Mubadalah.id – Suatu hari, seorang perempuan datang kepada Nabi di tengah kerumunan para sahabat. Perempuan itu tidaklah datang sendirian. Ia datang sebagai suara kolektif perempuan pada zamannya.
Namanya Asma binti Yazid al-Ansariyah.
Ia mengadu. Atau barangkali lebih terkesan sebagai gugatan halus. Ia berkata, “Kami, para perempuan, tinggal di rumah, mengurus kalian, melahirkan anak-anak kalian. Sementara kalian, laki-laki, punya kesempatan salat Jumat, berjamaah, menjenguk orang sakit, mengurus jenazah, berhaji, bahkan berjihad. Lalu, bagaimana dengan kami? Apakah kami tidak mendapat bagian pahala yang sama?”
Pertanyaan yang cukup berani, mengingat kalimat itu terlontarkan pada zamannya. Dan belakangan, bisa kita maknai secara luas dan signifikan tentang “bagaimana Islam memandang kerja yang tidak terlihat?”
Lebih menariknya, Nabi tidak membungkam suara Asma. Tidak pula melabelnya banyak protes. Beliau justru menoleh kepada para sahabat dan berkata sarat apresiasi,“Pernahkah kalian mendengar pertanyaan perempuan yang lebih baik dari ini?”
Sejak awal, hadis ini bukan tentang kepatuhan. Hadis ini adalah wajah dari keberanian perempuan bertanya soal keadilan.
Perempuan, dan Dunia yang Suka Membandingkan
Jika Asma hidup hari ini, mungkin ia tidak perlu berjalan jauh untuk menemukan ketimpangan. Ia cukup membuka media sosial. Di sana, perempuan masih saja dipertemukan dalam dua kubu yang seolah harus saling mengalahkan: Ibu rumah tangga vs Ibu bekerja
Yang satu ditanya: “Kenapa nggak kerja?” Lalu lainnya mendapat pertanyaan: “Kalau ditinggal kerja, Anaknya sama siapa?”
Tak jarang menggiring stigma bahwa yang tinggal di rumah anggapannya kurang produktif. Atau yang bekerja dianggap kurang hadir dalam pertumbuhan dan kebutuhan keluarga.
Padahal yang satu sedang menjaga kehidupan dari dalam, sedang yang lain sedang memperluas kehidupan dari luar. Keduanya bekerja. Hanya saja, kita masih belum sepakat apa itu “kerja”.
Mengukur Nilai dengan Standar yang Salah
Kita terlalu sering mengukur hidup dengan parameter yang dangkal. Di mana ia bekerja? Berapa penghasilannya? Berapa besar pencapaiannya?
Padahal Al-Qur’an sudah lama membatalkan logika itu. Dalam QS. Al Hujurat ayat 13 disebutkan “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13)
Dan dalam QS An-Nahl:97 juga mengatakan dengan jelas bahwa “Siapa yang beramal saleh, laki-laki atau perempuan, dalam keadaan beriman, maka akan Kami berikan kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl: 97)
Tidak ada keterangan tentang bekerja di luar lebih baik atau yang di rumah lebih berharga. Yang ada hanya satu ukuran: amal dan ketakwaan.
Kerja Domestik: Pekerjaan yang Dianggap Ringan oleh yang Tidak Menjalankannya
Masalahnya hari ini adalah kerja domestik dianggap ringan oleh mereka yang tidak pernah benar-benar mengerjakannya. Mengurus rumah bukan sekadar “di rumah”. Mengurus rumah Adalah skill manajemen waktu tanpa jam pulang. Kemampuan mengatur emosi tanpa jeda. Dan Upaya berkompromi untuk mengatur sebuah kehidupan tanpa penghargaan tetap.
Dan Nabi menyebutnya sebagai kepemimpinan:
“Perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari-Muslim)
Nabi menyebutnya Pemimpin. Bukan sekadar pelengkap.
Sayangnya, dalam praktik sosial, status itu sering direduksi menjadi: “cuma ibu rumah tangga.”
Kata “cuma” itulah yang perlu kita curigai karena selain merendahkan perannya, ia juga merendahkan cara berfikir.
