Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Proyek Tanggul Laut Minim Partisipasi Publik

Proyek Tanggul Laut Minim Partisipasi Publik

proyek-tanggul-laut-minim-partisipasi-publik
Proyek Tanggul Laut Minim Partisipasi Publik
service

Pemerintah terus melanjutkan ambisinya untuk membangun tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSA) di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa. Pemerintah perkirakan proyek sepanjang 575 kilometer dari Banten hingga Gresik itu bakal menelan anggaran sekitar US$80 miliar atau sekitar Rp1.280 triliun. Pemerintah berdalih proyek itu sebagai solusi melindungi wilayah pesisir pantura dari banjir rob, penurunan muka tanah, dan kenaikan muka laut. Namun, warga pesisir pantura Jateng tak berpendapat demikian. Sebaliknya, mereka menilai proyek itu sebagai solusi palsu. Sugeng, nelayan Kendal katakan tanggul laut bukan solusi atasi banjir rob dan abrasi. Dia menilai ketika tanggul  sudah terbangun, justru akan menghambat air hujan ke laut dan memperbesar potensi banjir. “Resapan air di gunung sudah tak ada, sudah dikeruk sedalam-dalamnya (dan gundul). Kalau musim hujan dan laut pasang tinggi nanti air laut meluap ke mana? Sekarang di gunung sudah banjir karena gak ada resapan air. Dulu,  air lari ke laut dan sekarang mau dibendung,” katanya. Menurut dia, sudah seharusnya pemerintah provinsi mengedepankan pembangunan dengan mengacu pada rencana tata ruang wilayah (RTRW). Selama ini, banyak ruang yang berubah hanya demi membuka jalan investasi. Sedang fungsi perlindungan ruang terabaikan. “Harusnya RTRW solusi karena yang tahu dampak itu kita sendiri. Kita mau hidup di mana, pesisir terancam, di gunung terancam, peraturan daerah gak ada artinya kalau ada proyek strategis nasional,” katanya. Jamal, nelayan Kota Semarang belum pernah ada sosialisasi pembangunan GSW. Informasi ihwal pembangunan tanggul berasal dari media dan kerap bermunculan di sosial media. Menurutnya pembangunan seharusnya melibatkan warga. Karena yang paham kondisi wilayahnya. Selama ini,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.