Tue,14 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya “Mata Kedua” di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya

Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya “Mata Kedua” di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya

ular-laut-zaitun,-ular-yang-punya-“mata-kedua”-di-ujung-ekornya.-ini-fungsinya
Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya “Mata Kedua” di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya
service

Sebagian besar hewan hanya mengandalkan mata untuk mendeteksi cahaya. Namun ular laut zaitun (Aipysurus laevis) berbeda. Spesies yang hidup di perairan terumbu karang Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia ini punya kemampuan tambahan yang jarang dimiliki reptil lain, yaitu merasakan cahaya lewat kulit di ujung ekornya. Kemampuan ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai dermal phototaxis, atau respons terhadap cahaya yang terjadi langsung melalui kulit, tanpa melibatkan organ mata sama sekali. Fenomena ini pertama kali diungkap secara menyeluruh oleh tim peneliti dari University of Adelaide yang dipimpin Jenna Crowe-Riddell. Hasil penelitian mereka terbit di jurnal Molecular Ecology, dengan judul “Phototactic tails: Evolution and molecular basis of a novel sensory trait in sea snakes“. Sebelum penelitian ini, kemampuan serupa memang sempat tercatat pada beberapa hewan air lain seperti ikan dan amfibi, namun belum pernah diteliti secara sistematis pada reptil. Untuk memastikan sejauh mana kemampuan ini tersebar, tim peneliti menguji 17 ekor ular laut dari delapan spesies berbeda. Hasilnya, kemampuan mendeteksi cahaya lewat ekor tidak hanya dimiliki ular laut zaitun, tapi juga ditemukan pada dua spesies lain, yaitu A. duboisii dan A. tenuis. Sebaliknya, lima spesies lain yang diuji, termasuk beberapa dari genus Hydrophis, tidak menunjukkan respons serupa sama sekali. Dari pola ini, peneliti menduga kemampuan tersebut berevolusi pada nenek moyang bersama dari enam spesies dalam genus Aipysurus, atau sekitar 10 persen dari total spesies ular laut yang ada saat ini. Secara biologis, kulit di bagian ekor ular ini mengandung sel-sel yang peka terhadap cahaya, tapi cara kerjanya jauh berbeda dari mata. Sel ini tidak…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.