- Kapurut, makanan tradisional berbahan sagu khas Mentawai, semakin terdesak oleh perubahan pola konsumsi masyarakat. Generasi tua masih mempertahankan kapurut sebagai pangan pokok karena lebih mengenyangkan, murah, dan mudah diperoleh, sementara generasi muda mulai beralih ke beras yang dianggap lebih modern.
- Pergeseran dari sagu ke beras tidak hanya mengubah pola makan, tetapi juga mengikis identitas budaya masyarakat Mentawai. Sejak program pemerintah pada era 1970-an memperkenalkan beras sebagai simbol kemajuan, sagu perlahan ditinggalkan, padahal memiliki peran penting dalam sistem kepercayaan Arat Sabulungan, ritual adat, dan kehidupan sosial masyarakat.
- Keberlangsungan sagu sangat bergantung pada kelestarian hutan Mentawai. Berbagai penelitian menunjukkan hampir seluruh bagian pohon sagu dimanfaatkan untuk pangan, bahan bangunan, hingga kebutuhan adat. Namun, perubahan bentang alam akibat alih fungsi lahan dan aktivitas penebangan hutan turut mengancam keberlanjutan sumber pangan sekaligus pengetahuan tradisional masyarakat.
- Meski menghadapi tekanan modernisasi, sagu masih menjadi penopang ekonomi dan ketahanan pangan lokal. Sebagian warga tetap mengolah batang sagu menjadi tepung dan makanan siap santap untuk kebutuhan rumah tangga maupun dijual. Bagi masyarakat Mentawai, mempertahankan sagu berarti menjaga kemandirian pangan, penghidupan, serta warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Tangan Keisha Sapondoro, warga Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai begitu cekatan. Selasa (30/6/26) menjelang senja, dia menggulung adonan tepung sagu ke dalam lembaran daun sagu yang membentuk memanjang sekitar 40 sentimeter. Setelah memberinya sedikit garam, gulungan-gulungan itu dia susun rapi di atas tungku kayu bakar.
Sekitar 30 menit kemudian, aroma daun sagu yang terbakar memenuhi dapur rumahnya. Malam itu, sekitar 20 batang kapurut tersaji bersama lauk sebagai makan malam kami yang menginap di rumahnya. Rasanya gurih alami, berpadu aroma harum daun sagu yang dibakar. Sederhana, tetapi menghadirkan kehangatan yang jarang ada pada makanan lain.
Di banyak daerah di nusantara ini, nasi menjadi makanan pokok yang nyaris tak tergantikan. Namun di pedalaman Kepulauan Mentawai, kapurut masih menjadi bagian dari keseharian sebagian keluarga.
Makanan lokal berbahan dasar sagu itu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan warisan yang menghubungkan masyarakat Mentawai dengan hutan yang selama berabad-abad menopang kehidupan mereka.
Bagi Keisha, kapurut adalah makanan yang membesarkannya. Dia pun ingat betul ketika ketika beras belum menjadi santapan utama masyarakat di kampungnya.
“Dulu sebelum ada beras, kami makan sagu, keladi, sama ubi,” katanya.
Hingga kini dia masih rutin memasak sagu, terutama ketika ada ikan sebagai lauk makan keluarga. “Kalau ada ikan, saya masak sagu. Lebih enak makan kapurut pakai ikan daripada makan nasi.”
Sagu juga membuat rasa kenyang lebih lama ketimbang nasi.
Selain mengolahnya menjadi kapurut, masyarakat Mentawai mengenal berbagai makanan lain berbahan sagu. Salah satunya kombong, adonan sagu yang dimasukkan ke dalam batang bambu, lalu membakarnya.
“Kalau mau bikin kombong, bambunya tinggal ambil di ladang,” ujarnya.
Kemudahan memperoleh bahan baku membuat sagu tetap bertahan sebagai pangan sehari-hari. Pohon-pohon sagu masih tumbuh di hutan maupun di lahan milik warga. Selain itu masyarakat juga menjual tepung sagu yang telah diolah, sehingga warga tak selalu harus mengolah batang sagu sendiri dari hutan.
