Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Nyeri endometriosis sering disepelekan, padahal bisa picu disabilitas hingga sulit punya anak

Nyeri endometriosis sering disepelekan, padahal bisa picu disabilitas hingga sulit punya anak

nyeri-endometriosis-sering-disepelekan,-padahal-bisa-picu-disabilitas-hingga-sulit-punya-anak
Nyeri endometriosis sering disepelekan, padahal bisa picu disabilitas hingga sulit punya anak
service

● Endometriosis adalah jaringan di luar rahim yang memicu peradangan sistemik dalam jangka panjang.

● Gejalanya menimbulkan nyeri panggul berkepanjangan, perdarahan banyak, sulit punya anak, hingga disabilitas.

● Rata-rata penyintas membutuhkan 6-8 tahun sejak gejala pertama muncul hingga didiagnosis dengan tepat.


Setiap bulan, banyak perempuan tumbuh besar dengan pesan yang sama:

“Kalau sedang haid dan sakit, ya ditahan saja. Memang begitu, perempuan harus kuat.”

Namun, bagaimana jika rasa sakit itu begitu hebat sampai membuat perempuan sulit berjalan, tidak bisa tidur, tidak mampu bekerja atau belajar, hingga mengganggu hubungan dengan pasangan dan keluarga?

Itulah realitas yang dihadapi penyintas endometriosis, penyakit kronis ketika jaringan mirip dinding rahim tumbuh di luar rahim dan memicu peradangan sistemik dalam jangka panjang. Nyeri menstruasi hebat adalah keluhan paling sering, tapi bukan satu-satunya.

Gejala endometriosis lainnya menimbulkan perdarahan banyak, nyeri panggul nonmenstruasi, nyeri saat berhubungan seksual, gangguan saluran cerna dan kemih berulang, hingga infertilitas (kesulitan memiliki anak). Penyakit ini dapat memengaruhi perempuan remaja sampai usia lanjut, terutama di usia reproduktif.

Endometriosis bukan penyakit langka, melainkan masalah kesehatan global yang luas. Sekitar 10% perempuan usia subur diperkirakan mengalami endometriosis.

Hal yang memprihatinkan, rata-rata penyintas membutuhkan 6-8 tahun sejak gejala pertama muncul hingga akhirnya mendapatkan diagnosis yang tepat.

Selama periode panjang ini, banyak perempuan tetap harus “berfungsi normal” meski hidup dengan rasa sakit yang membatasi gerak dan memicu disabilitas. Dari luar tampak baik-baik saja, tapi sebenarnya mereka menjalani bulan demi bulan dengan kualitas hidup yang kian terkikis.

Nyeri tak terlihat yang ganggu kualitas hidup

Riset tahun 2023 di Asia-Pasifik menunjukkan endometriosis membawa beban fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi yang besar. Nyeri berulang membuat perempuan sulit produktif, yang kemudian memunculkan rasa bersalah karena sering izin atau menurunnya performa kerja.

Ketidakpastian tentang kesuburan menambah kecemasan. Nyeri saat berhubungan seksual menimbulkan ketegangan dalam hubungan.

Sebagian penyintas lantas menarik diri dari pergaulan sosial karena tubuh mereka tidak selalu bisa diajak “mengikuti ritme” orang lain.

Depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan rasa percaya diri tercatat secara signifikan lebih banyak terjadi pada perempuan dengan endometriosis dibandingkan perempuan tanpa kondisi tersebut.

Semua ini bukan semata karena rasa sakit fisik, tetapi karena situasi berulang: tubuh yang terus mengirim sinyal bahaya, sementara lingkungan justru menuntut semuanya terlihat normal.

Endometriosis menimbulkan nyeri panggul berkepanjangan yang bisa membatasi gerak penyintas.

Endometriosis menimbulkan nyeri panggul berkepanjangan yang bisa membatasi gerak penyintas. PaeGAG / Shutterstock

Gejala endometriosis sering dianggap biasa

Konsensus Asia-Pasifik 2023 mengungkap bahwa keterlambatan diagnosis endometriosis bukan hanya soal akses ke fasilitas kesehatan. Anggapan masyarakat mengenai nyeri haid sebagai hal normal juga berperan besar.

Faktor lainnya, tabunya pembicaraan soal menstruasi, ketidaknyamanan orang tua membawa remaja perempuan ke dokter kandungan, serta penggunaan obat pereda nyeri atau pil KB yang justru menumpulkan gejala tanpa mengatasi penyebab.

