Mon,20 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Perlu Pemetaan dan Pelibatan Masyarakat Hindari Salah Kaprah Atasi Krisis Iklim

Perlu Pemetaan dan Pelibatan Masyarakat Hindari Salah Kaprah Atasi Krisis Iklim

perlu-pemetaan-dan-pelibatan-masyarakat-hindari-salah-kaprah-atasi-krisis-iklim
Perlu Pemetaan dan Pelibatan Masyarakat Hindari Salah Kaprah Atasi Krisis Iklim
service

  Pemerintah kadang salah kaprah dalam mengatasi masalah yang terjadi di masyarakat, termasuk terkait krisis iklim. Program-program pemerintah tak tepat sasaran, bukan yang benar-benar masyarakat perlukan.  Bahkan, kadang menciptakan masalah baru alih-alih mengatasi persoalan, seperti pembuatan bendungan dengan menggusur lahan-lahan masyarakat hingga mereka kehilangan ruang hidup. Pemerintah harus melibatkan masyarakat dan melihat persoalan iklim dalam tataran lokal karena masing-masing wilayah atau daerah kemungkinan memiliki masalah berbeda dan penanganan tak sama pula. Eni Maryani, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, mengatakan, pemerintah kerap sepihak dalam membuat dan menjalankan program. Pemerintah tidak melibatkan pendapat-pendapat dari masyarakat tapak hingga informasi yang mereka dapat kurang akurat dan tak komprehensif menjawab masalah di lapangan. Solusi-solusi yang muncul, katanya,  hanya berdasar inisiatif individu. Sedang adaptasi memerlukan kelembagaan lokal. Di tataran global dan nasional bila bicara krisis iklim, narasi yang mengemuka adalah tentang emisi karbon dan gas rumah kaca. Istilah-istilah itu, katanya, kurang masyarakat tapak pahami. Sedang di masyarakat tapak, krisis iklim adalah gagal panen, sungai keruh, abrasi, dan semacamnya. “Jadi di sini dikatakan ada mismatch, tidak kesesuaian antara narasi lokal dengan narasi nasional dan global yang seringkali itu justru jadi dasar kebijakan,” kata Maryani dalam seminar publik belum lama ini. Dia menegaskan, setiap komunitas dan individu punya pengalaman sendiri-sendiri tentang krisis iklim jadi dalam mengatasi masalah, jalan keluar bisa jadi berbeda.  Untuk itu, perlu ada pemaknaan bagi pengalaman dan pengetahuan masyarakat. Pengalaman eksternal seseorang atau kelompok mungkin sama, tetapi pengelaman internalnya akan berbeda. Maryani bilang, bila seseorang ingin memahami sikap perilaku orang lain, maka…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.