Bagi Keisha, alasan mempertahankan sagu juga berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Harga tepung sagu jauh lebih murah ketimbang beras. Satu karung tepung sagu berukuran sekitar 10 kilogram rata-rata seharga Rp60.000, sedangkan beras dengan berat sama bisa dua kali lipatnya.
Meski demikian, Keisha mulai melihat perubahan di meja makan keluarganya.
“Anak-anak sekarang lebih suka makan nasi. Sudah tidak mau lagi makan sagu. Kalau kami yang tua-tua ini masih suka makan sagu. Lebih enak dan lebih tahan kenyang.”

Tergantikan beras
Pergeseran makanan pokok di Mentawaitelah berlangsung selama puluhan tahun dan mengubah cara hidup masyarakat. Penelitian Ade Irwandi dan Kris Irwandi Saleleubaja berjudul Dari Sagu ke Beras: Perubahan Kehidupan Sosial Budaya Orang Mentawai dalam Jurnal Masyarakat Indonesia Volume 47 Nomor 2/2021 menjelaskan, perubahan tersebut mulai berlangsung sejak dekade 1970-an.
Saat itu, pemerintah menjalankan berbagai program pembangunan, termasuk pencetakan sawah dan distribusi beras, dengan tujuan mengubah pola konsumsi masyarakat dari sagu menjadi beras. Beras kemudian tidak hanya diperkenalkan sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai simbol kemajuan dan kesejahteraan.
Sebaliknya, sagu yang selama berabad-abad menjadi makanan pokok masyarakat perlahan dipandang sebagai pangan tradisional yang identik dengan kehidupan terbelakang (belum maju). Perlahan-lahan, perubahan itu mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap makanan mereka sendiri.
Padahal, jauh sebelum beras terkenal luas, sagu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Mentawai. Bukan hanya karena mudah memperolehnya dari hutan, tetapi karena seluruh sistem kehidupan masyarakat berkembang bersama pohon sagu.
Penelitian itu menunjukkan, sagu memiliki kedudukan penting dalam Arat Sabulungan, sistem kepercayaan masyarakat Mentawai. Sagu hadir dalam berbagai ritual adat, upacara perkawinan, hingga memiliki makna dalam pandangan kosmologi masyarakat.
Ketika masyarakat mulai meninggalkan sagu, yang berubah bukan hanya isi piring mereka. Tetapi, juga perlahan menggeser praktik budaya yang selama ini terwarisi dari generasi ke generasi.

Perubahan tak hanya terjadi di meja makan, tetapi bentang alam. Sejumlah kebun sagu mulai beralih fungsi menjadi sawah atau lahan tanaman komoditas.
Padahal, menurut Irwandi dan Saleleubaja, kondisi ekologis Mentawai yang didominasi rawa, tanah gambut, serta curah hujan tinggi tidak sepenuhnya cocok untuk pertanian padi sawah, seperti di Pulau Jawa maupun Sumatera daratan.
Para peneliti mengingatkan, jika kecenderungan itu terus berlangsung, yang terancam bukan hanya ketahanan pangan lokal, tetapi juga identitas budaya masyarakat Mentawai yang selama ini tumbuh bersama sagu.
Temuan itu sejalan dengan penelitian Samantha M. Lee, dkk berjudul The Indigenous Uses of Plants from Siberut, Mentawai, Indonesia yang diterbitkan dalam Ethnobotany Research and Applications pada 2021.
Melalui wawancara dengan masyarakat adat di sejumlah desa di Pulau Siberut, para peneliti mendokumentasikan sekitar 50% spesies tumbuhan yang terdapat di pulau itu termanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup.
Tumbuhan sebagai sumber pangan, obat-obatan, bahan bangunan, perlengkapan rumah tangga, alat berburu, hingga kebutuhan ritual adat.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat Mentawai tidak pernah terpisah dari hutan.

Di antara seluruh tumbuhan yang dimanfaatkan, sagu (Metroxylon sagu) menempati posisi paling penting. Tidak hanya empulur batangnya yang diolah menjadi makanan, hampir seluruh bagian pohon termanfaatkan.
