Arina.id – Serangan militer Israel ke Kota Gaza dan Kota Khan Younis sejak Sabtu pagi, 31 Januari 2026, telah menewaskan 31 orang. Serangan ini dilakukan di tengah gencatan senjata antara Israel dengan Hamas.
Data kematian warga ini disampaikan sumber medis kepada AlJazeera, di mana sedikitnya 31 warga Palestina , termasuk enam anak-anak, telah tewas dalam serangan tersebut. Beberapa video serangan tersebut dibagikan Aljazeera dalam siaran langsungnya dari lokasi.
Kekerasan ini terjadi sehari sebelum Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan Rafah, yang menghubungkan Gaza dengan Mesir, pada hari ini, Minggu 1 Februari 2026, untuk pertama kalinya sejak Mei 2024.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan lebih dari 500 warga Palestina telah tewas oleh pasukan Israel sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat di Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober.
Perang genosida Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 71.769 orang dan melukai 171.483 orang sejak dimulai pada Oktober 2023. Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, dengan sekitar 250 orang ditawan.
Sementara itu, seorang analis dari Forum Palestina, Walid Habbas mengatakan pemerintah Netanyahu memiliki visi jangka panjang untuk Gaza yang dibangun di atas pengusiran dan fragmentasi wilayah tersebut.
Menurut dia, pendekatan pemerintah Israel terhadap Gaza bertumpu pada pengusiran penduduk atau membagi Jalur Gaza menjadi dua wilayah: satu di bawah kendali Israel, lainnya hidup di tengah kekacauan dan kehancuran di bawah kekuasaan Hamas, dalam upaya untuk mendorong penduduk untuk berbalik melawan kelompok tersebut.
Ia mengatakan konsep ini menjelaskan skala eskalasi dan korban jiwa saat ini dan menguraikan hubungan masa depan yang ingin diterapkan Israel di Gaza. Pada fase kedua dari perjanjian saat ini, Habbas berpendapat, Israel mengakui kesulitan melucuti senjata Hamas.
“Dan menggunakan pelucutan senjata sebagai dalih untuk memperkuat kebebasan bertindak militernya di dalam Jalur Gaza untuk mengejar tujuan politik, termasuk membentuk kembali pemerintahan Palestina dan mengelola mediator regional,” katanya.





Comments are closed.