Fri,7 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Optimisme dan Solidaritas Sosial di Balik Tradisi Rebo Wekasan

Optimisme dan Solidaritas Sosial di Balik Tradisi Rebo Wekasan

optimisme-dan-solidaritas-sosial-di-balik-tradisi-rebo-wekasan
Optimisme dan Solidaritas Sosial di Balik Tradisi Rebo Wekasan
service

Jakarta, NU Online

Salah satu fenomena sosial-keagamaan di Indonesia adalah Rebo Wekasan. Pada hari Rabu terakhir bulan Safar ini, umat Islam Indonesia melakukan berbagai ritual seperti shalat sunnah 4 rakaat, membaca doa khusus, silaturahmi hingga bersedekah.

Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa hari tersebut membawa sial. Pandangan ini disebut merujuk kepada kesaksian sebagian ulama tasawuf melihat turunnya musibah sehingga mereka yang meyakini lantas melakukan berbagai ritual untuk menangkalnya.

Menanggapi arus anggapan tersebut, Peneliti Aswaja NU Center Jember, Abdul Wahab Ahmad dalam Rebo Wekasan, Hari Untung Bukan Buntung menilai bahwa Rebo Wekasan mendatangkan berkah dibanding membawa musibah. Karena, menurutnya, datang atau tidaknya musibah bergantung prasangka seorang hamba.

Pernyataan tersebut, ia alamatkan pada hadits qudsi riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ia juga melihat bahwa pandangannya memiliki landasan aqidah yang kuat, di antaranya dikabulkannya doa Nabi Muhammad pada hari Rabu yang kemudian diikuti oleh sahabatnya ketika mempunyai hajat tertentu. 

“Justru hari Rabu adalah hari di mana doa Nabi dikabulkan setelah sebelumnya berdoa mulai senin di masjid al-Fath. Akhirnya, Sahabat Jabir bin Abdullah apabila mempunyai perkara penting beliau berdoa di hari Rabu di antara shalat Dhuhur dan Ashar,” terang Abdul dikutip Kamis (6/8/2026).

Adalah al-Hafidz as-Syakhawi, seorang ulama yang mengatakan bahwa hari Rabu mendatangkan keberkahan, berdasar perkataan orang-orang saleh yang ditemuinya. Meski bukan hadits, lanjut Abdul, pemaknaan ini banyak diikuti para kiai di pesantren.

Ia menyarankan agar seorang Muslim memilih pesan yang memuat hal-hal positif yang dapat menguatkan optimisme. Pasalnya, hal tersebut dianjurkan Nabi Muhammad daripada tathayyur (mengikuti tanda sial) dan tasya’um (meyakini sesuatu membawa sial).

“Beliau mengajarkan umat Islam untuk ber-tafa’ul, yakni memberi kata-kata positif yang diharapkan terwujud,” kata Wakil Sekretaris PCNU Jember itu, dilanjutkan dengan mengutip hadits tentang Muhammad yang menjelaskan tafa’ul.

Kemudian KH Maimoen Zubair ritual menuturkan bahwa Rebo Wekasan berkenaan dengan sakit yang dialami Nabi Muhammad pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Keterangan ini dikutip dari Kitab Tarikh Muhammadur Rasulullah karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Nabi Muhammad saw sakit selama 12 hari berturut-turut kemudian wafat (arba’ul mustamir). Dalam kondisi seperti itu, Nabi Muhammad berpesan kepada Abu Bakar.

“Bersegeralah bersedekah, karena bala’ dan musibah tidak bisa mendahului amal sedekah. Terutama sedekah kepada anak yatim dan dlu’afa,” tulis Tris Wijaya di dalam artikel Tentang Tradisi Rebo Wekasan.

Ia pun memaknai fenomena Rebo Wekasan sebagai ekspresi kaum muslimin memperkuat ikatan sosial. Salah satunya terlihat dalam acara mengirim apem, makanan berbahan baku tepung beras, ke tetangga dan saudara.

“Tradisi rebo wekasan dengan mengirim apem sebagai simbol atas kesiapan dan kekuatan mental sosial dengan berbagi rasa kepeduliaan bersama (resiliensi sosial),” terang Pengajar di Pondok Pesantren Darul Fikr Arjawinangun, Cirebon itu.

Dengan demikian, menurutnya, fenomena Rebo Wekasan tidak berkaitan dengan ritual keagamaan belaka, melainkan peristiwa budaya yang berfungsi memperkuat sosial serta meneguhkan kesiapan menghadapi musibah atau bencana.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.