Dari sekitar 4.000 spesies ular yang tercatat di dunia, hanya satu yang diketahui benar-benar membangun sarang untuk telurnya, yaitu kobra raja (Ophiophagus hannah). Kebanyakan ular hanya meletakkan telur di lubang alami, celah batu, tumpukan serasah, atau liang bekas hewan lain. Kobra raja berbeda. Betina kobra raja secara aktif mengumpulkan bahan, menyusunnya, dan membentuk struktur sarang yang kokoh sebelum bertelur di dalamnya. Kobra raja adalah ular berbisa terpanjang di dunia, dengan panjang dewasa yang bisa mencapai 3 sampai 4 meter. Spesies ini tersebar dari India hingga Asia Tenggara daratan, termasuk Indonesia bagian barat. Meski bernama kobra, kobra raja sebenarnya bukan anggota genus Naja seperti kobra pada umumnya. Ia adalah satu-satunya anggota genus Ophiophagus, kelompok tersendiri dalam famili Elapidae. Mengapa Kobra Raja Membangun Sarang, Sementara Ular Lain Tidak Sarang berfungsi menjaga suhu dan kelembapan telur tetap stabil. Panas dari proses pembusukan daun di dalam gundukan berperan seperti pemanas alami, membantu suhu inkubasi tetap berada di rentang yang sesuai meski suhu udara di luar berubah ubah. Struktur sarang yang padat dan tertutup daun juga membuat telur lebih sulit ditemukan atau diakses predator seperti biawak, musang, atau ular lain, dibanding bila telur hanya diletakkan begitu saja di serasah terbuka. Betina memilih lokasi dengan drainase baik dan memadatkan gundukan hingga cukup kedap air, karena telur ular rentan gagal berkembang bila terlalu lembap atau terendam saat musim hujan. Karena sarang berbentuk gundukan yang jelas dan tetap, betina juga bisa tinggal di dekatnya sepanjang masa inkubasi, sekitar 75 hingga 100 hari, dan mempertahankannya secara agresif dari gangguan.…This article was originally published on Mongabay
Kobra Raja, Satu-satunya Ular yang Membangun Sarang untuk Telurnya
Kobra Raja, Satu-satunya Ular yang Membangun Sarang untuk Telurnya





Comments are closed.