Mendung menyelimuti langit Dusun Kulo Dalam, kampung di pedalaman Halmahera Tengah (Halteng) di akhir Oktober tahun 2025. Dusun ini berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata, Kota Tidore Kepulauan. Mereka hidup dari hutan yang tersisa. Selain warga Kulo, ada juga Suku Tobelo Dalam atau O’hongana Manyawa tersebar di kawasan hutan ini. Bedanya, warga Tobelo Dalam tidak membuat perkampungan layaknya seperti warga Kulo. Ada yang mengaitkan warga Kulo dengan Suku Sawai yang hidup di pedalaman atau Sawai Dalam. Meskipun ada beberapa etnis hidup bersama di dusun ini. Sehari-hari mereka juga gunakan bahasa Sawai untuk komunikasi. Untuk ke Kulo Dalam tidaklah mudah. Dari Weda, perlu dua jam perjalanan menggunakan motor ke Desa Kulo Jaya, merupakan desa induk dari Kulo Dalam. Setelah itu, berjalan kaki 20 menit ke tempat tambatan perahu di Sungai Ake Jira. Perahu dan sungai merupakan sarana transportasi utama dari dan menuju Kulo Dalam. Termasuk ketika warga Kulo Dalam belanja kebutuhan sehari-hari dari luar. Perahu berkapasitas 4 PK itu biasa cukup untuk menampung 7-9 orang, termasuk juru mudi. Hari itu, perahu yang kami tumpangi mengangkut tujuh orang, termasuk juru mudi. Perjalanan yang memakan waktu empat jam itu cukup menantang. Apalagi, arus Sungai Ake Jira sangat deras setelah hujan mengguyur daerah hulu. Sepanjang perjalanan, juri mudi mematikan mesin untuk membersihkan kayu dan sampah. “Kondisi normal biasanya empat jam sudah sampai. Tapi, kalau atas hujan deras, biasanya banyak kayu di sungai. Perjalanan bisa lebih lama, bisa 6-7 jam. Bahkan kadang tidak bisa tembus,” kata Yamris Koke, juru mudi perahu berbahan fiber…This article was originally published on Mongabay
Orang Sawai Dalam, Penjaga Hutan Halmahera dari Jerat Industri Nikel
Orang Sawai Dalam, Penjaga Hutan Halmahera dari Jerat Industri Nikel





Comments are closed.