Daunnya menjadi atap rumah sekaligus pembungkus kapurut, pelepahnya digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, sementara bagian lain dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Bagi masyarakat Mentawai, satu batang sagu bukan sekadar menghasilkan makanan, tetapi menopang banyak aspek kehidupan.
Penelitian juga menemukan, pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Mentawai. Sebanyak 98% responden menyatakan pengetahuan itu penting dipertahankan karena menjadi penopang kehidupan mereka.
Namun, modernisasi, perubahan gaya hidup, serta berkurangnya ketergantungan terhadap hutan mulai mengancam keberlangsungan pengetahuan tersebut.
Bagi masyarakat Desa Malancan, perubahan itu mulai mereka rasakan. Hutan yang dahulu menyediakan hampir seluruh kebutuhan hidup warga perlahan berubah.
Barnabas Saerejen, tokoh Mentawai mengatakan, hutan di sekitar kampungnya dulu menjadi tempat masyarakat mencari berbagai hasil hutan, seperti manau dan rotan halus, yang dijual untuk menambah penghasilan keluarga.
“Banyak manau yang mati tertimpa kayu. Sekarang sudah susah mencarinya,” katanya.
Menurut dia, perubahan mulai terasa sejak aktivitas penebangan kayu oleh perusahaan masuk ke wilayah hutan di sekitar kampung. Bagi masyarakat Mentawai, hilangnya hasil hutan bukan sekadar berkurangnya sumber ekonomi.
Hutan, katanya, adalah ruang hidup yang menyediakan pangan, bahan bangunan, obat-obatan, hingga berbagai kebutuhan adat. Ketika hutan berubah, sistem kehidupan masyarakat yang bergantung padanya pun ikut berubah.
Di antara semua tumbuhan yang bergantung pada keberadaan hutan itu, sagu menjadi salah satu yang paling penting. Karena itu, bagi masyarakat Mentawai, menjaga hutan bukan hanya soal melindungi pohon-pohon, tetapi juga mempertahankan makanan, pengetahuan, dan cara hidup yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Penopang ekonomi
Meski beras kini menjadi makanan utama bagi banyak keluarga di Mentawai, sagu belum benar-benar ditinggalkan. Di Dusun Sirilanggai, sebagian warga masih mengolahnya, baik untuk kebutuhan keluarga maupun sebagai sumber penghasilan tambahan.
Salah satunya Rolan T. Satanduk. Di sela bekerja mencari kayu, lelaki 47 tahun ini masih rutin mengolah batang sagu menjadi tepung. Baginya, sagu bukan sekadar warisan leluhur, juga sumber nafkah.
“Dijual juga, tapi untuk makan sehari-hari juga. Sama seperti beras, ini makanan kami sehari-hari,” katanya.
Menurut Rolan, satu batang sagu tua dapat menghasilkan 15-17 karung tepung sagu. Tepung itu dia jual sekitar Rp60.000 per karung berukuran lebih 10 kilogram. Sebagian hasil dia simpan untuk kebutuhan keluarga, sisanya jual kepada warga lain di kampung.
Mengolah batang sagu bukan pekerjaan ringan. Awali dengan tebang batang, potong dan parut kemudian peras hingga menghasilkan pati. Setelah dia endapkan dan keringkan, barulah tepung sagu siap mereka jual. Sebagian besar proses itu masih dia lakukan manual.
“Kalau manual, kira-kira dua minggu baru dapat satu karung,” ujar Rolan.
Selain menjual tepung, keluarganya juga mengolah sagu menjadi makanan siap santap yang dijual sekitar Rp10.000 per bungkus. Daun sagu pun tidak dibiarkan terbuang. Sama seperti Keisha, dia manfaatkan daun-daun itu sebagai pembungkus kapurut atau dijadikan atap rumah karena lebih sejuk ketimbang atap seng.
Bagi masyarakat Mentawai, hampir tidak ada bagian pohon sagu yang terbuang. Batangnya menjadi pangan, daunnya menjadi pembungkus makanan dan peneduh rumah, pelepahnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Satu batang menopang banyak sisi kehidupan.
*****
Ikhtiar Komunitas Adat Bonokeling, Pertahankan Pangan Lokal dari Ancaman Gastrokolonialisme





Comments are closed.