Penyakit darah kembali menyerang pohon pisang kepok (Musa balbisiana) petani di Dusun Hoba, Kelurahan Nangalimang, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. Tahun 2021, penyakit yang sama juga mewabah di Pulau Flores. “Sejak tahun lalu, banyak pisang terjangkit dan ditebang. Hanya satu atau dua pohon saja yang buahnya bagus. Sebagian petani, menggantinya dengan jagung,” sebut Lusia Pince, petani pisang di Hoba, Jumat (16/1/2026). Dampaknya, harga jual di tingkat petani mengalami lonjakan. Sebelumnya, harga per tandan berkisar Rp25-35 ribu. Kini, berkisar Rp50-100 ribu per tandan. “Kami jual satu tandan Rp150-200 ribu,” sebut Tadeus Tara, pedagang pisang kepok di Pasar Alok Maumere. Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan, pada April 2024 penyakit darah sudah menyerang tanaman pisang di 10 dari 21 kecamatan. Total luas serangan mencapai 25,62 ha (1,9%) dari total luas lahan sebesar 1.348,63 ha. Tahun 2025, serangan meningkat menjadi 366,62 ha dari total luas lahan pisang 1.142,96 ha. Luas pengendalian hanya 57,46 ha (15,67%). Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) telah melakukan sosialisasi, demonstrasi pengendalian, dan pencegahan penyakit layu bakteri “POPT melakukan uji coba herbisida untuk eradikasi total tandan pisang yang terserang penyakit layu bakteri,” ujar Inosensius Siga, Plt.Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka. Merujuk data BPS NTT, produksi pisang di Sikka pada 2020 sebanyak 823.132 kuintal, lalu anjlok pada 2021 sekitar 284.952 kuintal. Pada 2022 turun menjadi 150.673 kuintal, 2023 (56.329 kuintal0, dan 2024 (125.892,76 kuintal). Buah pisang tersedia sepanjang tahun di Indonesia. Foto: Pixabay/Rattakarn/Free to use Penyebab penyakit darah Penyakit darah pisang/banana blood disease merupakan ancaman nyata, bukan sekadar masalah agronomi…This article was originally published on Mongabay
Penyakit Darah Pisang Bikin Resah Petani NTT
Penyakit Darah Pisang Bikin Resah Petani NTT





Comments are closed.