Selain itu, kecenderungan penyintas “pindah-pindah dokter” karena merasa tak didengar juga bisa memperlambat diagnosis endometriosis.


Read more: Benarkah KB spiral picu kanker payudara? Ini fakta ilmiah yang perlu kamu tahu


Dari sisi tenaga kesehatan, sebagian dokter masih berpegang pada paradigma lama bahwa endometriosis hanya bisa dipastikan lewat operasi laparoskopi alias teknik bedah dengan sayatan kecil untuk mengobati organ di dalam perut dan panggul.

Padahal, kini para ahli obgyn Asia-Pasifik menekankan bahwa diagnosis klinis harus menjadi titik awal, bukan pembedahan. Diagnosis ini dapat diperoleh melalui pendekatan klinis: pemeriksaan gejala dan riwayat menstruasi, disertai pemeriksaan ginekologi dan pencitraan (terutama USG transvaginal atau transrektal).

Cara ini jauh lebih aman dan lebih cepat dalam mengarahkan pasien ke penanganan, dibandingkan melalui operasi.

Pendekatan klinis pun penting bukan hanya untuk mengurangi risiko operasi, tetapi juga karena beberapa temuan penyakit tidak selalu sejalan dengan beratnya nyeri.

Artinya, perempuan yang tidak tampak memiliki kelainan jaringan sekalipun bisa mengalami penderitaan luar biasa, sehingga mereka tetap berhak mendapatkan perawatan sesegera mungkin.

Diagnosis dini bisa pertahankan kualitas hidup

Diagnosis dini endometriosis membawa banyak dampak positif. Validasi medis hadir sebagai titik awal, saat penyintas akhirnya merasa keluhannya diakui, bukan lagi dianggap berlebihan ataupun bayangan semata.

Setelah diagnosis, terapi endometriosis dapat dimulai untuk mengelola nyeri, mengurangi peradangan, menekan perkembangan penyakit, serta mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.


Read more: Riset: polusi udara dan suara berisiko pengaruhi kemampuan reproduksi


Pendekatan ini juga dapat mengurangi jumlah dan kerumitan operasi karena pengobatan tidak tertunda bertahun-tahun.

Bagi perempuan yang ingin hamil, diagnosis dini memberi ruang untuk merencanakan masa depan reproduksi, termasuk mempertimbangkan opsi seperti pelestarian kesuburan jika diperlukan.

Saatnya mengubah cara pandang kita

Konsensus Asia-Pasifik menyimpulkan bahwa peningkatan kesadaran publik dan pelatihan tenaga kesehatan untuk mengenali endometriosis sejak dini adalah kunci mengatasi kesenjangan diagnosis.

Negara-negara di kawasan ini perlu memperbarui pedoman klinis, memperkuat jalur rujukan, meningkatkan pendidikan kesehatan menstruasi di sekolah, melibatkan platform digital untuk edukasi publik, dan menghilangkan stigma terhadap nyeri haid.

Di Indonesia, Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia (HIFERI) telah menyusun pedoman klinis untuk mendiagnosis dan menangani endometriosis, termasuk nyeri kronis yang ditimbulkannya.

Kementerian Kesehatan melalui tenaga kesehatan di puskesmas juga perlu meningkatkan promosi kesehatan dan kampanye terkait endometriosis. Penyebaran informasi dan ajakan untuk memeriksakan diri terkait keluhan-keluhan yang dirasakan pasien akan membantu diagnosis dini dan mempercepat penangan penyakit secara menyeluruh.

Contohnya yang dilakukan Komunitas Endometriosis Indonesia dalam membantu edukasi dan mengadvokasi para penyintas.

Ini bukan sekadar soal memahami penyakit, tetapi mengubah budaya dari “nyeri haid itu wajar dan harus diterima” menjadi “nyeri haid yang mengganggu hidup harus diperiksa secara medis.”

Pada akhirnya, membicarakan endometriosis secara terbuka adalah bentuk solidaritas. Mengakui rasa sakit perempuan adalah langkah awal untuk menghentikan penderitaan yang tidak terlihat ini.

Para penyintas tidak sedang “terlalu sensitif” atau “tidak kuat”, mereka hidup dengan penyakit kronis yang nyata dan layak mendapat perhatian sama seriusnya dengan penyakit kronis lainnya.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.