Thu,23 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Psikolog Ungkap Ciri Kepribadian Perempuan yang Sering Bilang Maaf

Psikolog Ungkap Ciri Kepribadian Perempuan yang Sering Bilang Maaf

psikolog-ungkap-ciri-kepribadian-perempuan-yang-sering-bilang-maaf
Psikolog Ungkap Ciri Kepribadian Perempuan yang Sering Bilang Maaf
service

Jakarta

Kata “maaf” sering kali terucap secara spontan, bahkan saat Bunda tidak melakukan kesalahan. Misalnya, ketika tidak sengaja tersenggol orang lain, ingin menyampaikan pertanyaan dalam rapat, atau menghadapi keadaan yang sepenuhnya di luar kendali.

Banyak orang menganggap kebiasaan tersebut sebagai bentuk kesopanan dan sikap menghargai orang lain.

Namun, terlalu sering meminta maaf dalam situasi yang sebenarnya tidak memerlukan permintaan maaf juga bisa memiliki makna lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut psikolog, respons tersebut dapat muncul secara otomatis karena telah terbentuk sejak lama. Kebiasaan ini pun diyakini dapat mencerminkan karakter dan pola kepribadian seseorang, Bunda.

Dilansir The Times of India, psikolog mengungkap beberapa ciri kepribadian perempuan yang sering minta maaf.

1. Harga diri bergantung pada orang lain

Kebiasaan meminta maaf terus-menerus sering dikaitkan dengan kebutuhan akan validasi dari luar.

Para peneliti kesehatan mental mengungkap bahwa pola ini biasanya berakar sejak dini, di rumah-rumah, di mana kasih sayang terasa bersyarat, sesuatu yang harus Bunda peroleh melalui perilaku baik.

2. Mudah bergaul dan jujur

Sifat mudah bergaul sering mendapat reputasi buruk, tetapi sebenarnya itu bukan kelemahan. Justru sifat inilah yang membuat Bunda terlihat hangat, kooperatif, dan pandai membangun hubungan.

Masalah mulai muncul ketika sifat mudah bergaul yang tinggi berpasangan dengan ketegasan yang rendah atau kecemasan, saat itulah hal itu berubah menjadi apa yang disebut para peneliti sebagai akomodasi kompulsif, yakni terus-menerus minta maaf.

3. Takut dianggap berlebihan

Ucapan “maaf” menjadi semacam pelindung untuk mengantisipasi penilaian orang lain, baik saat melakukan kesalahan, meminta bantuan, maupun sekadar menyampaikan pendapat dalam percakapan.

Sejumlah penelitian mengaitkan kebiasaan ini dengan rasa takut dianggap sebagai orang yang sulit atau merepotkan.

Pola tersebut sering kali terbentuk karena mereka terbiasa merasa bahwa penerimaan atau penghargaan dari orang lain harus diperoleh dengan selalu bersikap menyenangkan dan tidak merepotkan.

4. Mampu membaca suasana

Perempuan yang suka minta maaf biasanya memiliki tingkat empati yang tinggi dan lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Hal ini sejalan dengan studi berjudul Associations between Empathy and Big Five Personality Traits among Chinese Undergraduate Medical Students yang dipublikasi di PMC PubMed Central.

Studi tersebut menemukan bahwa empati berkaitan erat dengan sifat agreeableness (keramahan), salah satu dimensi dalam teori kepribadian Big Five. Masalahnya adalah rasa bersalah menyelinap masuk dengan cepat, bahkan ketika Bunda sama sekali tidak melakukan kesalahan.

5. Selalu berusaha menyenangkan orang lain

Para psikolog tidak menganggap perilaku people pleaser sebagai kekurangan. Mereka melihatnya sebagai kebiasaan yang dipelajari, sesuatu yang didapat dari lingkungan sekitar, didikan, dan ketidaknyamanan dalam menghadapi konflik.

Di suatu titik, kata “maaf” menjadi jalan pintas untuk menjaga perdamaian, cara untuk meredakan situasi sebelum ketegangan meningkat.

6. Menganggap suatu situasi sebagai sesuatu yang perlu dimintai maaf

Penelitian dalam jurnal Psychological Science menemukan bahwa perempuan lebih sering menganggap situasi sehari-hari, seperti terlambat beberapa menit, meminta bantuan, atau merasa merepotkan orang lain, sebagai hal yang layak diakhiri dengan ucapan “maaf”.

7. Tumbuh dengan tekanan

Terdapat tekanan diam-diam dan tak terucapkan pada perempuan untuk menjadi penyayang, kompetitif, dan disukai tanpa usaha, semuanya sekaligus, tanpa perlu berusaha terlalu keras.

Sebuah penelitian menemukan bahwa ketika tidak mungkin untuk menjadi ketiganya sekaligus, kebanyakan perempuan tidak menyalahkan ekspektasi. Namun, malah menyalahkan diri sendiri.

Rasa itu tidak hilang seiring bertambahnya usia. Hal tersebut hanya muncul dalam bentuk ucapan “maaf” yang spontan.

Nah, itulah beberapa ciri kepribadian perempuan yang suka bilang “maaf”. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/pri)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.