Jakarta, Arina.id — Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahrudin Faiz, mengingatkan pentingnya memilih lingkungan pertemanan yang mampu mendukung perjalanan spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah.
Menurutnya, sahabat dan relasi memiliki pengaruh besar terhadap kualitas iman dan arah kehidupan seseorang.
Dalam kajian tasawuf–filsafatnya, Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa para sufi sejak dahulu selalu menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjalani proses mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itu, lahirlah tradisi tarekat atau persaudaraan spiritual sebagai ruang saling menguatkan dalam kebaikan.
“Nah, penting juga kita mencari sahabat, teman, relasi yang mendukung jalan kita. Makanya para sufi itu selalu menganjurkan mencari guru, mencari teman, murid sama-sama bareng-bareng. Nanti yang dari situ lahir tarekat-tarekat. Jadi apa? Mudah kalau bareng-bareng,” kata Fahrudin Faiz dalam tayangan di akun YouTube Mengaji Hening diakses Minggu (10/5/2026).
Fahrudin Faiz.mencontohkan suasana puasa yang terasa lebih ringan ketika dijalani bersama-sama dibandingkan sendirian. Menurutnya, kebersamaan dalam ibadah akan melahirkan semangat kolektif yang saling menguatkan.
“Kalau kita sedang puasa kalau bareng-bareng kan enak. Tapi kalau puasa sendirian kan berat. Di rumah bertiga, berempat, berlima saya puasa sendirian. Itu kan berat. Tapi kalau di rumah berlima puasa semua kan enak,” lanjutnya.
Karena itu, ia mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan orang-orang yang jauh dari nilai ketakwaan sebagai lingkungan utama dalam pergaulan sehari-hari. Dalam pandangannya, lingkungan yang buruk dapat memengaruhi cara seseorang memandang dosa dan kesalahan.
“Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu dan pembicaraannya tidak membimbing ke jalan Allah,” katanya.
Fahrudin Faiz menilai, pertemanan yang salah dapat membuat seseorang merasa nyaman dalam keburukan. Ia menggambarkan bagaimana seseorang bisa menganggap kesalahan kecil sebagai sesuatu yang wajar karena terbiasa berada di lingkungan yang lebih buruk darinya.
“Boleh jadi engkau berbuat buruk, tetapi tampak olehmu sebagai kebaikan lantaran engkau bersahabat dengan orang yang tingkah lakunya lebih buruk darimu,” ujarnya.
Ia memberi contoh sederhana tentang budaya menormalisasi kebohongan kecil atau tindakan curang karena melihat ada orang lain yang melakukan kesalahan lebih besar. Menurutnya, kondisi semacam itu berbahaya karena menciptakan hijab atau jarak antara manusia dengan Allah.
“Kadang-kadang ada teman itu kan yang alah cuma nyontek sedikit aja gak apa-apa. Alah, bohong kecil aja. Saya kalau bohong urusan gede-gede, kamu gitu aja kok gelisah. Itu kan membuat kita kemudian merasa nyaman dalam keburukan,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak menunda berbuat baik dan mulai menjalani perubahan sejak sekarang, meskipun dilakukan secara bertahap. Sebab, manusia tidak pernah mengetahui batas usia dan kapan kesempatan hidup berakhir.
“Kalau bisa teman-teman kalau sadar kebenaran kebaikan dan kita mampu mewujudkannya, melakukannya, yo ayo kita mulai sekarang ya tentu saja step by step, setahap demi setahap,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Fahrudin Faiz juga mengutip pandangan sufi besar Syekh Ibnu Athaillah tentang pentingnya tidak bergantung pada keadaan, baik saat lapang maupun sempit. Menurutnya, manusia tidak boleh terjebak pada situasi menang atau kalah karena semua keadaan dipergilirkan Allah agar manusia hanya bergantung kepada-Nya.
“Allah melapangkan keadaan engkau tidak selalu dalam kesempitan. Dan Allah menyempitkan keadaanmu agar engkau tidak selalu dalam kelapangan dan dia melepaskanmu dari keduanya agar engkau tidak bergantung pada sesuatu selainnya,” tutur Fahrudin Faiz mengutip hikmah Ibnu Athaillah.
Ia menegaskan bahwa kehidupan memang sengaja dipenuhi pergantian keadaan agar manusia tidak bersandar kepada selain Allah. Menurutnya, sikap istiqamah dan keteguhan hati menjadi kunci dalam menempuh jalan cinta kepada Tuhan.





Comments are closed.