Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

ramadan,-lingkungan-dan-jihad-an-nafs
Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs
service

Mubadalah.id – Beberapa waktu lalu, Senin 9 Februari 2026, masyarakat 4 desa di Tirto Pekalongan melancarkan aksi protes di kantor kecamatan. Aksi ini dipicu kejenuhan warga karena banjir telah merendam permukiman selama lebih dari tiga pekan dan tidak ada keseriusan dari pemerintah. Warga menuntut pemerintah daerah meningkatkan status dari siaga bencana menjadi tanggap darurat serta menghadirkan solusi konkret, terutama penyediaan rumah pompa dan perbaikan tanggul.

Selang beberapa jam kemudian, dan keesokan harinya, datanglah beberapa tambahan pompa portable yang dikirim oleh pemerintah Jawa Tengah, sehingga banjir pada akhirnya perlahan cepat surut. Batin saya “jika tidak didemo warga, mungkin banjir di desa masih menggenang hingga kini”. Kenapa nunggu didemo dulu baru pemerintah bergerak sat set? Mengapa tidak dari hari-hari sebelumnya mengerahkan banyak pompa portable untuk menyedot air banjir dari pemukiman penduduk?

Hampir satu bulan lamanya banyak warga menderita dan tidak bisa kerja. Beruntungnya, saat ini, meskipun di beberapa titik masih ada genangan air, tapi sebagian lainnya air sudah surut. Di sekitar tempat tinggal saya air banjir sudah mulai berkurang, menyisakan sedikit genangan air di halaman rumah. Saya tentu merasa senang sebab Ramadan kali ini dapat khusyuk menjalankan amanah ilahi tanpa harus terbayang-bayangi persoalan banjir yang tiada habisnya. 

Saya lebih bisa fokus melaksanakan perintah sang maha kuasa, salah satunya mengendalikan diri dari hawa nafsu yang terkadang merongrong diri kita setiap saat. Kita meyakini, di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, Ramadan dan lingkungan datang sebagai pengingat abadi akan kekuatan pengendalian diri. 

Ramadan Jaga Lingkungan

Ramadan datang setiap tahun sebagai bulan suci penaklukan diri. Bulan penuh berkah. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi melatih kendali atas hawa nafsu: nafsu makan, nafsu amarah, hingga nafsu keserakahan. Al-Qur’an menyebutnya sebagai “jihad an-nafs,” perjuangan melawan diri sendiri yang paling mulia.

Konsep ini relevan banget di era sekarang, di mana hawa nafsu tak terbatas justru dapat mengakibatkan kehancuran. Kerusakan lingkungan adalah satu contoh dari sikap diri manusia yang abai terhadap keberlanjutan ekologis. Dari kebijakan pemerintah yang ambisius hingga praktik pertambangan liar. Bayangkan, betapa ironisnya jika bulan suci ini kita lewati tanpa merefleksikan bagaimana nafsu serakah kita ikut membinasakan bumi yang Allah titipkan.

Fenomena kerusakan lingkungan di Indonesia makin nyata, tepat di depan mata kita. Lihat saja deforestasi di Sumatera, Kalimantan dan Papua akibat tambang nikel dan batubara. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, pada 2024 saja, lahan kritis mencapai 12,7 juta hektar, sebagian besar karena ekspansi pertambangan. Lalu kita melihat di Jawa Tengah, longsor dan banjir selalu menyapa warga setiap tahunnya. Belum lagi krisis iklim, tanah bergerak, dan lain-lain.

Jaga Bumi, Jaga Puasa

Kebijakan pemerintah yang memprioritaskan target ekonomi seringkali juga mengorbankan lingkungan. Contohnya, proyek food estate di Papua yang justru memicu kekhawatiran erosi tanah dan banjir bandang. Di sisi lain, masyarakat lokal pun terjebak nafsu instan: pembakaran hutan untuk lahan sawit, illegal logging, hingga pembuangan sampah sembarangan. Semua ini akarnya sama, hawa nafsu yang tak dijaga. Orang-orang rela merusak alam demi untung cepat, lupa bahwa bumi ini amanah dari Tuhan.

Ramadan mengajak kita melihat paralel ini. Puasa mengasah kesabaran, melatih menahan lapar, haus, dan amarah, begitu pula menjaga alam butuh pengendalian nafsu keserakahan. Saat matahari terik menggoda kita untuk minum, kita harus selalu ingat: “Sesungguhnya orang-orang yang menahan diri akan mendapat pahala besar” (QS. Az-Zumar: 10). 