Ibu Bekerja: Antara Dedikasi dan Tuduhan
Di sisi lain, perempuan yang bekerja kerap menjalani kehidupan dalam “dua shift” sekaligus. Ruang profesional dan ruang domestik. Keduanya menuntut energi, waktu, dan tanggung jawab yang tidak sedikit. Namun ironisnya, upaya tersebut sering kali masih terpandang belum cukup di mata sebagian orang.
Padahal, pilihan perempuan untuk bekerja tidak lahir dari kehampaan makna. Ia berangkat dari beragam tujuan yang luhur. Memenuhi kebutuhan ekonomi, menjawab panggilan intelektual, hingga kesadaran bahwa potensi diri adalah amanah yang tidak semestinya terbatasi hanya pada satu ruang kehidupan.
Dalam kerangka ini, kerja bukan semata aktivitas duniawi, melainkan juga bagian dari ikhtiar kebermaknaan hidup yang terakui secara spiritual. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian” (QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap kerja yang berlandaskan niat yang baik dan kita jalankan dengan integritas, memiliki nilai di hadapan Tuhan, tanpa memandang siapa yang melakukannya.
Masalahnya bukan pada perempuan yang bekerja. Masalahnya adalah ekspektasi sosial yang masih menempatkan seluruh beban domestik di pundak perempuan seolah itu kodrat yang tidak bisa kita negosiasikan.
Membaca Ulang Hadis Asma: Dari Kepatuhan ke Kesalingan
Ketika Nabi menjawab pertanyaan Asma, beliau menyampaikan bahwa kualitas relasi seorang istri terhadap suaminya dapat bernilai setara dengan amal-amal besar lainnya. Namun, tidak jarang hadis ini kita pahami secara sempit. Seolah-olah jalan perempuan menuju pahala hanya bertumpu pada “kerelaan untuk menyenangkan suami”.
Pembacaan seperti ini sesungguhnya problematis, karena mengabaikan konteks etis yang lebih luas dalam ajaran Islam. Dalam perspektif mubādalah sebagaimana yang Faqihuddin Abdul Kodir sampaikan, bahwa hadis tersebut justru harus kita pahami sebagai prinsip relasi yang bersifat timbal balik (resiprokal), bukan satu arah.
Artinya, jika membahagiakan pasangan bernilai besar di hadapan Allah, maka nilai tersebut berlaku bagi kedua belah pihak. Relasi suami-istri tidak terbangun di atas logika pengabdian sepihak, melainkan atas dasar saling memuliakan dan bekerja sama.
Dengan demikian, suami juga memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk membahagiakan istri. Kerja domestik bukan kodrat tunggal perempuan, akan tetapi tanggung jawab bersama. Keberhasilan dan keharmonisan keluarga adalah hasil kontribusi kolektif, bukan prestasi sepihak
Prinsip ini sejalan dengan penegasan Al-Qur’an dalam Al-Qur’an:
“Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka” (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menghadirkan metafora yang kuat tentang relasi suami-istri adalah relasi yang saling melindungi, menghangatkan, dan menutupi kekurangan satu sama lain. Dengan demikian, nilai kebaikan dalam rumah tangga tidak pernah bersifat sepihak, akan tetapi selalu lahir dari praktik saling memberi dan saling menjaga.
Relasi, bukanlah hierarki.
Kesalingan, bukanlah kepatuhan sepihak.
Apakah Selama Ini Kita Salah Fokus?
Kita sibuk membandingkan: mana yang lebih baik, ya? Apakah ibu rumah tangga atau ibu bekerja? Padahal pertanyaan yang lebih mendesak adalah “apakah kita sudah menciptakan sistem yang adil bagi keduanya?”
Karena pada akhirnya, bukan soal di mana perempuan berada. Baik di dapur maupun ruang kerja keduanya sama saja. Asal keduanya kita beri kesempatan untuk bisa memaksimalkan potensinya. Juga kita hargai atas kerja yang ia lakukan. Dan tidak kita biarkan menanggung semuanya sendirian
Barangkali, itulah jawaban yang sedang Asma cari berabad-abad lalu.
Dan siapkah kita hari ini menjawab dengan adil dan bijaksana? Wallahu A’lam. []





Comments are closed.