Dampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat November tahun lalu belum pulih hingga kini. Selain menghancurkan infrastruktur, bencana juga merusak ribuan hektar lahan pertanian, dan perkebunan, antara lain, kebun kopi di Aceh. Salman Pedemun, Master Trainer Sustainable Cofee Platform Indonesia (SCOPI) Aceh Tengah, mengatakan, para petani kopi di Aceh Tengah melewati masa krisis pasca bencana banjir bandang, dan kelangkaan BBM. Jaringan internet juga terputus, sudah mulai membaik, tetapi jalur distribusi logistik masih kendala, jembatan-jembatan akses jalan nasional juga belum seutuhnya baik. “Sampai hari ini beberapa jalan produksi menuju ke kebun-kebun petani itu belum bisa dilewati dengan baik, malahan masih ada yang tertimpa longsor dan lain-lain,” katanya, belum lama ini. Pengangkutan hasil panen kopi pada Maret pun terkendala, akses para petani dari kebun-kebun mereka ke titik kumpul di kampung menjadi sulit. Salman bilang, ke depan ini perlu jadi prioritas, minimal ada akses motor untuk mengangkut kopi dari kebun. Saat ini, warga masih fokus terhadap kebutuhan pangan mereka. Sebagai pelatih, Salman merekomendasi wanatani, selain kopi, di kebun kopi ada tanaman lain sembari memperbaiki kebun kopi yang rusak. “Sekarang untuk Kecamatan Kute Panang, saya sedang mencoba untuk tanam padi gugu,” katanya. Dia berharap, para petani terdampak tidak hanya dapat bantuan, juga pendampingan. Sepanjang mata memandang hanya lautan kayu yang terhampar di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Belasan ribu hektar rusak Anshary, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Aceh Tengah, mengatakan, seluas 12.637 hektar dari 52.074 hektar kebun kopi di Aceh…This article was originally published on Mongabay
Menanti Pemulihan Kebun Kopi Terdampak Bencana Sumatera
Menanti Pemulihan Kebun Kopi Terdampak Bencana Sumatera





Comments are closed.