Nafsu untuk menebang pohon demi uang, membuang limbah demi efisiensi, atau membuat kebijakan longgar yang menguntungkan oligarki dan korporasi, itu semua harus dijaga seperti kita jaga puasa. Jika Ramadan bisa menjinakkan perut yang keroncongan, mengapa tak bisa menjinakkan tangan yang ingin merusak sungai dan hutan?

Apa Kata Tokoh Muslim Klasik?

Tokoh Muslim klasik pun punya teori kuat soal ini. Ibnu Taimiyah (w. 1328 M), misalnya. Ulama besar kelahiran Harran Turki, dalam karyanya Majmu’ Fatawa menekankan bahwa manusia adalah khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Menurutnya, merusak alam sama dengan merusak amanah, dosa besar yang lahir dari hawa nafsu syaithaniyah (nafsu setan). Manusia harus menjaga keseimbangan alam seperti menjaga shalat: nafsu duniawi harus ditekan agar tak merusak ciptaan Allah.

Sementara itu, Imam Al-Ghazali (w. 1111 M) dalam Ihya Ulumuddin lebih dalam lagi. Ia membagi nafsu menjadi tiga: nafsu amarah (keserakahan), nafsu syahwat (kenikmatan instan), dan nafsu makan (konsumsi berlebih). Semua ini, kata Ghazali, harus dimurnikan melalui riyadhah (latihan spiritual) seperti puasa Ramadan. 

Lantas bagaimana kaitannya dengan alam? Ghazali bilang, “Jika manusia tak kendalikan nafsu, bumi akan jadi neraka.” Pernyataan Al-Ghazali sangat relevan jika kita tarik untuk melihat konteks sekarang. Kita bisa lihat, makin kesini, kita makin tersuguhi jeritan bumi, seperti tanah gersang, udara beracun, hingga krisis air bersih. Ramadan jadi momen riyadhah kolektif: kurangi konsumsi plastik sekali pakai, hemat air saat wudhu, rawat pohon, hingga matikan lampu jika sudah tak terpakai.

Di Indonesia, pemikiran ini relevan dengan kearifan lokal. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dalam risalahnya menekankan rahmatan lil alamin yakni Islam rahmat bagi semesta. Ia ajarkan bahwa menjaga lingkungan adalah ibadah, bagian dari menjaga nafsu.

Ramadan mengajari kita puasa dari dosa lingkungan, seperti puasa dari ghibah. Peristiwa tambang ilegal di Sulawesi Tenggara, yang picu longsor dan pencemaran air, bisa dicegah jika pejabat dan pengusaha ‘puasa’ dari nafsu korupsi.

“Puasa Rusak Lingkungan”

Saya kira Ramadan perlu kita jadikan momentum aksi nyata. Kampanye “Puasa Rusak Lingkungan”, atau setidaknya kita dapat ambil peran dalam menjaga bumi yang sudah memberikan kita banyak hal. Selain itu, masjid sebagai pusat peribadatan perlu kiranya jadi pusat edukasi lingkungan. Para ulama yang ceramah, kajian subuh, ngaji sore, yang tergelar selama Ramadan, perlu kiranya agar sesekali menekankan tema tentang “pentingnya manusia dalam memelihara bumi.” 

Ramadan bukan cuma soal ganjaran surga, tapi transformasi sosial. Jika kita bisa kendalikan hawa nafsu pribadi, mengapa tak terapkan pada nafsu kolektif yang merenggut hutan dan sungai? Mari jadikan bulan ini titik balik: dari pemusnah lingkungan jadi penjaga bumi.

Seperti kata Jalalludin Rumi, “Luka adalah tempat masuknya cahaya”. Kalimat ini menggambarkan bahwa penderitaan atau kesulitan hidup justru menjadi celah bagi pencerahan spiritual dan transformasi diri. Puasa melatih kita terima luka alam demi sembuhkannya.

Puasa memperkuat zuhud dan mahabbah terhadap ciptaan Tuhan, mendorong tadabbur alam agar manusia bertindak sebagai khalifah yang menjaga lingkungan melalui hidup hemat, bersih, dan cinta makhluk hidup.

Selamat menunaikan ibadah, semoga Ramadan mubarak jadi bulan jihad nafsu demi bumi lestari. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.