belajar mengelola emosinya dengan lebih sehat.
Dalam Islam, setiap orang didorong untuk melakukan muhasabah, mengenali diri sendiri, dan terus memperbaiki akhlak. Proses menjadi pribadi yang lebih baik tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah, tetapi juga dengan cara kita memperlakukan sesama.
Sering kali kita tidak dapat memilih pengalaman apa yang pernah terjadi dalam hidup. Akan tetapi, kita dapat memilih bagaimana akan meresponsnya hari ini. Ketika merasa marah, kita bisa belajar berhenti sejenak sebelum berbicara.
Lalu, ketika muncul rasa takut tertolak, kita dapat mencoba membedakan antara pengalaman masa lalu dan kenyataan yang sedang kita hadapi. Saat menerima kritik, kita berlatih mendengarkan tanpa buru-buru menganggapnya sebagai serangan terhadap harga diri.
Proses ini tentu tidak berlangsung dalam semalam. Ada kalanya kita kembali bereaksi secara spontan. Namun, setiap kali mampu mengenali emosi sebelum emosi itu menguasai diri, kita sedang mengambil satu langkah menuju kedewasaan.
Menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah terluka. Menjadi dewasa adalah keberanian untuk mengenali luka tersebut, tidak membiarkannya mengendalikan hidup, dan tidak menjadikannya alasan untuk menyakiti orang lain. Sebab, kedewasaan bukan kita ukur dari usia, melainkan dari kesediaan untuk terus belajar memahami diri sekaligus menghadirkan kebaikan bagi orang-orang di sekitar. []





Comments are closed.